Lagi-Lagi Reksadana Saham


Sedikit cerita tentang Reksadana Saham. Beberapa tahun lalu saat saya masih kost di Surabaya, saya diskusi plus ketawa-ketiwi dengan seorang teman. Dia mengatakan daripada saya investasi di kasur springbed dan sepeda yang harganya jutaan dan cuma ngendon di kamar kos, lebih baik investasi di reksadana saham. Kamu boleh jadi orang kaya ke-13 dalam hal investasi aset, tapi itu cuma aset konsumtif bukan produktif. Saya pikir bener juga. Kasur dan sepeda cuma bisa dipakai saja, tapi tidak menghasilkan apa-apa (Walaupun pengertian konsumtif dan produktif itu bisa dibolak balik, selama saya dianggap aset yang produktif, pemakaian benda-benda itu bisa dianggap produktif juga )

Lalu Reksadana saham itu investasi seperti apa? Investasi reksadana saham di Indonesia ada sejarahnya. Saat itu pemerintah mendorong masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Tujuannya mulia agar pembiayaan perekonomian berasal dari dalam negeri. Sehingga perekonomian Indonesia ditopang dari kekuatan sendiri dan secara tidak langsung mendorong kemajuannya. Kabarnya di negara-negara tetangga, hampir 75% masyarakatnya ‘melek’ investasi di pasar modal, sedangkan Indonesia mungkin kurang dari 15%.

Nah masalahnya, investasi pasar modal ini harus melalui pembelian saham perusahaan yang harganya tidak murah. Mekanismenya adalah pembelian minimum 1 lot yang terdiri dari 500 lembar saham. Anggap saja satu lembar saham bernilai Rp.3.000,00. Berarti anda harus menyediakan uang minimal 500 x Rp. 3.000,00 = Rp. 1.500.000,00 untuk membeli minimum satu lot saham. Belum ditambah uang administrasi dan management fee untuk pembelian saham yang dibayarkan kepada perusahaan trading.

Pemerintah pun mengatasinya dengan menggalakan bentuk investasi berupa reksadana saham. Yaitu pengelolaan dana yang dilakukan oleh manajer investasi (MI), dimana dana tersebut berasal dari berbagai macam investor dan diinvestasikan dalam saham yang dipilih oleh si manajer investasi. Keuntungannya dana yang terkumpul cukup besar karena berasal dari banyak investor. Jadi setiap investor tidak perlu memberikan uang banyak untuk berinvestasi saham, karena ada tambahan dari investor lain. Cukup beli beberapa unit reksadana dimana satu unitnya yang katakanlah harga Rp.3.000,00 dengan tidak ada jumlah minimum pembelian.

Keuntungan lain bagi investor pemula, tidak perlu repot mikir mana saham yang baik dan menguntungkan. Secara otomatis si MI akan mengatur kumpulan (portofolio) saham terbaik dengan membeli saham yang memberikan keuntungan besar tetapi beresiko besar dipadukan dengan saham keuntungan sedang tapi tidak terlalu beresiko. Alhasil portofolio saham kita dapat memberi keuntungan besar tapi beresiko rendah. Selain itu transaksi reksadana belum ada pungutan pajak, jadi relatif masih menguntungkan dibandingkan deposito.

Kelemahannya karena resiko cukup rendah itu, hasilnya juga tidak sebesar saat kita membeli saham tanpa mekanisme reksadana. Ditambah kita tidak dapat menentukan sendiri saham apa yang musti dipilih, karena semua tergantung MI.

Saya investor pemula dalam reksadana saham. Terus terang niatan saya membeli reksadana saham ini adalah untuk investasi jangka panjang, dan tidak berniat menjual dan membeli reksadana dalam waktu singkat. Jadi harga mau naik atau turun ya sebodo teuing, pokoknya saya simpan saja. Walaupun sedikit kebat kebit pada saat krisis tahun 2009 dimana Indeks Harga Saham turun drastis, mencapai angka 1300-an, tapi saya stay cool . Yakin kalau harga saham akan naik lagi. Dan ternyata benar.

Hasil investasi reksa dana ini ternyata lumayan fantastis. Ilustrasinya adalah sbb: si A menyimpan si reksadana kurang lebih dua tahun. Anggap saja pada saat itu harga satu unit reksadana Rp.3.000,00. Saat ini harga Rp.5.400,00, berarti dalam waktu dua tahun kenaikan  80%, sehingga setahun naik 40%. Sangat jauh dan lebih hebat dibandingkan deposito bunganya cuma 5,5%, atau ORI yang maksimum 9,6% belum dipotong pajak.

Jadi tepat yang dikatakan para analis saham. Bila anda membeli saham, kecuali anda adalah investor yang ahli dalam hal short trading (beli saat harga murah, jual saat harga mahal dalam waktu yang singkat), niatilah untuk simpan sebagai investasi jangka panjang. Jangan perdulikan naik turun saham dalam waktu pendek, karena itu bersifat sementara. Genggam dan berdoalah semoga harganya naik terus🙂

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Bank and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s