Klan Bubur Ayam, Mie Ayam dan Ojek


Hal yang saya senangi saat bersepeda pagi adalah menikmati alam dan manusia. Suasana pagi jelas menyenangkan: sejuk, damai, dan tenang. Sementara manusia pagi juga menarik, yaitu Tukang Bubur, dan Pedagang Pasar.

Saat sudah agak berkeringat bersepeda, saya sering mampir ke pasar. Membeli gendar pecel. Si ibu penjual kebetulan tetangga saya tetapi beda RT. Enak juga gendar pecel buatan si ibu. Sambil dia membuat, kami pun sibuk ngobrol. Sampai pada suatu ketika meluncurlah pengakuan darinya, bahwa gerobak yang biasa dia gunakan untuk mengangkut bahan jualan dari rumahnya pernah dipinjamkan ke tetangga untuk mengangkut mayat anak si tetangga. Waduh, setelah itu saya jarang balik ke ibu penjual ini dan akhirnya gak pernah nongol lagi.

Lain lagi dengan taktik mbak penjual pisang. Pisang ambon yang dijual relatif bagus, tetapi ditaruh di kranjang bambu yang bawahnya disumpal dengan sabut kelapa. Alasannya biar pisangnya keliatan. Lalu terjadi tawar menawar yang tricky dengan saya:

Saya: “Mbak, pisangnya dijual berapa?”

Mbak: “Dua belas rebu, Non”

Saya: “Mahal amat, sepuluh rebu aja dong”

Mbak:”Nggak dapet, Non. Ini aja tadi ditawar sebelas rebu gak dikasih”.

Perhatikan, dia mulai menggiring saya ke harga sebelas ribu. Karena saya pikir harga tersebut adalah harga damai antara sepuluh dan dua belas ribu, saya tidak ngotot untuk mempertahankan harga sepuluh ribu. Apalagi ego saya sebagai pembeli, masak sebelas ribu aja gak dikasih.

Saya: “ya udah, sebelas ribu aja nih. Sama saya dikasih dong”.

Pisang pun berpindah tangan.

Lain hari, saat gowes ketemu tukang bubur, karena pengen langsung saya stop. Beli tiga bungkus, ditambah chit chat pagi hari. Iseng-iseng saya nanya area jualannya dimana saja, apa nyampe rumah saya? Si Bapak menjelaskan bahwa adiknya yang berjualan bubur ayam di area rumah saya. Nah, ternyata ada adik iparnya  juga jualan mie ayam sekaligus tukang ojek yang biasa ngantar saya pulang kantor. Kakak iparnya juga tukang ojek yang juga saya kenal. Nah mantu si kakak ipar ini juga jualan nasi goreng dan mi goreng jawa yang sering saya beli.

Weleh, hebat juga nih sekeluarga jadi klan pedagang alias pengusaha. Ternyata orang cari rezeki halal itu dari mana saja. Jauh lebih bagus daripada banyak di sekitar kita yang penganggur tetapi ogah berusaha dan merasa punya harga diri terlalu tinggi untuk bekerja keras.

Saya pulang ke rumah dengan rasa syukur dan motivasi yang tinggi. Bila tipikal orang Indonesia adalah pekerja keras seperti klan tukang Bubur Ayam, Mie Ayam, dan Ojek, tentu saya termasuk didalamnya kan?

 

 

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Parodi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s