Dunia Riba


Hanya satu pikiran sederhana terbetik, saat memikirkan bahwa saya bekerja di dunia riba. Mencari uang untuk dipinjamkan dengan sedikit imbalan demi keuntungan perusahaan sekaligus imbalan untuk sedemikian banyak karyawan. Apakah menyimpan emas pada hakikatnya lebih baik? Emas yang dibeli dengan uang penghasilan hanya terseimpan di laci meja. Nilainya memang meningkat, tetapi hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri, termasuk pedagang emas. Bila diperhitungkan dengan zakat 2,5% ya termasuk sekelompok orang yang berhak.

Berbeda dengan skema kredit. Adalah benar bahwa bank mengumpulkan uang nasabah dan mengambil bunga sebagai imbalan, yang termasuk kategori riba. Tetapi apakah terpikirkan bahwa uang tersebut menjadi modal kerja pengusaha, penggerak bisnis dan usaha, serta pada akhirnya sebagai penggerak perekonomian negara. Memberikan lapangan pekerjaan bagi warga negara, memancing investasi dalam negeri dan luar negeri. Memberikan pajak bagi kas negara, dan tentu saja zakat penghasilan yang harus disetorkan. Suatu efek domino yang luar biasa dibandingkan penyimpanan emas, dan nampaknya manfaat lebih besar dibandingkan mudharatnya.

Saya tidak tahu apakah perbandingan ini benar adanya. Bahkan Quraish Shihab pernah berkata, selama bank masih memberikan manfaat bagi rakyat banyak, aktivitas tersebut dapat berjalan. Saya hanya mencoba berfikir dan bukan mencari pembenaran. Bukankah Allah menyuruh kita untuk berfikir?

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Bank, My Economic Thinking. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s