Dilema Hot Money


Bayangkan anda butuh uang dan ingin mendapatkannya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Entah untuk beli susu anak, atau bahkan beli mobil yang diidamkan. Untuk itu anda bersedia membayar kembali dengan bunga berlebih. Demi memperoleh kesingkatan waktu dan jumlah uang yang besar.

Lalu ada seseorang datang kepada anda, membawa segepok uang.

“Nih gue kasih pinjam ke elu.

“Berapa musti gue bayar balik? ”

“Gampanglah. Kira-kira 5% bunganya dan bayar cicil sampe tiga bulan.”

Anda tentu dengan senang hati menerima uang tersebut, yang berarti setuju dengan kesepakatan itu. Toh, bunga juga tidak tinggi-tinggi amat dan keringanan mengangsur sampai tiga bulan. Segera kebutuhan untuk beli susu atau mobil dapat terlaksana.

Tapi tidak sampai sebulan, orang itu datang lagi.

“Bro, duitnya gue ambil lagi ya. Lagi butuh mendesak, nih.”

“Waaahh, duitnya dah kepake. Gimana dong.”

Gue gak mau tahu. Pokoknya balikin duit gue segera.”

Anda pun kelabakan mengembalikan uang itu. Karena tidak punya uang di tangan,   barang yang telah terlanjur dibeli akan digadaikan, atau barang berharga lainnya. Pinjaman tadi jadi tidak ada artinya, ditambah rugi telah bayar bunga satu bulan,. Dikemudian hari ternyata anda mengetahui bahwa orang tadi setelah menarik uangnya dari anda, lalu meminjamkan lagi ke orang lain. Semata-mata karena orang lain tadi bersedia membayar dengan bunga yang lebih besar dan waktu angsuran yang lebih pendek.

Kira-kira begitulah ilustrasi investasi “uang panas” (hot money) di negara kita. Investor asing berlomba-lomba menginvestasikan uangnya ke bursa saham bukan karena tertarik kemajuan pembangunan di Indonesia, tetapi lebih karena suku bunga acuan (BI Rates) kita jauh lebih tinggi daripada negara lain. BI rates yang 6,5% jelas jadi pemenang dibandingkan dengan Amerika yang sekitar 3,25%, atau bahkan Jepang yang dari dulu tidak beranjak dengan suku bunga 0%. Kebijakan Amerika menekan suku bunga tidak jauh-jauh dari keinginan untuk membiayai investasi dari modal dalam negeri karena suku bunga segitu tidak akan menarik bagi investor asing. Demikian pula dengan Jepang karena pertumbuhan ekonominya sudah mengalami stagnasi, tidak bisa berkembang lagi.

Masalahnya uang panas tadi tidak akan tinggal diam di Indonesia. Bila ada negara lain yang dapat memberikan bunga lebih tinggi, segera uang tadi ditarik oleh para investor, ditanamkan ke negara lain tersebut. Hal ini akan membawa kekacauan pada perekonomian negara karena akan menyedot devisa dalam mata uang asing (biasanya USD) sekaligus mengacaukan pasar modal.

Bank Indonesia mulai gerah dengan uang panas ini. Sebagai otoritas moneter, hal ini harus dicegah. Tapi bila mengeluarkan aturan pelarangan modal asing, kok ya aneh. Masa dikasih uang tidak mau? Maka dikeluarkan instrumen yang lebih elegan yaitu peningkatan Giro Wajib Minimum (GWM) Valas dari 1% menjadi 8% secara bertahap dari Januari 2011 s.d. Juni 2011. Tujuannya agar uang panas tadi berubah jadi uang dingin, alias tidak mudah ditarik dan bertahan dalam jangka waktu cukup lama.

Apa sih hubungannya GWM dengan pengikatan uang hasil investasi tadi??

GWM adalah sejumlah uang yang harus dicadangkan oleh bank dan disetorkan kepada BI, bertujuan untuk mengamankan transaksi bank. Contohnya bila terjadi penarikan dana besar sehingga bank kekurangan likuiditas, cadangan uang tersebut dapat diambil sebagai dana tambahan. Dengan adanya peningkatan GWM Valas berarti bank menambah cadangan uang asing di BI untuk menjaga likuditas bila tiba-tiba ada penarikan dana valas yang besar, seperti si uang panas tadi. Kira-kira jelas kan hubungannya?

Tetapi ada efek tambahannya nih. Suku bunga kredit valas bank jelas akan naik. Mengapa? Ya karena uang bank yang seharusnya dapat disalurkan menjadi kredit dan memberikan pendapatan bagi bank, harus ngendon di BI. Tidak dapat digunakan, apalagi menghasilkan pendapatan (wong namanya juga cadangan untuk keadaan darurot).

Instrumen kedua BI untuk mendinginkan uang panas adalah menaikkan waktu jatuh tempo Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang saat ini berkisar 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Maunya sih dibikin 12 bulan semua, biar investor yang beli SBI duitnya tertahan sampai 12 bulan. Tidak diambil segera. Oh ya, SBI ini semacam surat berharga keluaran BI dan dijual kepada investor. Uang panas bisa masuk melalui instrumen seperti ini.

Bermacam cara untuk menjaga keberadaan uang investor asing supaya bertahan di Indonesia dan dapat digunakan untuk permodalan perusahaan yang pada akhirnya akan memajukan perekonomian. Satu cara yang belum dicoba BI, yaitu inisiatif The Fed (BI nya Amerika)  membeli seluruh surat hutang pemerintah sehingga investor asing tidak kebagian dan bunga surat hutang tadi bisa masuk ke bank-bank untuk membiayai kredit modal kerja industri. Cara yang valid untuk membangun perekenomian dengan kekuatan sendiri sekaligus memadamkan si hot money.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s