Pelit atau Mahal?


 

 

 

 

 

 

Beberapa minggu ini beberapa baju saya mulai robek. Sepertinya badan saya telah mulai membesar di beberapa bagian. Dan payahnya bagian yang robek tersebut cukup sulit untuk dijahit. Alhasil saya harus membeli beberapa baju untuk menggantinya.

Setelah pulang kerja saya masuk ke mal yang cukup besar di Semarang. Dan saya mulai terkaget kaget melihat label harga di kemeja kemeja kerja. Minimum harga adalah seratus ribu rupiah. Itu pun karena dipotong diskon dan bukan dari bahan yang terbaik.

Batal beli baju (karena shock liat label harga) saya ke salon. Ceritanya mau potong rambut nih. Tapi lagi lagi setelah lihat papan harga yang dipajang di depan salon, saya mundur lagi. Ayolah ini cuma sekadar potong rambut. Walaupun saya juga menghargai ide dari stylist, tapi 45 ribu untuk just cut your hair it’s ridiculous for me.

Di sisi lain, di depan toko buku Gramedia, ada obral buku. Mulai lima ribu. Saya kembali terhenyak. Tiga minggu yang lalu saya beli buku hasil pemikiran cukup serius dari kurang lebih 12 penulis. Cukup memenuhi kadar inteligensia yang tinggi. Saat saya beli harga 78 ribu. Sekarang cukup dihargai 10 ribu saja.

Bukannya saya menyesal telah beli dengan harga mahal (walaupun diakui ada juga rasa itu). Tapi ini tentang intelektual seseorang.pikiran seseorang yang mungkin menghabiskan waktu bertahun tahun untuk berpikir, menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk menyebarkan pengetahuan ke masyarakat. Dan harganya cuma sepuluh ribu rupiah!

Saya tidak mau berpendapat atau menghakimi orang. Buat saya semua orang punya pilihan. Dan kebetulan pilihan itu mendukung gaya hidup hedonisme dibanding intelektual. Konsumtif dibanding produktif. Saya tahu persis harga pokok produksi untuk sepotong baju itu hanya seperempat dari harga yang dipajang. Kalaupun ada diskon 50% ya si produsen tetap untung 100%. Kok ya tega teganya ambil untung gede banget.

Tapi ya sudahlah. Sekali lagi itu masalah pilihan. Bahkan saya juga rela untuk dibilang pelit oleh teman saat saya bertekat untuk menjahit baju sendiri karena sebal lihat label harga yang mahal tadi. He he..

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s