BELI SATU GRATIS AKU


Sebuah cerpen

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen  #Mycupofstory diselenggarakan oleh Giordano dan Nulisbuku.com 



Mira lama benar. Kakiku sampai kesemutan menunggunya di dekat tiang listrik. Mana hari hujan lagi. Takutnya nih, si tiang mengeluarkan setrumnya. Tapi mau menunggu dimana lagi. Tiang listrik ini posisi yang pas untuk mengamati kedai kopi itu. Yang kopinya kuidamkan sejak dulu. 

“Hey, Fitri! ” teriakan di telingaku membuatku berjingkrak kaget. 

” Pelan dikit napa? ” ujarku menutup kuping. 

Mira nyengir kuda. Giginya yang agak tonggos terpampang jelas. Aku agak menyipitkan mata, silau dengan pemandangan itu. 

“Sudah kau bawa kan?” tanyaku menyelidik. 

Mira mengacungkan telepon genggamnya. Tepat di salah satu aplikasi yang memberikan bonus segelas kopi untuk pembelian segelas kopi. Beli satu gratis satu istilahnya. Atau beli satu dapat dua. Atau potongan 100% untuk pembelian kedua. 

Masuklah kami bergandengan ke kedai kopi itu. Ternyata antrean penuh. Semua mengharapkan bonus segelas kopi. Pekat kental, atau berwarna coklat muda menggoda. Merah strawberry  atau hijau green tea. Diwadahi dalam gelas kertas berwarna putih berlambang bunga matahari. Kedai kopi itu bernama Sun Rose

Aku sudah lama mengidamkan kopi Sun Rose.  Tepatnya sejak aku bekerja, dan lingkunganku bergaya kosmo. Para lelaki berkemeja Giordano, berdasi monokrom, dengan satu tangan menyulut rokok, dan tangan lain menggenggam gelas kopi Sun Rose.  Perempuannya berblus putih, berkalung mutiara, berhak tinggi dan lagi-lagi dengan elegan meminum segelas cappuccino Sun Rose.  Aku sebagai junior bertugas membelikan kopi untuk mereka. Kuingat benar harga segelasnya saat kasir menyebut harga. Lima puluh ribu rupiah. Tak lebih tak kurang. Itu berarti sama dengan ongkos makanku dua hari. Berlipat harga dari satu sachet kopi hitam yang kubeli dari abang penarik sepeda setiap pagi. Aku sempat pusing sejenak walau setelah itu kuterima bergelas-gelas kopi bergambar bunga matahari dengan sempurna. 

Semenjak itu aku terkesima. Menatap setiap gerakan para penggila kopi dengan ketakjuban. Meminumnya pasti seperti menghirup wedang jahe dicampur gula merah. Hangat dan bergairah. Saking kepinginnya aku pernah mencuci satu gelas plastik Sun Rose bekas minum seorang senior dan mengisinya dengan kopi instant  merk Kapal Layar. Dan aku menikmati pandangan bersahabat dari teman-teman kerjaku seperti aku bagian dari mereka. Tapi pandangan itu berubah menjadi tatapan heran dan akhirnya senyum ejekan. 

“Namamu Danny?” pertanyaan mengiris begitu melihat nama tertera di gelas kopi. 

Aku terkejut. Lupa menggosok hilang nama di gelas kopi mempermalukanku dengan telak. Apalagi Danny si senior hanya mengangkat bahu. Tapi syukurlah akhirnya dia menyelamatkanku, “Aku yang mentraktirnya.” Setelah itu aku menghambur pergi ke dapur saking malunya. 

Mira kembali berulah. “Menurutku kata Sun Rose  itu seperti La Rose.  Mungkin pemiliknya pengagum novelnya. Aneh sekali masa lambangnya bunga matahari. Harusnya kan Sun Flower“. 

“Suka-suka dia lah,” belaku sengit. “Ayo cepat tunjukkan kuponnya ke kasir. ”

Mira menjulurkan lidah. Teman kosku ini sebenarnya baik hati, karena mau memasang aplikasi yang kuinginkan di telepon genggam androidnya. Aplikasi itu rutin memberi bonus seperti ini. Sedangkan aku, jangankan membeli telepon genggam sejenis itu, beli kopi saja susah. Uangku habis untuk hidup sehari-hari, dan sedikit memberi uang ke adik dan orang tua. Bekerja sebagai pegawai bank memang terlihat mentereng. Tapi sebagai pegawai di jenjang paling dasar harus pintar mengelola uang. Ya hampir sama nasibnya dengan pekerja kerah biru yang sibuk demonstrasi di Bundaran HI sana. 

“Memangnya teman-teman kantormu tidak tahu kalau hari ini ada promosi beli satu gratis satu?” tanya Mira kembali usil . 

