Gas Teruuusss…


Hujan tidak henti-hentinya mengguyur Semarang sejak pukul 14.00 s.d. sore, dengan intensitas tinggi. Pukul 17.00 seperti biasa saya berkemas-kemas untuk pulang. Tapi teman di meja sebelah mengingatkan kantor terkepung banjir. Pos Satpam di depan sudah kemasukan air sedengkul.

Segera saya lari ke jendela yang menghadap jalan depan kantor, meruak gerombolan kepala yang menyesaki pandangan. Alamak, benar kata si teman. Jalan depan sudah tergenang banjir cukup tinggi.

Kolega saya, panggil saja si mbak, menawari untuk mengarungi lautan banjir naik inovanya. Jelas saya mengiyakan dengan asumsi tidak ada angkot atau tumpangan yang bakal mau melibas banjir. Paling tidak menunggu susut dulu, dan itu bisa besok.

Akhirnya keluarlah kami dari kantor menyongsong banjir. Celana sudah ditekuk tinggi-tinggi, bersandal jepit, plus payung. Dan pyuk, pyuk, kaki coba meraba-raba bila ada selokan yang tidak terlihat. Air semakin tinggi, tetapi untunglah kami menemukan tempat pijakan untuk berjalan.

Inova si mbak sudah tercapai. Mobil pun keluar dari lahan parkir. membelok ke jalan yang penuh air dan kendaraan yang ragu untuk terus menerjang banjir. Pada ruas jalan pertama air masih setinggi ban mobil si mbak. Pada ruas jalan kedua di bundaran bubakan, air sudah mulai masuk knalpot. Tapi si mbak cukup cerdas untuk terus mengegas kendaraannya, agar air tidak terus tersedot ke dalam mesin. Inova pun berjalan terseok seok melaju di kubangan banjir. Mantra “gas teruuuss, mbak” mengalir dari mulut saya. Ketegangan memuncak.

Kendaraan-kendaraan mulai bergerak perlahan. Pertama, karena jalan macet. Kedua karena memang mogok akibat kemasukan air. Becak-becak berseliweran menawarkan jasa, karena memang hanya kendaraan ini yang anti banjir (selain jalan kaki yang beresiko kudisan terkena air bah).

Ruas jalan kedua, air masih tinggi. Suara mesin innova mulai kedengaran aneh, seperti “ngeden” (orang mengejan). Mantra gas terus masih saya perdengarkan tapi mulai lirih. Sampai akhirnya semua terlewati dan masuk ruas jalan ketiga yang lumayan tidak terlalu tinggi level airnya.

Akhirnya, alhamdulillah, semua ruas jalan yang level 8 banjir (meniru level kepedasan maicih) dapat dilalui. Saya dan si mbak tertawa bahagia, sambil menangis terharu (klo ini rada lebay) berhasil keluar dari kepungan air.

banjir semarang (berita8.com)

banjir semarang (berita8.com)

Semoga air bah ini cepat surut..

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Parodi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s