Penjual yang Ditelanjangi – Kisah Seputar Published Prime Lending Rate


Bank Indonesia lagi-lagi mengeluar kebijakan. Paling tidak per Maret 2011, bank yang bermodal minimum Rp.10 triliun harus mempublikasikan suku bunga pinjaman yang akan dikenakan kepada debitur premium atau super penting. Biasanya debitur premium ini mendapatkan suku bunga yang cukup rendah karena mempunyai profil resiko rendah, sekaligus usaha bank untuk menarik pelanggan demi kepentingan pemberian kredit. Suku bunga ini dinamai Prime Lending Rate – PLR.

Nah, PLR ini cuma beda-beda tipis dari suku bunga dasar (Base Lending Rate-BLR), yaitu suku bunga yang menjadi patokan untuk membentuk suku bunga yang akan diberikan kepada debitur, bisa premium bisa biasa saja. BLR terbentuk dari 3 hal: biaya dana, biaya pemeliharaan, dan keuntungan bank. Biaya dana adalah biaya untuk memberikan bunga kepada para penabung/deposan. Biaya pemeliharaan merupakan biaya untuk memelihara infrastruktur bank.  Sedangkan PLR sendiri adalah BLR ditambah dengan profil resiko debitur. Bila debitur diperkirakan bermasalah, jelas profil resikonya besar sehingga suku bunga pinjaman yang dikenakan cukup tinggi. Hal ini berkebalikan dengan debitur premium yang punya profil resiko rendah.

Kembali membahas kebijakan BI diatas, bahwa bank harus mempulikasikan suku bunga pinjaman dapat diibaratkan pedagang di pasar yang mencantumkan harga di barang yang akan dijual. Pedagang A jual beras rojolele harga Rp. 6.000,- per kg. Pedagang B yang semula mencantumkan harga Rp. 7.000,- begitu melirik pedagang A langsung ikut menurunkan harga jadi Rp. 6.000,-. Secara ilustrasi memang maksud BI dapat dipahami, yaitu meningkatkan persaingan antar bank agar lebih efisien (menekan biaya pemeliharaan) dan menekan keuntungan (profit margin). Tetapi harus diingat profil resiko antara satu debitur satu dengan yang lain berbeda, sehingga tidak bisa bila  seluruh debitur meminta suku bunga terendah yang biasa diberikan kepada debitur premium.

Bank-bank tersebut ibarat penjual yang harus mengumumkan untung sekian persen dari transaksi keuangan. Seperti penjual yang ditelanjangi. Hal yang lucu sedangkan penjual di pasar pun sedapat mungkin hanya dia yang tahu keuntungannya, walaupun di nego habis-habisan oleh pembeli.

Selain itu, calon debitur bukanlah orang yang bodoh saat memilih suatu bank sebagai krediturnya. Bila ilustrasi pasar tadi tepat, alangkah naifnya pandangan BI terhadap para debitur. Mereka mempunyai cara tersendiri untuk bernegosiasi dengan bank, tanpa perlu pengumuman terbuka seperti itu.

Intinya: biarkan kompetisi alamiah yang akan menentukan siapa pemenang, tanpa intervensi dari peraturan-peraturan yang hanya akan mengekang kegiatan bisnis. Bank tanpa peraturan seperti itu akan dapat dengan mudah menelisik strategi untuk berkompetisi.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Bank, My Economic Thinking and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s