Sekilas Pagi di Semarang


Kota Semarang awal tahun 2011 diwarnai hujan yang cukup deras sepanjang hari. Akibatnya dapat ditebak, banjir melanda kota. Contohnya pagi tanggal 12 Januari 2011. Hujan deras ditambah angin kencang yang menderu telah dimulai sejak kemarin sore, dan terus berlanjut sampai malam. Menjelang tidur malam, saya hanya bisa berdoa semoga esok saat akan berangkat kerja, hujan segera berhenti. Ditambah lagi banjir yang pasti melanda area kantor saya hilang, buzz…buzz..

Esoknya saat bangun, doa itu tidak terkabul. Hujan masih deras dengan kekonstanan yang sama. Ya sudah, pasrah saja. Dengan rasa enggan, saya mengenakan kaos dan celana pendek, kemudian jaket, lalu baru jas hujan. Kaos kaki dan sandal segera dikenakan. Komplit, serasa robot gaban. Sebenarnya sih mau pake sepatu boot, tapi kok kaki yang bengkak gara-gara jatuh kemarin belum kompromi.

Pak Ojek yang setia sudah menunggu di depan rumah. Bersamanya akan kuarungi samudera air coklat. Halah..mau kebanjiran kok ya nyastraūüėČ . Keluar rumah masih aman, belum ada halangan menghadang. Hanya segenang air dicipratkan oleh mobil kijang innova dan tepat mengenai kaus kaki. Walah sudah mulai kedinginan nih.

Perjalanan lancar aman terkendali. Menjelang beberapa ratus meter dari kantor, air telah mulai nampak berkecipak. Siap-siap nih, batin saya. Maksudnya siap-siap berdoa dan mengangkat kaki tinggi-tinggi agar tidak basah, dengan tidak boleh melakukan gerakan mengejut. Takut pak ojek kaget, sepeda motornya oleng, dan potensi  terjun ke air bah bisa terealisasi. Dibutuhkan konsentrasi tinggi untuk menjaga motor tidak mati saat melibas genangan air. Rahasianya jangan pernah pindah persnelling dan menjaga gas tetap konstan.

Air mengecipak dahsyat di sekeliling saya. Untung mobil yang melintas cukup ‘pengertian’ pada pengendara motor sehingga mereka tidak melaju cepat-cepat. Tapi tentu saja juga ada faktor lain, mereka juga tidak mau mogok di jalan karena karburatornya keciprat air akibat melintas terlalu cepat.

Akhirnya doa saya terkabul. Ruas sepanjang 500 meter itu dari jalan Mataram sampai dengan Bundaran Bubakan depan Hotel Jelita terlewati juga. Kedalaman air kurang lebih setengah meter. Tidak terlalu tinggi sih, tapi ada juga motor yang telah jadi korban. Knalpotnya kemasukan air. Pak Ojek cukup jago mengendalikan motornya sehingga tidak mogok di jalan.

Begitulah sekilas pagi yang mendung dan basah di Semarang. Tidak ada yang perlu disesali, Alah bisa karena biasa. Saya sudah biasa banjir, ya akhirnya pasrah juga. Paling tidak sekarang sudah ada kemajuan, jalan depan kantor sudah mulus tidak terkena banjir lagi. Entah kampung sebelah terendam atau tidak.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s