Senyum dan Sapa


Seorang senior di tempat kerja memberi tahu saya,

“Kamu harus lebih banyak tersenyum, Non. Kalau ingin promosi, baik-baikin tuh boss. Kalau ketemu di lift, di musholla, di toilet, bilang selamat pagi, siang, sore”.

Saya mengangkat alis, ”Promosi itu bukan karena kita dianggap mampu berada dalam posisi itu? Karena potensi dan keahlian?”

Senior saya berkacak pinggang, ”Naik pangkat itu bukan seperti naik kelas, Non. Kamu dianggap pintar, sudah cukup dapat ranking satu. Promosi itu berdasarkan PLN. Kamu tahu apa itu?”

Saya menggeleng takzim.

“PLN itu Prestasi, Lobby, dan Nasib. Prestasi doang kagak bisa ngelobi, kamu gak bakal keliatan. Lobi doang kagak ada prestasi, kamu bakal ketendang. Kalo masalah nasib enggak bisa diutik-utik dah, selain doa kencang-kencang.”

Dinasehati seperti itu saya rada-rada keki juga. Berarti muka saya yang sudah seperti durian terbelah kalau tertawa (saking lebarnya) enggak dianggap. Lagian kurang apa saya menyapa boss kalau ketemu di toilet. Mesam mesem sambil menyapa hormat. “Kebelet ya boss?”.

Ditambah lagi tekad saya di awal tahun untuk lebih ramah kepada orang lain. Mau kenal atau enggak sama saja. Senyum dan sapa tanpa hirau reaksi orang tersebut, mau dibalas atau enggak. Tapi kok suasana jadi lain, bila kita melakukannya karena disuruh untuk berbuat baik, bukan kesadaran sendiri. Apalagi yang nyuruh boss.

Kali lain, saya disuruh hati-hati bila bicara. Padahal target yang ditetapkan jelas-jelas tidak bakal terlaksana. Eh, malah saya yang dibilang kurang kemauan untuk melaksanakan. Ibaratnya disuruh bilang Semarang Pesona Asia, tapi masih banjir dimana-mana (ini perumpamaan lhooo…). Jadi harapan si pemberi target adalah saat diberi target harus jawab: siap, laksanakan. Masalah nanti tercapai atau tidak urusan belakang. Katanya sih, itu berarti mau berusaha dulu, bisa tidaknya urusan nanti. Kalau saya bilang sih, itu gak realistis dan prakteknya pasti kebanyakan menyimpang.

Jadi ya sudah, berhubung masih mau periuk nasi berkebul, saya berdamai saja dengan keadaan. Atau dengan kata lain ambil hikmahnya, biar hati senang dan berpahala.

Kesimpulan dari diskusi satu arah dengan senior saya tadi:

  1. Siapkan senyuman lebar dan sapaan hangat untuk semua orang. Enggak perduli buat office boy atau boss besar, semua sama. Tujuan utama: membahagiakan orang. Tujuan lain-lain menyusul belakangan.
  2. Berapapun target yang diberikan, telen saja. Bisa gak bisa, dapat gak dapat, kerjain aja. Kalo gak dapat ya paling diomelin dan gak dapat bonus. Selama masih dapat rezeki, life must go on.
  3. Perbaiki prestasi. Saya tetap yakin pengetahuan menguasai segalanya, termasuk untuk mencapai kedudukan puncak. Lobbying is just second effort of all.

Apalagi yang ditunggu. Ayo senyum dan sapalah orang di sekelilingmu.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s