GOYANG BEETHOVEN


Maitra membuka kotak biolanya. Diletakkannya instrumen gesek itu perlahan ke dalamnya, seakan menyembah. Ini ritualnya setiap malam, setelah memberikan kursus musik kepada beberapa anak didiknya. Sebelumnya digosoknya dahulu biola tua ini sampai mengkilat. Membersihkan sisa-sisa serbuk rosin[1] yang menyebabkan dawainya bersuara melengking tinggi. Tetapi serbuk putih itu harus dibersihkan, karena bila tidak, dia akan mengeras dan lengket di senar. Suara biola akan menjadi buruk.

Tiba-tiba Aruna, kakak laki-lakinya, masuk ke kamarnya. Maitra melotot.

“Apa susahnya sih mengetuk pintu dulu?”

Aruna cengar cengir. “Memangnya kenapa, toh kamu adikku.”

Maitra melempar lap yang digunakannya untuk menggosok ke arah Aruna. Aruna menangkapnya dengan cekatan, tapi tidak seperti biasanya yang akan dilemparnya balik ke Maitra, dia membuang lap itu ke lantai.

“Sorry, aku punya berita yang lebih penting. Wimala akan menikahkan adiknya di desa. Dia minta bantuanmu bikin biola tunggal. Kamu bisa?”

Wimala istri Aruna. Hubungan Maitra dengan Wimala tidak begitu baik, sehingga bila mereka membutuhkan sesuatu yang dipunyai pihak lain, selalu melalui Aruna.

“Maksudmu, aku main konser tunggal di kawinan itu?”

“Hmm..sejenis itu. Bukan konser, tapi orkes. Seperti orkes organ tunggal di kawinan.”

Maitra mengernyitkan alisnya. Konser tunggal, dia paham. Maitra biasa menggesek biolanya di beberapa acara perkawinan di gedung-gedung pertemuan besar. Beberapa kali dia menggelar konser tunggal, berkolaborasi dengan beberapa musisi. Atau membawakan beberapa repertoire klasik di kedutaan besar Jerman atau Perancis. Tetapi ini, orkes biola tunggal.. Jangan-jangan..

“Kamu hapal lagu Jablai, kan?” Mata Aruna berbinar.

Maitra mendengus.

“Jangan coba-coba, Kak. Aku tak mau menukar musikku dengan uang.”

Aruna berusaha membujuk. “Ayolah, Mai. Ini bukan hanya sekedar uang. Ini untuk ikatan persaudaraan. Tentu Wimala akan memberimu uang, dan bukan hanya sekedarnya, walau kamu saudara iparnya.”

Biola yang telah masuk kotak, dikeluarkannya lagi. Maitra meletakkannya di bahu, dan digeseknya dawai biola itu perlahan pada awalnya, lalu bersemangat. Violin Concerto E Minor karya Johann Sebastian Bach, musisi klasik Jerman, menghentak, dan menenggelamkan kata-kata Aruna. Sesaat saja Maitra seperti orang dalam keadaan berkonsentrasi tinggi, dan tidak mengacuhkan sekelilingnya. Aruna membiarkannya, dan menunggu sampai musik itu selesai.

“Seorang musisi yang baik tidak akan membatasi musiknya, juga tidak akan membatasi audiensnya,” kata Aruna mengusap kepala adiknya.” Pikirkanlah baik-baik.”

-000-

            Maitra mendapatkan pendidikan musik terbaik di Berlin University of Arts. Ayahnya seorang ilmuwan teknik yang bekerja di suatu lembaga penelitian Jerman, mendorongnya sampai batas tertinggi kemampuan bermusiknya. Sejak umur tiga tahun dia telah mulai dikenalkan kepada alat musik piano, tetapi kecintaannya jatuh pada biola. Beberapa kali disabetnya penghargaan di bidang musik klasik Eropa. Dia tumbuh dengan kecintaan terhadap musik klasik.

Dan kini, Aruna ingin menukarnya dengan musik dangdut. Musik di kalangan rakyat jelata, dengan orang-orang berjoget seperti mabuk. Maitra semakin tertampar. Sama seperti lima tahun yang lalu, saat ayahnya membawanya pulang dari Jerman untuk bertemu dengan calon ibu tirinya dan laki-laki yang dikatakan akan menjadi kakaknya. Maitra bersikeras, Jerman adalah tanah kelahirannya. Benar, kata ayahnya. Tetapi kamu warga negara Indonesia, dan ayah tidak akan meninggalkanmu di Jerman. Maitra berusaha memahami ayahnya, kerinduannya pada Indonesia, dan keluarga yang ditinggalkannya disana. Hingga ia ikut. Tetapi di Indonesia, semuanya berbeda dengan Jerman. Keteraturan Berlin tak akan pernah dijumpai di Jakarta. Dia tak akan pernah bisa naik sepeda lagi, di tengah-tengah kerumunan sepeda motor yang hiruk pikuk, dan polusi asap kendaraan yang menggila. Pernah dia mencoba mengendarai sepeda lipatnya, yang menjadi tunggangan setia di jalan-jalan Berlin. Dan si sepeda keok, mencium ubin trotoar, karena ketidakmampuannya menghindari laju sepeda motor di atas trotoar.

