SEMARGRESS !!


Seorang rekan mengemukakan pendapat, ”Orang Semarang itu daya konsumsinya rendah”.

Saya heran,”Kok bisa ambil kesimpulan seperti itu?”

“Seorang pebisnis terkenal  Semarang berpendapat seperti itu. Dia punya kantor pusat di Semarang dengan banyak kantor cabang di Jateng. Sebelum buka kantor cabang, dia adakan riset pemasaran terlebih dahulu. Apakah area itu memenuhi kriteria untuk menyerap produknya atau tidak. Dan Semarang bukan salah satu area yang sesuai kriteria tersebut. Semarang jadi kantor pusatnya hanya karena dia lahir di kota itu. Selebihnya tidak ada yang menguntungkan”.

Dia menambahkan lagi, “Penduduk Semarang lebih suka menabung. Mereka tidak menghabiskan uang banyak untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Secukupnya saja”

Saya manggut-manggut. Padahal sebelumnya saya berpendapat lain. Bahwa penduduk Semarang sangat konsumtif. Mal tiap minggu dipadati pengunjung. Tukang becak dan mas angkot sibuk bertelpon ria dengan pulsa yang tentu tidak murah. Sepeda motor, yang dibeli secara kreditan, memenuhi jalan raya.

“Mal di Semarang padat karena dikunjungi penduduk lain kota. Coba sekali-sekali tengok tempat parkirnya. Kalau tidak R ya K”. Dua tanda plat nomer itu dari Karesidenan Banyumas dan Kabupaten Kudus.

Tentu saja kesimpulan riset survei informal itu tidak dapat menjadi landasan valid. Tetapi bila kemudian menjadi dasar bisnis, dan bisnis itu terbukti sukses, ya lain soal. Sayangnya (atau untungnya ) si pebisnis termasuk yang berhasil di Jawa Tengah.

Semarang Great Sale (Semargress) atau acara diskon besar-besaran di Semarang baru saja dibuka. Rencananya akan diadakan tanggal 1 s.d. 31 Desember 2010. Tujuan aslinya menjadikan Semarang Setara dengan kota lain. Hal ini bermula dari cemohan Gubernur Jateng Bibit Waluyo yang menyatakan Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah kok kalah jauh dengan Solo dalam hal pembangunan, investasi, dan pariwisata. Yang menang hanya banjir dan rob nya saja. Terang saja Pemda kebakaran jenggot. Nah, mulai dibuat program untuk men”setara”kan Semarang dengan kota lain. Salah satunya ya diskon besar-besaran tadi, seperti yang dilakukan Surabaya dan Jakarta.

Semua pedagang dilibatkan. Mulai UMKM sampai dengan Mal Paragon. Diskon besar-besaran, apalagi kalau ada program diskon tengah malam. Ditanggung belanja sampai puas. Dari sisi positif jelas APBD Semarang akan meningkat. Negatifnya, dulu saya khawatir sifat konsumsi penduduk Semarang akan meningkat. Jadi bukan penduduk sekitar yang datang, tapi mal akan dipenuhi penduduk asli sendiri. Tapi dengan adanya pendapat diatas, kekhawatiran itu dapat digugurkan.

Saya sebenarnya agak heran. Kenapa malah acara diskon-diskonan yang dipromosikan. Tapi kemudian saya paham bahwa setiap perhelatan selalu harus ada acara yang menarik perhatian. Untunglah, selain acara diskon ini, infrastruktur kota pun mulai dibenahi. Beberapa jalan yang rusak parah karena banjir dan rob, seperti Pattimura dan Sayangan telah diperbaiki. Pedagang Kaki Lima di Simpang Lima ditertibkan dengan dikumpulkan di taman KB.

Apapun program yang diadakan, semoga dapat membawa perbaikan bagi Kota Semarang tercinta.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s