Late Post: MENYEMBUHKAN INFLASI YANG MERADANG DI BULAN RAMADHAN


Pada Bulan Ramadhan tahun 2015 ini, Bank Indonesia telah bersiap-siap untuk mengendalikan inflasi. Betapa tidak, bulan Mei 2015 inflasi di Indonesia mencapai 0,5% dengan inflasi tahunan 7,15%. Sangat jauh dari target inflasi tahunan 2015 s.d. 2016 yang berkisar 3 s.d. 5 %. Bulan April 2015, dua bulan menjelang puasa, inflasi bulanan masih mencapai 0,39% dengan inflasi tahunan 6,79%.  Sebenarnya inflasi di bulan Ramadhan tahun 2015 ini relatif kecil dibandingkan tahun 2014 yaitu di bulan Juli sebesar 0,93% dan tahun 2013 di bulan Agustus sebesar 1,12%. Angka inflasi bulanan dibawah 0,5% dianggap sebagai laju inflasi yang tidak terlalu kencang. Tetapi sekecil apapun nilai inflasi juga, bila berbicara masalah target, tentu harus ditekan.

Inflasi dan Bulan Ramadhan

Apa itu inflasi? Inflasi adalah peningkatan peredaran uang di masyarakat. Hal ini disebabkan banyak hal, yaitu peningkatan permintaan terhadap produk tertentu, peningkatan tarif produk yang menjadi hajat hidup orang banyak seperti listrik atau bahan bakar minyak, dan pasokan uang dari bank sentral ke pasar akibat meningkatnya permintaan seperti peningkatan konsumsi atau pembayaran Tunjangan Hari Raya. Dampak buruk dari inflasi adalah menurunnya nilai mata uang negara tersebut terhadap mata uang asing, atau terdepresiasi. Gampangnya sebagai contoh, bila beras di pasar mudah didapatkan karena musim panen, maka nilai beras tersebut akan turun yang ditandai dengan harganya menjadi lebih murah. Mulai dari akhir tahun 2014 sampai saat ini, Rupiah terus menurun nilainya dibandingkan Dollar Amerika, dengan kurs terakhir per 19 Juni 2015 adalah Rp 13.391 per satu USD. Hal ini disebabkan oleh The Fed, atau Bank Sentral Amerika, berencana untuk meningkatkan tarif bunga karena perekonomian Amerika Serikat telah membaik. Akibatnya, banyak investor berniat menanamkan uangnya di bank-bank Amerika Serikat yang akan menyalurkannya untuk kegiatan investasi pemacu kegiatan perekonomian, sehingga terjadi arus keluar mata uang USD dari negara-negara lain ke Amerika Serikat. Kelangkaan mata uang USD tersebut di luar Amerika Serikat akan  menyebabkan nilainya menguat dibandingkan mata ulang lain. Walaupun pada akhirnya Janet Yellen, Gubernur The Fed, menunda kenaikan tarif tersebut sampai dengan Januari 2016, tetapi isu kenaikan tarif bunga ini telah membuat nilai Rupiah terombang ambing dan terus menurun nilainya.

Inflasi di Indonesia pada bulan Ramadhan disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan, akibat meningkatnya konsumsi masyarakat. Harga bahan makanan per Mei 2015 rata-rata naik 1,39% dengan penyumbang utama adalah cabai merah yang naik sebesar 22,2% dan menyumbang inflasi sebesar 0,1% (BPS, Mei 2015).

Tabel kenaikan rata-rata bahan makanan di bulan Mei 2015 (Sumber BPS, Mei 2015)

Bahan Makanan Kenaikan rata-rata
Cabai Merah 22,2%
Daging ayam ras 5,09%
Bawang merah 6,19%
Telur ayam ras 6,13%
Ikan segar 0,58%
Beras -0,88%
Sumber BPS, Mei 2015

Patut menjadi sorotan, mengapa di bulan Ramadhan dengan kegiatan puasa yang bertujuan untuk menahan diri dari makan dan minum, malah terjadi peningkatan konsumsi. Mari kita lihat, begitu banyak pedagang makanan dan minuman kecil menjelang waktu berbuka puasa. Saya sebagai salah seorang muslim yang berniat untuk tidak berlebihan pada saat sahur dan buka puasa, bahkan begitu ngilernya melihat aneka ragam takjil tersebut. Berkeinginan untuk menekan frekuensi makan, dari tiga kali waktu makan menjadi cukup dua kali saja, tetapi dengan banyaknya godaan penjual, dan tagline berbuka puasa dengan yang manis (mungkin bermula dari promosi suatu merk minuman), akhirnya tidak dapat mengendalikan diri dan membeli demi selera. Pengendalian diri sesiang penuh menghilang menjelang berbuka puasa dan tekat mengurangi makan pun gagal, malah menambah dengan porsi makanan manis.