Ditambah dengan permasalahan keluarganya. Ayahnya, walaupun gembira mendapatkan pasangan hidup, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan yang berkompensasi setinggi di luar negeri. Dengan penghasilan terkurangi hampir setengahnya, ayahnya masih dapat menghidupi keluarga kecilnya, tetapi dengan kehidupan sangat sederhana. Maitra tak bisa  leluasa lagi menabur impian meneruskan pendidikannya di bidang musik. Tentu saja ada beasiswa, tetapi itu berarti dia harus bertarung dengan sekian banyak pelamar lainnya. Dia belum terlalu percaya diri untuk melakukannya.

Hanya musik yang bisa menghibur Maitra. Setiap malam, saat dia sendiri selalu digeseknya biola, melantunkan musik-musik klasik yang indah. Dia tahu, dia harus berdiri kembali. Beradaptasi dengan kondisi yang baru. Usianya baru 22 tahun. Masa depannya masih panjang terbentang. Bila ayahnya tak bisa membiayainya, dia yang akan berusaha sendiri. Mulai dibukanya kursus biola untuk anak-anak. Mula-mula hanya satu dua anak yang berminat, lama-lama semakin banyak yang ikut mendaftar. Maitra melamar di beberapa café. Dan seperti kata Aruna, seorang musisi memang tidak boleh membatasi musiknya. Maitra sedikit beradaptasi dengan musik pop dan jazz. Tetapi dangdut ?

“Baik. Jadi lagu apa yang harus kumainkan?”.

Aruna dan Wimala yang sedang duduk santai di teras rumahnya, terkejut dengan kedatangan Maitra. Terutama dengan pertanyaannya. Aruna yang tersadar dengan cepat, segera paham maksud  adiknya. Wimala yang sadar belakangan, tersenyum senang, dan menjawab,”Kalau di kampung mereka suka lagu dangdut goyang pantura, atau Jablai.”

Aruna melirik Wimala, lalu menatap adiknya,” Biola memang bisa dibuat bernada dangdut goyang pantura. Tapi kukira pemainnya belum bisa. Lebih baik kita buat lagu-lagu sendiri yang enak didengar dan bisa buat goyang.”

Maitra menjawab,”Aku bisa beradaptasi dengan musik apapun.”

Aruna memeluk adiknya,” Aku tahu. Aku akan membuatkanmu Orkes Goyang Beethoven yang tak akan pernah kau lupakan.”

-000-

            Aruna menepati janjinya. Dia bekerja sama dengan beberapa teman musisinya, membuatkan beberapa lagu dangdut yang enak didengar dan cukup sopan. Atau mengaransemen lagu pop menjadi bernada dangdut.

“Aku suka lagu ‘Jangan Menyerah’ D’Masiv, Itu bisa diaransemen menjadi lagu dangdut. Oh ya, satu lagi ‘Dan Bernyanyilah’ ciptaan Musikimia. Lagu itu memotivasi. Sudah waktunya lagu dangdut memberikan semangat dan inspirasi. Tidak hanya sekedar patah hati mendayu-dayu.”, kata Maitra.

Aruna mengacungkan jempol.

Di belakang panggung, Maitra luar biasa gemetar. Ini tidak seperti konser tunggalnya di kedutaan besar. Dia harus memainkan lagu yang bukan musiknya. Tapi ini panggungnya dan dia harus bisa. Maitra mulai mendaraskan lagu-lagu dangdut konvensional seperti permintaan penonton. Jablai lagu pertama, Goyang Pantura lagu kedua. Setelah itu lagu Jangan Menyerah versi dangdut. Dan saat penonton mulai menghangat dalam jogetnya, Maitra menggesekkan biolanya menghentak dengan melodi awal Beethoven Symphoni 5. Penonton langsung menghentikan jogetnya, terkesima. Maitra tak perduli, dia terus melengkingkan dawainya. Setelah bagian pertama lagu itu selesai, Maitra segera menyambungnya dengan lagu Dan Bernyanyilah versi pop, dan setelah itu dia langsung melanggamkannya menjadi cengkok dangdut. Wimala yang bersuara indah, langsung menyanyikan liriknya. Penonton yang terkesima bertepuk tangan dan mulai bergoyang.

saat dirimu
terhanyut dalam sedih yang kau rasakan
seperti mendung hitam
cobalah kau sadari
bahwa hidup ini terllau indah untuk ditangisi

dan bernyanyilah
senandungkan suara isi hati
bila kau terluka
dengarkan alunan lagu
yang mampu menyembuhkan lara hati
warnai hidupmyu kembali
menarilah aaah aaah
bernyanyilah aaah aaaah

Penonton pun ikut menyanyi ..aaahh..aaahhh…cengkok dangdut. Tiada nada patah hati, yang ada rasa motivasi setinggi langit. Maitra tahu orkes tunggal Goyang Beethoven-nya sukses besar. Terima kasih untuk Beethoven dan Musikimia, ujarnya dalam hati.

-Selesai-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Dan Bernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia,Nulisbuku.com dan Storial.Co

[1] Produk karet untuk membuat dawai biola bersuara saat digesek

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s