“Kurasa tidak. Mereka bukan penggemar barang gratisan. Kalaupun ada makanan gratis, mereka pasti memaksa untuk membelinya. Atau paling tidak meninggalkan uang tip dan jumlahnya bisa untuk makan siangku,” jawabku sambil menunjukkan kupon kepada kasir dan mengulurkan sejumlah uang hasil iuran antara aku dan Mira. 

Kasir mengetuk layar telepon beberapa kali,  lalu tersenyum dan mengembalikannya padaku. Sesaat kemudian dua gelas kopi panas dalam wadah putih bergambar bunga matahari tersaji. Aku menghirup aromanya dengan khidmat, dan meneguknya. Jenis Caffè latte

“Jangan banyak-banyak minumnya,” senggol Mira. “Sisakan untuk pergaulan kosmomu.” 

Aku nyengir dan sebelum cengiran itu hilang, gelasku melompat sejauh satu meter dan jatuh terhempas di lantai. Kopi di dalamnya muncrat kemana-mana mengenai orang yang duduk-duduk di kedai. Mereka jelas menggerutu panjang pendek. Aku meminta-minta maaf dengan lirih. Lalu dengan garang kucari siapa yang berani menubrukku dengan brutal. Tapi aku hanya melihat seseorang yang mengangkut karung goni yang nampak berat di belakangku. Wajah dan tubuhnya tak terlihat, sehingga dari depan seperti karung goni berkaki. 

“Heh mas, pak, bang, oom, jalan yang benar ya. Sembarangan aja nubruk orang, ” semburku marah. 

“Iya mbak, bu, mpok, tante, maaf. Saya gak bisa lihat jalan,” suara si karung goni berkaki. 

Selanjutnya seorang pelayan menariknya ke belakang counter dan mereka menghilang di balik pintu console. Setelah itu si manajer kedai meminta maaf kepadaku dan menanyakan apakah mereka bisa mengganti kopiku yang tumpah dengan ukuran lebih besar. Mataku berbinar. 

Sesampai kantor, Danny memanggilku. Dia melirik gelas yang kugenggam, dan memberikan berkas dokumen kerja. 

“Pastikan namamu yang tertulis di gelas itu. Kalau tidak, aku bisa membelikanmu satu wadah minum milik Sun Rose. Kau bisa dapat kopi dengan setengah harga. ”

Aku mengangguk. Malu bahwa dia masih mengingat fakta aku memakai gelas bekas miliknya. 

“Sebenarnya bila kau ingin kopi dengan rasa Sun Rose  dan harga lebih terjangkau, kau bisa datang ke kafe kopi di belakang kantor kita.”

“Yang di pojok lapangan parkir?” 

Aku menyahutinya agar terlihat berminat. Bagiku gelas dengan lambang bunga matahari itu sudah mewakili kopi terhebat mana pun di Jakarta. Danny mengangguk. 

“Bilang saja kau tahu dari aku. Mereka akan beri diskon lebih besar.”

Sorenya setelah menyerahkan pekerjaanku kepada Danny, aku berkemas hendak pulang. Tiba-tiba aku teringat kembali kedai kopi di pojok lapangan parkir. Demi rasa terima kasih pada Danny karena menutupi aibku, pergilah aku kesana. 

Bangunan kedai kopi itu terlihat menonjol dengan dua ujung atap berbentuk lancip seperti tanduk kerbau. Berada satu meter dari tanah, disangga dengan tiang-tiang yang kokoh. Seingatku bentuk bangunan seperti ini khas Toraja, dinamai Tongkonan. Nampak gelap hanya ada lampion besar bertulis Kopi Kalosi, tetapi setelah kubuka pintu gesernya suasana hangat dan temaram seperti menyambutku. Interior di dalamnya luas dengan satu meja mengelilingi barista dengan kursi-kursi tinggi, dan tiga meja kecil serta kursi-kursi rotan. 

“Selamat datang, ” seorang gadis berwajah Indonesia Timur dengan senyum ceria melambaikan tangannya. “Anda mau duduk dimana?”

Aku menghampiri salah satu kursi tinggi, dan melompat duduk. Gadis yang ternyata juga barista itu memperkenalkan diri. 

“Namaku Angela. Anda mau langsung pesan atau menunggu seseorang?”

“Aku sendirian. Danny yang menunjukkan kedai kopi ini.”

“Ah ya,  Danny. Dia rekan bisnisku. Atau lebih tepatnya aku ingin mengelola kedai kopi, dan dia ingin melihat uangnya bermanfaat. Hahaha. .” Angela tergelak riang. Giginya yang putih berderet rapi. Aku jadi teringat Mira yang suka mempertontonkan giginya saat tertawa. 