Sebenarnya apa penyebab dari tingginya tingkat konsumsi di Bulan Puasa? Pertama, tingkat pengendalian diri yang kurang dari pelaksana puasa. Merasa bahwa telah berpuasa seharian penuh, maka terdapat rasa ingin mengonsumsi semua makanan pada saat berbuka. Atau istilah kerennya, “lapar mata” dan “balas dendam”, apalagi pengaruh tagline “berbuka dengan yang manis”, yang sebenarnya tidak ada dalam anjuran agama (kurma tidak dapat disamakan atau digantikan begitu saja dengan makanan manis), dapat memacu pembelian impulsif takjil. Hal ini menyebabkan tingginya permintaan kebutuhan akan pangan, terutama pada keluarga. Besarnya penduduk muslim di Indonesia turut mempengaruhi kenaikan konsumsi tersebut. Kedua, hasrat untuk membeli bahan pangan persiapan hari raya Idul Fitri, dan kecenderungan untuk memborong karena adanya anggaran tunjangan hari raya. Bahkan bila memungkinkan pembelian dilakukan sedini mungkin bagi bahan makanan yang awet, untuk menghindari kenaikan harga menjelang hari-H. Ketiga, tingginya penawaran dari pasar, seperti pedagang musiman makanan berbuka; atau program acara belanja yang menawarkan konsumerisme seperti pasar murah, Pekan Raya Jakarta, dan Jakarta Great Sale. Pedagang musiman bahkan disinyalir menjadi penyebab inflasi paling utama, karena dari merekalah permintaan bahan makanan melonjak drastis. Di Bandung, penjual kolang kaling yang biasa menjual satu drum tiap hari, di bulan puasa bisa menjual dua sampai tiga drum per hari karena permintaan dari ibu-ibu rumah tangga yang tiba-tiba menjadi penjual sop buah untuk buka puasa. Pasar murah biasanya diadakan agar masyarakat dapat terbantu untuk membeli bahan pangan seperti beras, minyak, dan gula,  menjelang hari raya dengan harga jauh lebih murah dari harga normal, bahkan  nyaris gratis. Hanya hal ini dapat memacu masyarakat untuk membeli lebih banyak, bahkan yang tidak dibutuhkan sekalipun tetap dibeli karena harganya murah. Acara Pekan Raya Jakarta dan Jakarta Great Sale, merupakan acara belanja murah yang diadakan pemerintah daerah DKI Jakarta untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi diselenggarakan dalam waktu yang tidak terlalu tepat sehingga menambah laju inflasi pada bulan puasa.

Tingginya permintaan konsumsi bahan pangan di Bulan Ramadhan tersebut menyebabkan inflasi, karena dengan suplai dan persediaan yang relatif sama, maka pedagang akan meningkatkan harga. Akibatnya harga-harga di pasar mulai meroket tinggi, yang berlaku juga untuk masyarakat umum non muslim, dan memacu peredaran uang di masyarakat untuk mendapatkan produk dengan harga tinggi.

Penyembuh Inflasi yang Meradang di Bulan Ramadhan

Bagaimana cara menyembuhkan inflasi yang meradang di Bulan Ramadhan  disebabkan tingginya tingkat konsumsi pangan tersebut? Pertama, kembali pada kesadaran diri sendiri, bahwa puasa adalah salah satu bentuk pengendalian diri. Tidak berlebihan dalam hal apapun, termasuk konsumsi. Hal ini harus dibudayakan pada masyarakat, tidak saja di dalam bulan menjelang hari raya, tetapi juga di bulan-bulan biasa, karena membentuk budaya tidak dapat hanya dalam waktu pendek. Mengapa harus berbuka puasa sampai perut kekenyangan dan sulit bernafas, padahal siangnya dia dapat bertahan terhadap godaan makanan. Pemerintah Daerah Kepulauan Riau telah mengambil tindakan baik dengan mempersiapkan penceramah pengajian, yang akan menebarkan pesan untuk mengingatkan masalah pengendalian diri ini. Kedua,  pemerintah harus mempersiapkan pasokan bahan makanan agar tetap stabil selama Bulan Ramadhan s.d. beberapa hari setelah Idul Fitri. Hal ini dapat mencegah masyarakat memborong bahan makanan karena takut harga akan terus meningkat. Saat ini pemerintah telah menyikapi dengan mempersiapkan persediaan sejak tiga bulan sebelum Ramadhan. Hal ini cukup berpengaruh terhadap tingkat inflasi, dimana bulan Ramadhan tahun 2014 yaitu inflasi bulan Juli sebesar 0,93% menurun dari tahun 2013 inflasi bulan Agustus 1,12% yang masih mempersiapkan persediaan tiga bulan sebelum Idul Fitri.

Ketiga, mengkoordinir pedagang makanan buka puasa musiman, agar dapat mengontrol kebutuhan tambahan bahan makanan yang ditimbulkan oleh para pedagang ini. Koordinasi ini dilakukan oleh pemerintah daerah setempat, yang sekaligus mengatur lokasi perdagangan dan menarik retribusi daerah. Sudah bukan rahasia lagi, para pedagang musiman ini berjualan di sembarang tempat terutama di pinggir jalan yang ramai kendaraan, sehingga menimbulkan kemacetan dan membahayakan diri mereka sendiri. Pemberian lokasi tertentu dapat mengurai kemacetan karena pedagang musiman, dan retribusi daerah dapat mengontrol jumlah serta transaksi yang dilakukan. Selainitu, pemerintah dan pihak swasta diharapkan tidak mengadakan acara yang mengundang konsumerisme pada bulan puasa, karena harus menghormati dilaksanakannya bulan suci Ramadhan yang didalamnya terdapat perintah untuk mengendalikan diri terhadap nafsu, termasuk nafsu berbelanja. Bila pada siang hari, warung, restoran, dan tempat makanan ditutup, mengapa hal ini tak dapat dilakukan pula untuk acara-acara belanja? Keempat, menanamkan rasa cinta kepada tanah air dan Rupiah. Dengan tidak berbelanja berlebihan akan membantu tingkat inflasi tahunan dalam kisaran 3 s.d. 5 %. Menyebabkan nilai Rupiah stabil dan menguat, kegiatan perekonomian meningkat, dan tidak dikendalikan oleh pengaruh asing.

Siapkah anda mengendalikan diri?

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s