Privatisasi Indonesia : Di balik Kisah IPO PT. Krakatau Steel


Menyusul BUMN lain, PT. Krakatau Steel mulai melakukan penjualan saham (IPO- Initial Publik Offering) untuk mendapatkan modal. Saat ditetapkan harga per saham sebesar Rp.850,- mulai timbul keributan. Perusahaan prospektif yang menghasilkan laba s.d. triwulan III 2010 Rp.1,05 T kok sahamnya murah sekali? Seharusnya di harga pasar telah mencapai Rp.1.200,-. Belum-belum para analis sudah meributkan adanya tendensi terselubung.

Pertama, ada kepentingan untuk memperkaya beberapa pihak. Jadi bila saham seharga Rp.850,- ini diperdagangkan di pasar sekunder harganya akan meningkat drastis. Dan para empunya saham sebelumnya akan panen besar.

Kedua, kekhawatiran pihak asing akan membabi buta membeli saham. Sebenarnya inilah yang harus lebih dipikirkan. Dengan harga murah, pihak asing mudah sekali mendominasi kepemilikan. Satu lagi aset negara akan terjual.

Saya setuju dengan pemikiran Edi Srisuwasono dalam artikelnya Indonesia is (not) for Sale di Harian Kompas. Bahwa kita terlalu banyak berniat menjual aset negara. Bahwa badan milik negara pengatur pengelolaan bidang hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara . Bahwa kita telah melanggar UUD pasal 33 beserta seluruh ayat didalamnya.

GDP Indonesia jelas bertambah besar, tetapi tidak dengan GNP. Gross Domestic Product, menghitung nilai barang dan jasa hasil pembangunan yang terjadi di suatu negara. Sedangkan Gross National Product, menghitung nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk negara itu bahkan di negara lain. Ibaratnya di Indonesia pembangunan maju pesat, tetapi dihasilkan oleh penduduk negara lain dan hasilnya dibawa pulang ke negara asal. Indonesia tetap mendapatkan keuntungan, tapi tidak sebanding dengan apa yang telah dilepaskan.

Megawati melalui menteri BUMN nya Laksamana Sukardi telah merintis Privatisasi Indonesia dengan penjualan Indosat dan Telkomsel. Saat itu ia dikritik habis-habisan walaupun tujuannya relatif mulia: menambal defisit APBN. Demikian pula Habibie, saat menjabat Pgs.Presiden, memberikan referendum Timor Timur dan hasilnya hilanglah propinsi termuda Indonesia. Masa sih kita mau mengulangi kebodohan yang sama?

Carilah jalan untuk mengurangi defisit anggaran APBN. Mulai dengan efisiensi di segala sektor. Kurangi hutang negara, kemplang bila perlu. Lebih baik mulai mengambil sikap tegas daripada terus melakukan penjualan harga diri negara.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My Economic Thinking and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s