Rupiah, Brexit, dan Tax Amnesty 


Gambar dari Kursrupiah.net

Per 13 Juli 2016, Rupiah sedang kuat-kuatnya. Dari kisaran Rp 13.500 an/USD per Mei 2016 menjadi Rp 13.086 /USD. Faktor pertama yang mempengaruhi dari eksternal yaitu Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Selain itu ditambah pula dengan angka pengangguran di Amerika Serikat yang meningkat. Faktor Internal yang mempengaruhi adalah kebijakan Tax Amnesty yaitu pengampunan bagi para pengemplang pajak,  dengan membayar sejumlah uang tebusan. Diharapkan uang yang selama ini parkir di luar negeri akibat penahanan dana agar tak terkena pajak dapat masuk ke Indonesia, dan menjadi dana segar. Nilainya diperkirakan cukup besar, berkisar Rp 1.000 triliun.

Bagaimana ceritanya dua hal ini dapat mempengaruhi penguatan rupiah terhadap dollar Amerika? Mari sedikit berbicara tentang makroekonomi. Penguatan rupiah dapat terjadi apabila jumlah USD di pasar meningkat. Banjirnya USD ini terjadi,  asumsi karena dana asing masuk ke Indonesia akibat pengampunan pajak (repatriasi). Duit yang semula parkir di luar negeri hasil ngemplang pajak, mulai masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk uang tebusan, maupun proyeksi pajak di tahun depan. Akibatnya likuiditas dan devisa negara dalam bentuk USD meningkat,  dari USD 103 miliar per Juni 2016 akan menjadi USD 110 miliar per Juli 2016.

Gambar dari http://www.sharia.co.id

Isu Brexit terlebih dahulu mengalirkan USD ke Indonesia, karena investor asing mulai kehilangan kepercayaan terhadap Inggris,dan mencari investasi di negara yang lebih menarik. Perekonomian Inggris sebenarnya kuat untuk mandiri, tetapi kehilangan akses kerjasama ekonomi ke UE, bukan sebuah hal yang baik. Perekonomian Inggris jelas didukung UE, termasuk akses bebas masuk ke negara-negara UE, bekerja, ekspor nol tarif, dsb. Brexit juga menyebabkan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat) menunda kenaikan suku bunga,karena bila tetap dilakukan USD akan menguat dan ekspor AS terhambat,yang melemahkan ekonomi AS dan semakin meningkatkan pengangguran.

Makroekonomi itu rumit ya? Banyak keterhubungan antara satu aspek ekonomi dengan yang lain, termasuk negara negara yang saling terkoneksi dalam bentuk kerja sama. Artikel saya sebelumnya yaitu Indonexit = The Indonesia’s Brexit menyarankan harus dicari dulu bentuk model kerja sama yang menguntungkan, terutama untuk Indonesia, agar kita tidak dipermainkan negara lain. 

Ada cerita menarik berkaitan dengan menguatnya rupiah terhadap USD ini. Beberapa korporasi berusaha mengubah pinjaman nominasi rupiahnya menjadi USD. Mengapa hal ini dilakukan? Karena pendapatan dalam USD tentu lebih mudah membayar utang dalam USD pula. Selain itu bunga pinjaman USD cukup rendah berkisar 0,5%,dibandingkan pinjaman Rupiah berkisar 10%. Masalahnya ada aturan BI yang menyatakan tidak diperkenankan untuk berpindah fasilitas sewaktu – waktu, karena khawatir mengganggu cadangan devisa. Tetapi dengan kondisi likuiditas USD yang meningkat seperti ini, perubahan itu akan sangat baik karena menyerap kelebihan likuiditas. 

Perbankan menyatakan siap menerima likuiditas. Banyak cara, seperti menerbitkan obligasi,  atau NCD (Negotiable Certificate Deposit) yaitu deposito jangka pendek yang hanya bisa dibeli pihak asing/korporasi karena pembelian minimum adalah Rp 1 triliun. NCD ini tidak dimasukkan dalam dana pihak ketiga, dan sesuai dengan rasio LFR (Loan to Funding Ratio, rasio kecukupan dana terhadap pinjaman) maksimum 92%. 

Jadi tunggu apa lagi? Laporkan kewajiban pajak anda sekarang juga.😉

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s