HELM SLAMET PERKUTUT


Wimala berjalan mengendap-endap. Ditutupnya pintu depan dan dikuncinya, seperlahan mungkin, agar suaranya tak terdengar. Tetapi upayanya sia-sia.

“Ayo Neng. Ojek. Hari sudah siang, nih. Ntar telat lagi.”

Wimala langsung menghentikan aktivitasnya. Dengan santainya, Pak Slamet, si tukang ojek yang mangkal depan kos, men-starter motor dan menghampiri Wimala, tanpa persetujuannya. Wimala masih berupaya membantah,”Mau jalan saja, Pak Slamet. Olah raga.” Tapi bantahan itu hanya dalam hati. Wimala tak tega terhadap para ojekers ini. Dia tahu persis mereka harus berjuang mencari uang untuk keluarganya. Walaupun kadang-kadang ongkos yang dipatok lebih daripada taksi yang berpendingin dan tak berdebu, Wimala lebih memilih naik ojek bila tujuannya tak jauh. Bina lingkungan, katanya.

Hanya saja bukan masalah uang, atau berdebu, atau kepanasan, yang menjadi kendala Wimala menumpang ojek. Masalah keselamatan yang menjadi isu utama. Tahu dong, bagaimana cara para bapak ojek ini mengendarai tumpangannya. Secepat kilat (dalam arti sesungguhnya, dan bukan kiasan), menyelip diantara mobil-mobil, dan tanpa helm bagi penumpangnya. Pernah Wimala (saking kesalnya) menepuk bahu Pak Ojek, lalu bertanya.

”Kenapa sih Pak, harus ngebut. Toh di depan juga lampu merah. Bapak ngerem mendadak dari ngebut aja sudah harus keluar ongkos perawatan mesin.”

Si Pak Ojek menjawab,” Waktu, Neng, waktu. Jam segini  banyak yang minta dianterin ke kantor. Lumayan kan, nambah penghasilan.”

Gila, tidak cuma wartawan, bahkan tukang ojek pun punya tenggat waktu. Jadi bila kebetulan Wimala dapat jatah antrian dengan si tukang ojek ini, dia akan berupaya menjaga keseimbangan tubuh dengan berpegang pada besi melintang di belakang boncengan. Atau bila dapat jatah tukang ojek lain yang selain hobi ngebut, juga suka menyelip-nyelip diantara mobil-mobil yang macet. Wimala selalu mengalami nasib buruk, yaitu terbentur lutut atau ujung jari kakinya, dengan bodi  mobil yang disalip. Yang dapat dia lakukan hanya berusaha mengepit lututnya ke arah jok motor, membuat ruang selebar mungkin dengan bodi mobil, sehingga tak terantuk. Tukang ojek pun ahli berkendara di trotoar, apabila dia ogah menyeberang jalan untuk menempuh sesuai arah. Lebih baik motornya dinaikkan ke trotoar, dan siap-siap membunyikan klakson untuk mengusir pejalan kaki yang lalu lalang di depan laju kendaraannya.

Aku penumpang yang terlalu baik hati, rutuk Wimala, yang sekarang duduk di belakang Pak Slamet. Tak pernah protes, walaupun keselamatanku diabaikan. Tetapi Pak Slamet, yang menjadi  salah satu tukang ojek idola Wimala, berbeda dengan tukang ojek biasa. Bukan apa-apa, cara mengendaranya luar biasa aman. Kecepatan tak pernah lebih dari 50 km/jam. Tak pernah menyalip-nyalip diantara mobil, setia menunggu giliran. Kalaupun terpaksa harus menyalip, dia akan melakukannya dengan berhati-hati. Mungkin ini juga karena faktor usia, sehingga beliau lebih sabar menghadapi kemacetan Jakarta. Wimala memperkirakan umur Pak Slamet diatas 50 tahun. Tapi sebenarnya alasan ini, tidak sepenuhnya benar. Ada tukang ojek lain yang juga sudah berusia lanjut, dengan laju kecepatan motornya tak pernah kurang dari 80 km/jam. Agak mengerikan memang, karena terkadang beliau kehilangan keseimbangan sehingga laju motornya agak bergoyang.

Hanya satu kelemahan Pak Slamet. Dia tak pernah menawarkan helm untuk dipakai kepada penumpangnya. Bahkan untuk jarak yang relatif jauh sekalipun.

Nggak takut ditilang polisi, pak ?”, tanya Wimala pada suatu waktu. Memberikan pemahaman yang paling sederhana dan mudah dimengerti, bahwa tidak memakai helm itu salah. Bila dia berkata masalah keselamatan, takutnya Pak Slamet tidak terlalu perduli. Wimala sering melihat para pembonceng ojek lebih menghindari polusi dengan menggunakan masker, daripada menggunakan pelindung di kepalanya. Tidak salah, karena Jakarta memang kota yang sangat berpolusi dengan asap kendaraan, tetapi lebih baik lagi bila menggunakan keduanya. Masker dan helm.

“Biasanya cari jalan tikus, Neng. Penumpang jarang yang mau pakai helm. Katanya bau,” ujar Pak Slamet.

“Kan bisa dibersihkan, Pak.”

“Yah, tambah ongkos lagi, Neng.”

“Biar penumpang Bapak ntar tambah banyak. Siapa sih yang nggak mau naik Ojek Slamet. Sudah nyetirnya aman, pakai helm wangi lagi.” Wimala mulai melancarkan bujukan mautnya.

“Anggap saja uang buat beli helm dan ongkos bikin wanginya, adalah dana promosi,” ujar Wimala lagi.

“Ah, Neng bisa aja. Ya deh, nanti kalau saya menang lomba perkutut, saya beli helm.”

“Lho, Bapak hobi perkutut?”

“Sebenarnya bukan perkutut saya, Neng. Punya tetangga. Biasanya saya yang ngikutkan lomba.”

“Oh ya, bagus deh, Pak Slamet. Saya doakan, Bapak menang nanti.”

“Amin. Makasih, ya Neng.”

Selang dua minggu kemudian, si Pak Slamet menyodorkan helm barunya. Helm  SNI warna biru metalik. Wimala tertawa senang dan mengacungkan jempolnya.

“Nih, Neng. Eneng yang pertama pakai helm ini. Saya janji tiap tiga hari sekali, saya akan cuci.”

“Nah, gitu dong, Pak. Jadi saya pakai helm hasil lomba perkutut ya. Gimana, bagus nggak, perkututnya manggung?”

 “Keren banget, dah, Neng. Juara satu. Dia manggung gak putus-putus. Begitu sangkarnya naik, dia langsung nyanyi. Nggak pakai ditepokin dulu.”

“Dia ngerti tuh, Pak. Kalau menang, dia bakal bawa keselamatan penumpang majikannya. Makanya dia kerja keras. Bapak harus gitu juga. Biar penumpang aman, selamat, dan nyaman, naik motor Bapak.”

“Iya, Neng. Biar jadi amalan Bapak, klo dah di akhirat ntar.”

“Amiiiinnn… Jadi helmnya ntar dikasih stiker ya, Pak. Helm Slamet Perkutut.”

“Ah, Neng. Bisa aja.”

Wimala tersenyum senang. Paling tidak saat ini dia sudah mengupayakan satu tindakan kecil yang dapat membawa keselamatan banyak orang. Dia masih punya tanggung jawab lainnya mengenai keamanan berkendara, yaitu membujuk pak ojek pengebut dan penyalip agar tidak melakukannya. Wimala akan memikirkan caranya nanti.

-000-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s