Indonexit = the Indonesia’s “Brexit”


Ribut banget nih dunia. Cuma gara gara Inggris mau lepas dari Uni Eropa,  semua kalang kabut. Saham Citibank dan Bank of America berjatuhan, poundsterling melemah terhadap dollar, harga emas meningkat. Semua karena Brexit (British Exit). Inggris dikenal sebagai negara dengan perekonomian terkuat di Eropa, sebanding dengan Jerman. Wajar bila semua negara yang terkoneksi dengan Inggris khawatir bila dengan keputusan ini, perdagangan bilateral dan multilateral terganggu.

Mengapa Inggris ngotot meninggalkan Uni Eropa? Ini memang pilihan negara untuk berdikari. Sudah lazim bila bergabung dengan komunitas, hati dan pikiran akan dibentuk oleh aturan komunitas. Aturan dibentuk oleh pemimpinnya, yang biasanya adalah yang terkuat, baik dari sisi ekonomi, watak, dan kemampuan. Inggris tidak total bergabung dengan UE ditandai dengan masih menggunakan mata uangnya sendiri. Poundsterling telah lama kuat dibandingkan Euro yang baru datang belakangan. Disamping itu Inggris sudah ogah didikte Jerman mengenai masalah imigran. Jerman membuka lebar negaranya untuk imigran Suriah. Inggris kebalikannya. Jerman sebagai pemimpin UE, selalu membantu negara anggota yang kelimpungan masalah perekonomian seperti Yunani, dan mengharapkan anggota lain juga membantu. Prinsip Inggris kalau membantu, bisa bocor anggaran negara. Maka sekarang terkenal istilah “beLEAVE in Britain” untuk mendukung referendum keluar dari UE tgl 23 Juni 2016. Dukung kedaulatan negara untuk mempunyai pendapat sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Komunitas ekonomi yang diikuti Indonesia pun demikian banyak. Mulai dari ASEAN, AFTA, MEA, kerjasama perdagangan dengan Tiongkok, dan yang paling gress menyebabkan Indonesia galau untuk bergabung yaitu Trans Pacific Partnership. Pada awalnya hanya berupa Kerjasama regional untuk keamanan, budaya, suara ke dunia internasional agar lebih didengar. Tapi berikutnya lebih banyak kepada kepentingan perdagangan liberal. Membebaskan masing-masing negara untuk berjualan di negara lain. Tarif impor barang mendekati 0%. Yang kuat yang menang, dan Indonesia menjadi incaran karena pasar besar dengan konsumen amat sangat konsumtif, tapi dengan kemampuan produksi rendah. Contoh kerjasama dengan Tiongkok merugikan Indonesia, karena ekspor Indonesia ke Tiongkok tidak banyak, sedangkan impor semakin besar. S&P menurunkan peringkat Indonesia sebagai negara yang tidak layak investasi, semata karena Indonesia mengandalkan pendapatan negara dari pajak dan bukan dari ekspor. Ciri khas negara konsumtif.

Apa Indonesia harus seperti Inggris, meninggalkan seluruh kerja sama perekonomian dengan negara lain? Untuk saat ini kita harus memilih kerjasama yang menguntungkan Indonesia dengan penelitian terlebih dahulu. Para akademisi harus mencari  bentuk model kerja sama seperti apa yang menguntungkan, dan dijadikan standar dengan Indonesia yang menawarkan kerja sama ke negara lain. Pasar Indonesia yang besar menjadi modal untuk dapat percaya diri menawarkan model kerja sama. Model yang baik mendukung perekonomian Indonesia, terutama produksi yang menghilangkan defisit anggaran negara.

Selama ini belum dapat dilakukan, mungkin Indonexit harus dilakukan untuk membenahi produksi nasional. Swasembada jauh lebih baik dibandingkan harus terombang ambing bagai buih di gelombang liberalisme kapital.

Jakarta, 18 Juni 2016

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s