Sehari di Roma


Ini adalah kisah kehidupan di Roma, Italia selama 24 jam. Disiarkan oleh BBC Knowledges, my favourite channel karena bisa mengantarkan imajinasi ke kota-kota terbaik di dunia dalam siaran The Greatest Cities in the World. Host acara jalan-jalan ini, Geoff Rhys Jones, membuka hari dengan minum segelas kopi double ekspresso di suatu bar. Orang Roma biasa menenggak segelas kopi di pagi hari dengan posisi berdiri, bertelekan meja bar, untuk kemudian pergi dengan terburu-buru. Minum kopi bukan sesuatu untuk dinikmati berlama-lama, berbincang-bincang dengan handai taulan seperti gaya Starbuck. Kopi disesuaikan dengan fungsinya untuk memompa andrenalin. Cukup disesap 5 menit, dan energinya untuk sepanjang hari.

Roma di musim panas suhu berkisar 30 s.d. 40 derajat celcius. Jam 11 siang, Geoff diantar menyusuri terowongan air di bawah kota. Pada saat menengok ke luar kisi-kisi, tampak kolam Fonte di Trevi dengan air mancur yang jernih dan orang-orang yang “ngadem” di sekelilingnya. Ada yang membasuh tangan dan mukanya, ada yang hanya duduk-duduk. Yang luar biasa adalah setiap sebulan sekali saat beberapa kolam di kota dibersihkan, penguras bertugas mengumpulkan koin dari dasar kolam. Jumlahnya 80,000 Euro atau Rp. 960 juta (1 Euro=Rp.12.000). Kabarnya, koin itu untuk mandi Dewi Agrippa, dewinya orang Romawi. Yang jelas penerima koin saat ini yaitu Palang Merah Italia cukup beruntung.

Jam 12.00 siang. Roma kuno, yaitu Romawi, biasa menetapkan hari selama 12 jam tanpa memperhatikan siklus terbitnya matahari. Hal ini diperbaiki Paus dengan menetapkan waktu 24 jam dan mensikronisasi waktu gereja. Tepat setiap jam 12.00 siang, di tengah kota ditembakkan meriam yang terdengar sampai di seluruh penjuru kota. Dan sebagai balasannya, 900 gereja membunyikan lonceng.

Jam 14.00 siang, Roma panas luar biasa. Suhu 40 derajat celcius. Banyak orang khusus tidur siang untuk melewatkan hari. Sementara si Geoff malah niat masak dengan orang asli Roma. Masakannya tidak jauh-jauh beda dengan kesenangan orang Indonesia : J E R O AN !! Di boronglah jeroan anak domba berusia dua bulan yaitu usus yang masih penuh makanan, plus hati, plus daging perut. Ternyata jauh-jauh ke Eropa, ketemunya kolesterol juga..hehe..

Jam 16.00, Roma masih panas. Toko-toko mulai bersiap mengakhiri hari. Geoff ke pusat kota, di tempat Julius Caesar dibunuh pada saat rapat senat. Julius Caesar dan Benigto Mussolini, PM Italia era Bung Karno, punya kesamaan penyebab mengapa mereka sama-sama dibunuh. Bukan karena kediktatoran, tetapi karena keinginan untuk merapikan kota Roma yang penuh dengan reruntuhan bersejarah. Ya paling tidak bisa rapi sedikitlah, begitu menurut pikiran mereka. Tapi warga kota tidak setuju karena merasa Roma telah lahir dari runtuhan puing-puing atau “kotoran” (detritus), dan sejarah membuktikan pembunuhan menjadi akhir hidup mereka.

Geoff lalu ngobrol dengan teman wanitanya berdarah half-Roma. Diperlukan 7 generasi tinggal di kota Roma untuk dapat dikatakan orang Roma asli. Sementara si wanita pada turunan ke-7 tapi kemudian dirusak oleh ibunya yang orang Tuscany, suatu kota kecil di Italia. Si Geoff kemudian pergi ke kota Tuscany untuk mengikuti iring-iringan Madonna, yaitu patung Bunda Maria yang akan di arak di Sungai Tiber. Sejarahnya patung ini ditemukan terdampar oleh seorang nelayan, yang kemudian didandani dan diarak di sungai. Pada saat matahari terbenam dan orang-orang berteriak “Viva Maria”, arakan perahu berhenti sejenak. Suasana sangat indah.

Pukul 19.30. Malam mulai datang, tapi matahari enggan menghilang. Suasana malam mulai terlihat. Banyak orang lalu lalang sekedar untuk melihat orang lain. Roma adalah kota mode dan perempuannya berdandan dengan gaya trend-setter. Bahkan berjalan dengan hak tinggi 7 cm di trotoar bukan hal yang sulit untuk mereka. Pertunjukan bioskop diputar di tengah kota. Roma tidak akan tidur sampai dengan pukul 2.00 pagi. Atau bila perlu sampai fajar.

Pukul 24.00. Geoff mengakhiri hari dengan keliling kota bersama klub Vespa kota Roma. Jangan lupa Vespa yang dibuat dari satu baja utuh itu berasal dari Italia. Eudorf Piaggio, pencipta Vespa, pada mulanya mengatakan “sem demma vespa” yang artinya “seperti bentuk tawon” saat melihat hasil karyanya itu

Begitulah kehidupan di Roma. Lumayan juga bisa melihat sisi lain dunia dengan bayar Rp.8.000,- sekedar buat langganan tv kabel🙂

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Seri Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s