All About Period


Bicara tentang gejala kewanitaan ini seakan tiada habisnya. Seperti saat ini saya sedang kebingungan mencari obat penunda haid agar ibadah di tanah suci dapat berjalan lancar. Saat saya bertanya ke agen travel dengan asumsi mereka biasa merekomendasikan kepada jamaah, malah disarankan ke dokter saja. Saat akan ke dokter keluarga, saya malah ragu apakah dia mengetahuinya (berhubung dokternya laki-laki dan ahli penyakit dalam). Akhirnya saya browsing internet dan menemukan beberapa blog pengalaman di tanah suci. Nama si obat adalah Premolut diminum 2 kali satu hari atau rentang waktu 12 jam, dan Litunyl satu kali minum dalam satu hari. Obat ini akan mengatur hormon wanita yaitu estrogen sehingga diminum harus paling lambat seminggu setelah menstruasi terakhir sebelum berangkat. Waduh, berarti paling tidak saya harus minum obat ini total 3 minggu, atau hampir 1 bulan nantinya. Tapi kabarnya tetap ada juga yang tetap mengalami gejala haid ini, jadi dosisnya harus ditingkatkan. Seperti premolut harus 3 kali satu hari misalkan. Agar tidak jebol juga.

Oke, cerita lain tentang menstruasi ini di dunia kerja. Sudah jamak adanya cuti pada hari pertama dan kedua untuk wanita pekerja pada saat menstruasi. Nah, jaman saya bekerja di manufaktur yang umumnya pekerjanya adalah pria, tentu saja hampir tidak ada yang mengambil cuti ini. Dan saya pun baru ngeh setelah membaca ‘undang-undang perburuhan’. Akibatnya saya mulai mengambil cuti ini. Pada awalnya saya cuti tepat pada hari pertama mens. Setelah itu suka-suka saya, dan untungnya tidak perlu surat dokter untuk itu. Kapanpun saya ingin libur tiap bulannya, paling tidak saya ambil waktu sehari untuk cuti itu. Boss (yang kebetulan laki-laki) langsung curiga dan bertanya “kamu kok haidnya tanggalnya beda-beda sih”. Saya hampir tergelak, tapi langsung pasang tampang serius, “bapak ngitung tanggal haid saya ya pak?”. Hehehe… Sedangkan teman pria malah bergumam, rasa-rasanya kamu ambil cuti lebih banyak daripada saya, kok cuti tahunan kamu masih utuh 12 hari sih? Nah, lu..

Kali lain cerita menstruasi ini di tempat kerja saya yang lain, dimana faktor kepindahan adalah hal yang utama. Pindah disini karena kantor saya punya banyak cabang di Indonesia sehingga orang dianggap mumpuni bila telah merasakan pindah ke luar jawa. Hal ini tentunya merepotkan, terutama bagi pekerja wanita yang biasanya dibebani juga ngurus anak. Bisa dibayangkan, ibu di luar jawa bapak di dalam jawa dengan anak-anaknya. Akibatnya, banyak pekerja wanita yang berusaha dengan segala cara agar tidak dipindahkan dan pada umumnya berhasil. Pekerja wanita seperti ini sering digelari; “dari perawan sampai menopause, tetep aja disitu”. Tapi jangan salah, biasanya pekerja wanita yang bisa seperti ini bargaining powernya tinggi. Kalau tidak kecerdasan mengatur anak buah, ya keluwesan dia dalam bernegosiasi.

Tapi tamu bulanan ini memang dirindukan. Bila dia tidak datang, bagi wanita menikah yang ingin punya anak jelas menyenangkan. Tapi bagi wanita belum menikah, tentu menyedihkan. Dan bagi wanita usia sepuh, juga menyedihkan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s