Confused Confucius


Tak hendak merendahkan filosof China, Confucius, dengan menggunakan judul diatas. Hanya mengulang ungkapan kolega, saat saya membacakan artikel tentang kerja yang mengutip perkataan filosof legendaris tersebut, di tengah deadline yang brutal. Find a job you love and you’ll never work a day in your life. 

“Confucius nya lagi bingung kali, sampe tega-teganya ngomong gitu”, omel teman saya dengan mata tetap memelototi layar komputer dan tangannya mengetik sepuluh jari (pas, dan tidak kelebihan satu jari pun). Sementara teman lainnya malah minta diceritakan artikel tentang kerja lainnya. Katanya biar termotivasi dan mata tidak mengantuk di dini hari jam 00, saat kopi sudah tak mempan lagi.

Confucius tidak salah. Bahkan OECD atau organisasi kerja sama ekonomi yang menelurkan standar keberhasilan ekonomi suatu negara, telah menghasilkan satu standar baru yaitu indeks kebahagiaan (Life Happiness Index). Bahwa negara tidak serta merta dikatakan maju secara ekonomi, bila hanya ditunjukkan GDP meningkat, inflasi menurun, pendapatan per kapita meningkat. Tetapi juga apakah penduduknya bahagia dengan itu semua. Apakah sandang pangan mereka tercukupi, dapat menyekolahkan anak, mempunyai pekerjaan yang baik, dan lain sebagainya.

Menjadi pertanyaan, kebahagiaan apa yang dicari, saat laba sudah ditangan tetapi terus saja dikejar. Kompas dan Bisnis Indonesia (minggu II Juni 2011) memberitakan bahwa laba bank di Indonesia telah tumbuh 23% atau 23T s.d. April 2011. Diatas laba pada periode sama April 2010 yang berkisar 19T. Perbanas telah mengingatkan ekspansi yang berlebihan bisa membahayakan. Karyawan yang lelah dan dikejar target berpeluang melakukan deviasi lebih besar. Baik yang disengaja maupun tidak. Demikian pula dengan calon debitur yang dikucuri. Mumpung ada peluang dapat dana besar, lebih baik dimanfaatkan. Entah nanti digunakan sesuai tujuan atau tidak.

Artikel di Suara Merdeka (16 Juni 2011) menghubungkan perang dengan ekonomi riba. Bahwa ekonomi riba memberi peluang kepada negara dengan memberi laba sebanyak-banyaknya, untuk berperang demi kepentingannya. Bahkan bila perlu memerangi negara berdaulat. Sebenarnya saya tidak setuju dengan pendapat ini. Karena perang tergantung pelakunya. Tetapi bila melihat prakteknya saat ini, saya terpaksa mengamini.

Saat keluar dari kantor keesokan harinya, dan masih berpeluang melihat gerhana bulan, saya bersyukur masih dapat bekerja. Ada pertanyaan mengganjal: Bekerja untuk Tuhan, atau pemegang saham? Semoga kebijakan yang tidak terlalu bijaksana dapat dipertimbangkan kembali. Mengingat semuanya dipertanggungjawabkan di akhirat.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Bank, My Economic Thinking. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s