British Virgin Island, Perawan Karibia nan Seksi


Sepanjang tahun 2010  nama British Virgin Island (BVI) sering terdengar. Terutama dari lantai bursa saat rama-ramai perusahaan berhajat menjual saham perdananya (IPO – Initial Public Offering). Para pemilik perusahaan ini berasal dari BVI. Apa dan siapa BVI?

Saat mendengar kata island dan British kita pasti membayangkan sebuah pulau milik Inggris. Hampir benar. British Virgin Islands adalah sebuah kepulauan di  Karibia milik Inggris diluar teritori negaranya, atau dikenal sebagai negara persemakmuran. Ditemukan pertama kali oleh Arawak, seorang Indian Amerika 150 SM. Tahun 1493, ditemukan sekali lagi oleh Cristopher Columbus, dalam perjalanannya mencari Amerika. Si Columbus ini yang menamakan Santa Ursula y las Once Mil Vírgenes atau Saint Ursula dan 1000 perawannya, berdasar legenda Santa Ursula. Kepemilikan lalu diklaim Spanyol, pindah ke Belanda, dan direbut Inggris tahun 1673. Jadilah si Virgin ini dimiliki Inggris. Walau demikian sisa dari area ini milik Amerika, yang dinamai US Virgin Island (biasanya untuk markas tentara).

Posisi di Karibia, dekat Puerto Rico, menyebabkan area ini beriklim tropis. Pendapatan negara dari pariwisata dan jasa keuangan. Dua hal ini menyebabkan penduduk makmur dengan pendapatan perkapita USD 38,500 an, atau sekitar Rp.380 juta setahun. Nah, karena bebas pajak, banyak perusahaan, terutama kilang minyak (offshores) yang menjamur di negara ini. Dari 800 ribu an yang terdaftar, hanya 400-an yang aktif beroperasi. Hampir 41% perusahaan offshores di di dunia terdaftar di negara ini (audit KPMG, 2000). Negara hanya mengutip biaya pendaftaran (licences fee) perusahaan tersebut.

Melihat fakta tersebut, tidak salah bila banyak yang curiga pada saat beberapa perusahaan pertambangan menggelar hajatan IPO. Pasalnya, pemilik perusahaan yang dicantumkan dalam laporan keuangan adalah perusahaan ‘antah berantah’ yang bermukim di BVI. Ambil contoh pemilik Berau Coal Energy  (BRAU), perusahaan pertambangan batu bara yang IPO sekitar Agustus 2010 dan Benakat Petroleum (BIPI) perusahaan minyak IPO Februari 2010. Pemiliknya adalah perusahaan-perusahaan minyak di British Virgin Island, entah perusahaan itu aktif atau tidak, terdaftar atau tidak.

Beberapa analis menyatakan, perusahaan sebagai pemilik di BVI adalah sebagai aling-aling sekelompok orang untuk mendapatkan dana IPO. Toh yang berhutang adalah perusahaan itu, sementara uang menjadi milik sekelompok orang yang tidak jelas. Tidak perlu bertanggung jawab untuk membayar hutang. Bila gagal ya pailitkan saja.

Terlepas dari pemilik perusahaan fiktif atau tidak, yang jelas kemampuan perusahaan untuk mengelola dana IPO juga diragukan. BRAU berhasil meraup IPO Rp.2,7 triliun (yang direvisi menjadi Rp.1 triliun) dan BIPI Rp. 1,6 triliun. Analisa keuangan menyatakan, struktur hutang yang lebih besar daripada modal berpotensi menyebabkan perusahaan membayar hutang dari hutang lagi, bukan dari laba yang didapat. Tengok BRAU tahun 2008 dengan komposisi hutang Rp.5,5 triliun sedangkan modal hanya Rp. 378 miliar. Februari 2010 hutang 8,6 triliun, modal Rp. 3,4 triliun tapi sebagian besar dari modal disetor (penjualan saham). Hutang Rp.8,6 triliun, sebesar Rp.2,7 triliun dari hutang jangka pendek yang akan jatuh tempo setahun kedepan. Bisa ditarik kesimpulan hutang jangka pendek tersebut akan dibayar dengan dana IPO, atau hutang dibayar dengan hutang. Kabarnya BRAU juga mendapat hutang USD 750 juta yang siap digunakan untuk membayar hutang jangka pendek tsb.

Lain BRAU, lain BIPI. Dana IPO Rp.1,6 triliun seharusnya digunakan untuk akuisisi 3 perusahaan, tapi sampai sekarang hanya terlaksana 1 saja yaitu Elnusa. Dana IPO selebihnya ditanam dalam bentuk repo di Wellington Ventures Ltd. Alih-alih dana tersebut untuk membiayai modal kerja, malah digunakan untuk mengembangkan keuangan perusahaan dari sektor jasa.

Hakekat hutang pada perusahaan adalah untuk membiayai modal kerja atau investasi yang mendukung bisnis utama perusahaan tersebut. Pada mulanya ‘tips dan tricks’ akan dianggap membantu keuangan perusahaan, tetapi tidak akan bertahan selamanya. Apalagi bila ditambah dengan keinginan untuk memperkaya sekelompok orang dengan alibi yang tidak cukup kuat (seperti perusahaan antah berantah tadi). Semoga etika berbisnis selalu ada di urat nadi pengusaha Indonesia.

Sumber:

Wikipedia

Analisis Saham Independen by Teguh Hidayat

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s