RANJANG PROKRUSTES


Siaran BBC Knowledge yang beberapa hari ini didominasi perkawinan William dan Kate Middleton dari Inggris, diselai dengan tayangan advonturir yang menarik. Perjalanan seorang host  – namai saja Mike – ke Jazirah Arab. Ada konversasi indah antara si Mike dengan guidenya, seorang wanita Arab bernama Damya.

“Apakah kamu merasa tidak tertindas dengan perlakuan seperti ini?”, tanya Mike sambil melirik abaya (gamis hitam) yang dikenakan Damya.

“Tentu saja tidak. Saya heran dengan anggapan orang barat yang selalu menanyakan hal yang sama. Bahwa kami wanita Arab ditindas laki-laki karena harus berpakaian tertutup warna hitam seperti ini. Bagi kami ini adalah hal biasa, karena kami tumbuh dengan cara seperti ini. Apakah menurutmu wanita dengan sepatu hak tinggi adalah tertindas? Padahal mereka bersedia mematahkan kaki demi persepsi laki-laki yang menyatakan kaki mereka langsing dan indah apabila memakai sepatu hak tinggi”.

Si Mike terdiam, kemudian menjawab sambil tersenyum,”Anda mengembalikan fakta kepada kami dengan lihai”.

Saya menarik kesimpulan dari tayangan ini. Lain lubuk lain ikannya. Lakum Dinukum Waliyadin. Orang atau masyarkat diciptakan berbeda sesuai dengan sifat, adat kebiasannnya masing-masing. Bisa ditentukan oleh faktor internal atau bahkan eksternal. Yang diperlukan adalah rasa saling menghormati perbedaan itu, tidak perlu saling mencela atau berbantahan.

Ada cerita menarik tentang Prokrustes, seorang Yunani (?)yang dihidup di tahun 1000-an SM. Dia sangat ramah menjamu tamunya, tetapi setelah itu dia akan memaksa mereka untuk tidur di ranjangnya. Bukan untuk dijadikan teman tidur, tetapi untuk “disesuaikan” dengan ukuran ranjang. Bila kaki terlalu panjang, melebihi ukuran ranjang, akan segera dipotong. Demikian pula bila terlalu pendek akan ditarik. Hal ini mengungkapkan kesenangan manusia untuk memaksakan kehendak. Bahwa semua orang harus mengikuti aturan mainnya. Bila pemikiran ini ada pada pemimpin, bisa kacau negaranya.

Ngomong-ngomong soal negara, saya jadi ingat AS. Dia ini ahlinya melanggar kedaulatan negara. Ingat kasus Libya, dimana AS dengan dalih membela rakyat Afganistan yang diteror pemerintahnya, mengebom kesana kemari negara berdaulat tersebut. Tanpa bermaksud membela Ghadaffi, bukankah wajar pemerintah untuk menangkap pemberontak yang akan menyerang negara? Atau kasus Pakistan dengan Osama bin Laden nya. Lah wong jelas-jelas Osama ada di suatu negara yang berdaulat, eh seenaknya saja AS tanpa permisi menembak dan menangkap Osama. Banyak contoh lain yang  jelas menunjukkan AS tidak akan pernah menghormati negara lain, bila menyangkut kepentingannya sendiri.

Kesimpulan dari uraian ini: hormatilah orang atau pihak lain sesuai dengan adat istiadat dan kebiasaan mereka.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Cerita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s