Don’t shoot the messenger


Pada dasarnya orang tidak suka dikritik.  Karena kritik dianggap pedas dan menurunkan harga diri. Kritik membangun saja pedas apalagi memojokkan. Berikut cerita para pengritik dan yang dikritik.

Sebuah perusahaan pasti ada prosedur untuk bekerja yang dinamakan Standard Operating Procedure (SOP). Setiap karyawan harus mematuhi SOP tersebut agar pekerjaaannya sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan. Tujuannya satu, produk yang dihasilkan seragam dan berkualitas. Tapi seperti halnya idiom “aturan dibuat untuk dilanggar”, ada-ada saja pelaksanaannya di lapangan sesuai dengan persepsi masing-masing karyawan. Bila i masih sesuai koridor dapat dimaklumi, tetapi bila menyimpang terlalu jauh perlu diwaspadai.

Perusahaan merasa perlu mengangkat pengawas untuk menjaga  agar karyawan  bekerja sesuai koridor SOP. Pengawas ini bertitel auditor dan bertugas meneliti pekerjaan atau aktivitas kerja karyawan. Bila ada hal menyimpang, auditor harus melaporkan kepada pimpinan agar ditindaklanjuti. Nah, karena pekerjaannya suka lapor, auditor ibarat kurir (the messenger) pembawa berita buruk bagi karyawan. Karena merasa menjadi terdakwa, si karyawan tadi akan membela diri sejadi-jadinya. Prinsipnya dia tidak bersalah, tidak seperti yang dituduhkan. Sementara si auditor membawa fakta sampai tegang urat leher untuk membuktikan laporannya benar. Bahkan si auditor dikatakan tidak pernah terjun ke lapangan, hanya tahu teori saja tapi bisa sok tau menyalahkan orang.

Saya pernah menjadi auditor, dan sering menemukan penyimpangan dari daftar checklist. Di pertemuan saya laporkan apa yang terjadi. Wah, reaksinya luar biasa. Kalimat-kalimat ‘pertahanan’ bermunculan. “Seharusnya bukan seperti itu.., menurut SOP seperti ini.., kamu yang salah menginterpretasikan,…”, sampai  remehan “anak kecil, sok tahu kamu..”.  Saya tahu harus membawa bukti yang kuat agar tidak seperti monyet yang ditembak dari segala penjuru. Setelah tahu bukti dan sedikit perbantahan, urusan selesai. Biasanya auditor menang, asal kuat bukti itu tadi.

Auditor sering mengangkat  ketidakberesan di lapangan, dan hal ini tidak disukai karyawan yang dianggap tidak becus bekerja. Tapi harus diakui, walaupun diserang dari segala penjuru, auditor adalah tangan kanan perusahaan untuk menjalankan bisnis dengan baik. Setiap penyimpangan harus dibereskan agar perusahaan tetap hidup. Bila tidak akan membawa kegoncangan bagi bisnis. Jangan mencurigai atau melawan. Cukup bekerja sama, jelaskan apa yang terjadi. Toh apabila kita tidak berbuat salah tidak ada yang perlu ditutupi.

So please don’t shoot the messenger.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s