Inflasi vs Investasi


Beberapa waktu lalu saya ke toko swalayan. Beli kecap 500 ml cap Bango dan sekotak susu UHT merk Ultra. Saya prediksi harga keduanya dibawah Rp.10.000,-. Eh ternyata kecap cap Bango harganya sudah Rp.13.000,- Ditambah dengan Rp.3.500,- untuk susu, total yang harus dibayar Rp. 16.500,-. Saya yang sudah menarik selembar sepuluh ribuan dari dompet, terpaksa menarik selembar lagi untuk membayar di kasir.

Pasti anda mengira saya buta harga. Tapi feeling saya sebenarnya cukup kuat untuk harga-harga produk. Dan kecap bukan kategori benda mahal menurut ukuran saya. Bila lalu anda menyanggah dengan alibi: ya jelas saja mahal lah wong kedelainya impor, baru saya angkat tangan untuk membantah.

Harga mahal bukan hanya sekedar kurangnya penawaran dan tingginya permintaan. Bila dicermati setiap tahun harga terus meningkat. Bandingkan harga sebungkus es mambo jaman SD dulu senilai Rp.15,-, dengan saat ini senilai Rp.500,-. Kenaikan hampir 40 kali lipat dalam jangka waktu 20 tahun. Dan jelas itu bukan karena kurang penawaran dan tinggi permintaan, mengingat es mambo sekarang jarang ada karena sepi peminat.

Inilah yang dinamakan INFLASI. Atau kenaikan harga-harga. Banyak pemacu faktor inflasi. Mungkin karena kenaikan gaji berkala PNS (terutama), kenaikan harga BBM, dll. Atau bisa saja juga karena kelangkaan barang. Inflasi tahun 2010 sekitar 6,5%, yang berarti harga sekarang di bulan November 2010 6,5% lebih tinggi dibanding harga bulan November 2009.

Inflasi kejam sekali terhadap nilai uang kita. Jadi bila kita menabung uang di bawah bantal, tahun depan nilai uang kita berkurang 6,5%. Bila ditabung di bank dengan bunga simpanan 3,5% per tahun), nilai uang berkurang 3% per tahun. Inflasi ini secara tidak langsung memacu pertumbuhan reproduksi di Indonesia. Orang tua akan berpikir punya anak secepatnya agar dapat membiayai pada saat masih kuat bekerja. Kerja hari ini untuk bayar uang pendidikan anak hari ini. Bukan di suatu masa dimana biaya pendidikan sudah berlipat2 karena inflasi.

Pengecualian terjadi bila uang diinvestasikan di media dengan kompensasi diatas nilai inflasi. Contoh: investasi saham yang memberikan nilai pengembalian 50% dalam waktu satu tahun. Jelas kompensasi 50% mengalahkan pengurang nilai uang 6,5% si inflasi tadi. Jadi dalam waktu satu tahun, nilai uang untuk investasi tadi menjadi 43,5% atau 50% dikurang 6,5%. INVESTASI adalah jawaban dari inflasi.

Nah, masalahnya investasi dengan pengembalian diatas inflasi biasanya beresiko. Mulai dari main saham, obligasi (kecuali pemerintah), atau mendirikan bisnis sendiri. Yang lumayan investasi properti atau emas. Kelemahannya properti seperti tanah tidak likuid dan butuh modal besar untuk membeli. Emas lebih likuid, walaupun harganya ditentukan pasar tetapi cenderung meningkat karena kelangkaannya. Kelemahan emas adalah keamanannya, dan bila disimpan di bank membutuhkan biaya lebih tinggi.

Jadi apa dong investasi yang aman dan bisa mengalahkan inflasi? Saya tidak bisa menyarankan, lah wong saya sendiri juga belum bisa nemu yang pas. Main saham pun saya juga empot2an, padahal cuma reksadana saham. Waktu turun nilainya saya bersumpah bila harga kembali naik akan saja jual. Tapi begitu harga naik saya keenakan menyimpannya. Dan dalam waktu 2 tahun, tingkat pengembalian sudah 50% ! Bandingkan dengan deposito hanya 7,5% per tahun.

Pilih investasi yang sesuai dengan profil anda. Safety player memilih ORI (obligasi ritel indonesia) untuk menyimpan uang, karena bunga setelah dipotong pajak masih diatas nilai inflasi. Dengan catatan, uang tidak bertambah tapi juga tidak tergerus inflasi. Reksadana pendapatan tetap juga patut diperhitungkan, karena uang pasti kembali.

Emas bolehlah. Beli sedikit-sedikit tapi jangan perhiasan. Koin lebih likuid. Mau bisnis juga boleh. Tapi harus diingat, bahwa proyeksi uang masuk di masa depan dalam bisnis ini bila dibawa ke nilai sekarang harus lebih besar daripada bila dimasukkan ke tabungan. Dan jelas lebih besar dari nilai inflasi.

Sudah memilih investasi yang cocok untuk mengalahkan inflasi?

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s