Syariah bersama SUKRI 


Alkisah, ada bapak dua anak bernama Syukri. Syukri berasal dari Padang, dan demi menghidupi keluarganya dengan layak, pergilah dia ke ibu kota. Bekerja apa saja asal halal. Dari pelayan restoran, penyapu jalan, sampai pedagang baju muslim di Tanah Abang. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, usaha terakhirnya yaitu warung bakso berkembang pesat. Pada saat bekerja, dia selalu berusaha bersungguh – sungguh sampai dengan kemampuan maksimumnya. Tak heran warung baksonya berkembang pesat. Semula hanya sebuah kios yang disewa dan dijadikan warung, sekarang berkembang menjadi tiga kios dan semuanya milik sendiri. Setiap bulan, Syukri selalu mengirim uang kepada istrinya, untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

Selaku muslim taat, dia berusaha menjalankan usahanya sesuai syariah. Syukri berusaha untuk tidak berutang dalam mengembangkan usahanya. Prinsipnya selama dia punya harta, baru akan digunakan untuk memperluas usaha. Tapi bila tidak, berarti belum ada kemampuan untuk ekspansi. Sementara untuk menabung, dia memilih bank yang menjalankan prinsip syariah non riba.

Sampai pada suatu saat, dia membaca iklan Sukuk Ritel 008 di koran. Iklan itu berbunyi seperti ini “Bangunlah negeri melalui Sukuk Ritel 008. Investasi berbasis syariah, dengan imbal hasil 8,3%. Jadilah tuan di negeri sendiri.”  Wah, apa ini ?, pikir Syukri. Selama ini dia adalah pembayar pajak yang patuh, karena dia sadar membayar pajak berarti membangun negeri. Tetapi tidak pernah ada yang memberikan imbal hasil sebesar itu saat dia bayar pajak. Ya,  walaupun hasil warung baksonya melebihi prosentase imbal hasil itu, tapi siapa sih yang tak mau investasi yang menguntungkan seperti itu?  Tertarik, dihubunginya nomer telepon di iklan. Si penerima telepon menjawab dengan sopan dan berjanji akan ke rumah Syukri esok hari untuk menjelaskan secara detail.

Pukul sembilan pagi keesokan harinya, seorang tamu datang ke rumah Syukri. Namanya Anwar. Dia adalah seorang agen penjual Sukuk Ritel. “Untuk lebih mudahnya, saya sebut saja produk investasi ini SUKRI, ya pak Syukri.” Syukri mengangguk, “Seperti nama saya ya, Pak Anwar.” Anwar tersenyum mengiyakan.

Syukri menyambung, “Jadi ya begitu, Pak Anwar. Saya masih bingung dengan SUKRI ini. Selama ini, sebagai pengusaha dan warga negara yang baik, saya kan sudah bayar pajak. Tapi kok tidak ada yang memberi imbal hasil seperti yang dijanjikan SUKRI ini.”

“Pak Syukri, SUKRI ini adalah suatu bentuk utang pemerintah terhadap warganya, untuk membiayai proyek pembangunan. Tidak seperti pajak, dimana warga negara berkewajiban membayar sejumlah dana sebagai wujud partisipasi pembangunan negara, SUKRI bukan kewajiban. Dia bersifat suka rela, dan sebagai penarik, pemerintah memberi imbal hasil. ”

” Lalu prinsip syariahnya bagaimana, Pak Anwar? ”

“Dalam SUKRI ini pemerintah berutang terhadap warganya, Pak Syukri. Mekanismenya menggunakan sistem Ijarah, yaitu sewa menyewa aset. Jadi pemerintah punya aset proyek yang akan dibangun, seperti pembangunan infrastruktur jalan, atau pelabuhan. Aset ini yang akan dibiayai oleh investor, sehingga dapat dikatakan pemilik aset adalah investor. Pemerintah sebagai penyewa, akan membayar pendapatan kepada pemilik aset berupa bagi hasil, dan membayar kembali dana setelah jatuh tempo. Paham, Pak Syukri ? ”

” Insya Allah, paham Pak Anwar. Apakah ada fatwa MUI mengenai SUKRI?”

“Tentu, Pak Syukri. SUKRI ini adalah obligasi syariah yang diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 32/DSN-MUI/IX/2002. Obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Panjang ya penjelasannya, Pak Syukri. ”

” Tidak apa,  Pak Anwar. Bila seperti ini, saya mantap terhadap produk investasi syariah. Selain saya membantu pembangunan negara yang sah menurut MUI, juga dapat bagi hasil yang memuaskan. Mengenai mekanismenya seperti apa, Pak? ”

” Bapak bisa membeli unit SUKRI minimum nominal Rp 5 juta rupiah. Investasi ini akan jatuh tempo selama tiga tahun, dan selama kurun waktu tersebut, pemerintah akan membayar setiap bulannya bagi hasil sebesar 8,3% dibagi 12. Kemudian pada saat jatuh tempo, seluruh dana bapak akan dikembalikan.”

” Bagaimana bila saya butuh dana itu mendadak, Pak Anwar? Mungkin saya perlu untuk mengembangkan usaha saya atau biaya darurat lainnya? ”

” Bapak bisa menjual SUKRI ke pasar sekunder, sesuai harga pasar. Agar lebih mudah, bapak bisa hubungi saya saja. Sebagai agen penjual, saya siap membantu menjualkan. ”

” Mengenai risikonya, Pak Anwar? ”

” Setiap produk investasi selalu ada risikonya, Pak Syukri. Tetapi untuk SUKRI ini relatif kecil, karena pemerintah Indonesia sebagai si empunya utang, cukup kredibel dan dapat dipercaya. ”

Syukri mengangguk, ” Baik, Pak. Saya sudah mengerti, dan ingin berinvestasi di SUKRI. Kebetulan ada dana khusus untuk investasi. Akan saya belikan SUKRI.”

“Alhamdulillah. Kebetulan saya sudah siapkan formulir pemesanan, dan akadnya, Pak Syukri. Semoga investasi Bapak barokah dan dapat membantu negara. ”

” Amin. ”

Malamnya, Syukri menelepon istrinya di kampung, memberi tahukan ikhwal investasi syariah yang menguntungkan seperti SUKRI. Istrinya sangat mendukung, dan menyarankan Syukri untuk mencari produk investasi syariah lainnya. Sangat berguna untuk menyimpan dana pendidikan anak, sebelum digunakan nantinya. Syukri berjanji akan menghubungi Anwar kembali untuk menanyakannya.
***

Tulisan diikut sertakan dalam Lomba Blog Puasa, yang diselenggarakan oleh OJK dan blog.detik.com



About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Syariah bersama SUKRI 

  1. witriprasetyoaji says:

    baru tahu tentang SUKRI, thanks buat infonyaaa

  2. avieni says:

    Sama-sama. Senang dapat membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s