G E G A R


Saya lagi tergegar. Gegar otak dan gegar budaya. Mari kita deskripsikan satu persatu. Gegar sendiri adalah anonim dari guncang. Jadi tergegar adalah terguncang. Gegar otak adalah tipe cedera otak teringan dibandingkan tipe cedera otak lainnya. Gegar budaya adalah ketidaksiapan menerima budaya yang baru pada kehidupan.

Apa pasal? Saya biasa berpikir matematis, analitis, dan merasa argumen saya telah memenuhi logika. Seperti halnya orang-orang yang biasa berpikir dengan otak kiri. Hasil pikiran yang penuh angka dan logika itu, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Untuk mengikat makna, dan agar pikiran itu tidak menguap. Hilang entah kemana. Tulisan akan membentuk grafik, fakta-fakta untuk menguatkan artikel yang mempengaruhi pembaca. Saya berandai-andai menjadi pengisi kolom opini ekonomi di media massa (yang mohon maaf, belum terkabul sampai saat ini..haha..).

Tapi saya tergegar dalam waktu dua hari. Gegar otak sekaligus gegar budaya. Saat mengikuti Workshop Cerpen Kompas 2016 di Gedung Kompas Gramedia tgl 30 – 31 Mei 2016. Saya datang dengan persepsi, ah fiksi, pastilah harus aneh dan tak tertangkap maknanya. Semakin aneh, akan semakin disukai pembacanya. Beda dong dengan non fiksi. Semua harus berdasarkan fakta. Persepsi itu “diputar balikkan” oleh dua mentor saya. Mbak Linda Christanty hanya tersenyum saat saya menyatakan susah betul memahami cerpen di Kompas Minggu. Beliau berkata, cerpen yang sulit dipahami dapat berarti dua hal. Sangat baik, atau justru buruk. Cerita sastra yang baik dapat membuat kita merenung berhari-hari, mengingat karakter yang kuat di dalamnya, dan berusaha mencari makna yang berlapis-lapis. Cerita sastra bukan berarti ruwet, karena keruwetan berarti penulisnya malah gagal menyampaikan maksudnya dalam bentuk tulisan.

Mas Agus Noor mendeskripsikan ketidak logikaan cerpen dalam bentuk lain. Cerpen tidak harus sesuai dengan fakta yang ada saat ini, tetapi kemampuan penulis berargumen lah yang harus mampu meyakinkan pembaca bahwa alur cerita itu masuk akal. Contoh, matahari terbit dari barat. Logika umum menyatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi, dan bila terjadi maka kiamat sudah dekat. Maka dapat dituliskan sebagai berikut:

“Matahari terbit dari barat, karena bosan. Dia ingin melihat kehidupan manusia dari lintang yang berlawanan dengan timur. Tak terjadi apa-apa, bahkan bumi bergoncang pun tidak. Maka para orang suci sibuk merevisi kriteria akhir dunia.”

Putu Fajar Arcana, atau Bli Can, sama dengan Mbak Linda Christanty, memberikan saran agar cerpen saya yang berjudul “Genta Gelas Neira” dibuat dalam bentuk novel, karena mempunyai tema yang besar yaitu Banda Neira. Karakter-karakter yang ada di dalamnya dapat diperluas, seperti menambahkan rahasia pada tokoh Stefani yang seorang ilmuwan. Mengapa rahasia? Karena semua orang suka mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu. Agak-agak kepo maksudnya ;))

IMG_20160604_163751

Di workshop ini saya bertemu teman-teman baru beratmosfer sama, yaitu penulis. Ada Mbak Esther yang ibu rumah tangga, ada Mas Victor yang guru SMA, ada mbak Farrah yang mahasiswa, ada mas Wisnu yang pengusaha, mas Harris yang wartawan, dan teman-teman lain yang tak dapat disebut satu persatu. Atmosfer ini semakin terasa, saat di akhir sesi kami berkesempatan untuk mengunjungi redaksi Harian Kompas. Berusaha mengetahui seperti apa sih kerja wartawan, para penulis berita? Sayangnya, ruangan nampak kosong, karena para wartawan belum pulang dari liputan. Konon kabarnya, jam kerja para wartawan ini tak tentu. Asalkan mereka siap menghadapi deadline pada pukul 12 malam.

Tetapi tak apa, karena ada kejutan lain. Di tengah visitasi ini, kami bertemu rombongan cerpenis pilihan Kompas 2015, yang akan menghadiri Malam Jamuan “Cerpen” Kompas 2015 di Bentara Budaya Jakarta. Pak Ahmad Tohari, dan Pak Triyanto Triwikromo, dengan ramahnya, berjabat tangan dengan semua peserta workshop. Saya sempat berbincang dengan Pak Ahmad Tohari, dan bilang saya ingin curi ilmu bapak. Pak Ahmad Tohari tertawa-tawa, katanya cerpen langsung tulis saja, gak perlu pakai ilmu-ilmuan. Lah, kalau senior bisa saja bilang begitu saking ahlinya..haha..

Acara dilanjutkan dengan menghadiri Malam Jamuan “Cerpen” Kompas 2015. Banyak bertemu tokoh penting di dunia sastra. Faisal Oddang, cerpenis muda kelahiran 90-an, atau Pak Putu Wijaya, yang kabarnya ahli banget dalam membuat tek-tok tulisan. Dan yang paling memukau, saya banyak bertemu tutup kepala disini. Mulai topi baret Pak Putu Wijaya, dan Pak Ahmad Tohari, iket Bli Can, sampai blangkon pak Menteri Anies Baswedan. Bahkan topi bertuliskan Kompas yang dipakai Mbak Esther, teman peserta, juga ikut mejeng di foto halaman depan Harian Kompas Rabu 1 Juni 2016. Selamat untuk Pak Ahmad Tohari yang memenangi cerpen terbaik dengan judul “Anak ini mau mengencingi Jakarta?”

Pengalaman yang berkesan, sekaligus semakin memacu andrenalin dan endorfin saya untuk terus menulis, dengan target menghasilkan buku dan tulisan di media massa tahun 2016. Amin.

Jakarta, 4 Juni 2016

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
Image | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s