Angela melanjutkan, “Menu di Kopi Kalosi hanya kopi hitam dan kopi susu saja. Tidak ada jenis minuman seperti kedai kopi modern lainnya. Tapi aku bisa jamin rasanya jauh lebih enak.” 

“Aku pesan kopi susu.”

“Kopi Toraja, Gayo, atau Flores?” 

Oops, apalagi ini. Aku bingung. Angela mengerti kebingunganku. 

“Jenis kopi yang kami jual adalah kopi Arabica yang ditanam di perkebunan Toraja Sulawesi Selatan,  di Gayo Aceh,  dan di Manggarai Flores. Kebetulan aku dari Flores, dan Danny dari Toraja. Jadi kami berbagi tempat untuk menjual kopi daerah masing-masing.” 

Aku mengangguk mengerti. Angela lalu menunjukkan padaku teknik membuat secangkir kopi yang nikmat. 

“Alat ini bernama dripper. Di atas kertas penyaring, kutaruh kurang lebih 10 gram kopi. Lalu kutuangkan air panas membentuk pola spiral dari arah dalam ke luar, lalu dari luar ke dalam. Begitu terus sampai enam kali. Kita tunggu sampai air menetes sempurna ke dalam wadah.”

Setelah semua air kopi tertampung dalam wadah, Angela menuangkannya dalam dua cangkir berwarna putih. Dia menyuruh meminumnya tanpa gula. Seumur hidup aku belum pernah minum teh, kopi, atau coklat tanpa gula. Pasti rasanya pahit. 

“Cita rasa kopi Toraja ini gurih dan segar. Bila ditambah gula, malah akan terasa asam. Susu akan menambah rasa gurihnya. Begini saja, anda coba minum kopi tanpa gula, sedangkan cangkir yang satu kutambah susu dan gula,  sesuai pesanan.”

Aku setuju, dan menghirup kopi Toraja tanpa gula itu dengan ragu-ragu. Bersiap mendapat sentakan rasa pahit di lidah. Tapi hanya ada sergapan rasa gurih dan nikmat menguasai rongga mulutku. Sedikit rasa asam bercampur. Setelah semua hilang ke tenggorokan, baru rasa pahit muncul di pangkal lidah. Dan itu bukan rasa yang membuatku gentar setelah sebelumnya menikmati sensasi yang luar biasa. Aku sampai memejamkan mata dan mendesah nikmat. 

Tiba-tiba terdengar pintu dibuka disambut teriakan Angela, 

“Sudah berulang kali kukatakan. Kalau mengangkut bijih kopi lewat jalan belakang. Kau mengganggu pelanggan kita. ”

Aku menoleh ke arah pintu yang ada di belakangku, dan terkejut. Si karung goni berkaki muncul lagi dengan langkah terhuyung-huyung. Bergegas aku menyingkir sebelum tertabrak olehnya, tapi terlambat. Kursi tinggiku terdorong si karung goni berkaki, dan aku jatuh ke lantai tertindih karung penuh berisi bijih kopi. Semua menjadi gelap. 

Pipiku terasa ditepuk-tepuk, dan aku membuka mata. Kulihat Danny, Angela, dan seorang laki-laki di ruangan itu. 

“Syukurlah dia sudah bangun. Hai Fitri, maafkan adikku yang telah menubrukmu tadi. Dia memang teledor,” kata Angela merasa bersalah. “Alex, cepat minta maaf.” 

Laki-laki itu mendekat lalu memegang tanganku. Wajahnya mirip Angela, dengan perawakan tinggi besar dan senyum menawan. Seperti Ari Sihasale waktu muda. Siapa sangka di balik karung goni itu ada sosok yang mendekati sempurna. 

“Maafkan aku, Nona. Sepertinya aku pernah pula mendorongmu di kedai kopi Sun Rose. Aku memang ceroboh. ”

Aku tersenyum lemah. Separuh karena rasa pusing, selebihnya karena senang tanganku dipegang laki-laki ganteng. Dalam situasi ini, Danny kembali menjadi dewa penolongku. Sejenis cupid  dengan panahnya. 

“Kurasa dalam kasus ini, Angela harus mengadaptasi cara kedai kopi modern menarik pelanggan. Beri dia satu cangkir ekstra setiap datang. Beli satu gratis satu. ”

Angela mengangguk. “Itu cukup adil. Alex, kau yang harus membuatnya untuk Fitri. Untuk menebus kesalahanmu. ”

Alex tersenyum, dan genggaman tangannya semakin erat. Pusingku langsung hilang dalam sekejap. Janji yang indah berupa kopi nikmat harga bersahabat dan berkenalan dengan laki-laki rupawan membuatku bersemangat. 

” Oke Alex,” janjiku dalam hati, “akan kubuat suatu hari nanti kau berbisik padaku: beli satu gratis aku.”


                                         – Selesai – 

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s