Ada apa dengan Penulis?


Artikel di Harian Kompas mengenai penulis dengan novel terbaik versi Balai Bahasa Yogyakarta, sungguh mengharukan. Haru, karena si novelis menemukan bukunya termasuk jajaran obral di toko buku. Sementara untuk menutup penghidupannya, dia mengkomersilkan diri dengan mengikuti kuis dan lomba berhadiah produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Semata-mata karena menulis tidak dapat menjadi penghasilan bagi dirinya.

Artikel ini ditanggapi novelis lainnya. Bahwa sastra adalah ejawantah dari pemikiran dan kristalisasi perenungan penulis. Bukan komoditas yang bisa dikomersilkan. Sastra tidak bisa disandingkan dengan hasil mesin, dan bukan mesin pencari uang.

Sungguh, komentar kedua penulis ini mencerminkan buruknya dunia kepenulisan. Saya yang bercita-cita menjadikan menulis sebagai profesi, seperti melihat masa depan yang suram.Separah itukah penghargaan masyarakat terhadap ekspresi yang dibahasakan secara tulisan ?

Bila dibahas secara detail, hampir seluruh penulis di Indonesia (sepengetahuan saya) selalu mengeluhkan minimnya pemasukan dari hasil tulisannya. Bila pun berhasil diterbitkan, sebagian besar royalti ditilap oleh penerbit. Atau penulis hanya mendapat sebagian kecil dari penjualan bukunya.

Sedangkan para pembuat artikel di media massa merasakan hal sedikit berbeda. Bila isi artikel memuaskan editor, artikel tersebut dapat segera diterbitkan. Jelas pemasukan akan segera didapat.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan sebuah karya sastra dapat menghasilkan uang? Jawabannya hanya satu: dapat diterima masyarakat. Entah bahasanya yang populis, ringan, atau berdekatan dengan kehidupan. Intinya karya sastra itu dapat dimengerti pembacanya dan menyenangkan. Kadang walaupun berat dan isinya suram (misalkan berlatar belakang peperangan), asal pembaca dapat menghayatinya, karya tersebut akan mudah menangguk dana.

Saya sering membaca cerita pendek di koran atau media masa lainnya. Cerita pendek versi “mbulet” selalu saya kategorikan sastra, dan saya cenderung menghindarinya. “Mbulet” ini dalam arti alur ceritanya tidak logis, bahasanya aneh (mungkin bahasa Indonesia murni, cenderung Sansekerta). Sama sekali tidak membumi. Atau inilah yang mungkin dikatakan imajinasi penulis, ibarat pelukis menggambar abstrak. Apabila sampai saya membaca, saya cuma ingin tahu keanehan apa yang dibuat-buat oleh penulis.

Dengan kata lain, penulis sastra “mbulet” itu egois. Tidak menghormati pembaca, karena mementingkan apa yang ada di pikirannya, imajinasinya. Akibatnya ya itu tadi, tidak ada yang sudi membaca karyanya, menghilanglah dana yang bisa menjadi pemasukan. Dan pada akhirnya si penulis menyalahkan penerbit dan masyarakat. Kenapa bukuku diobral? Selera juri yang notabene para sastrawan setipe dengan penulis tentu tidak dapat menjadi titik tolak selera masyarakat.

Saya salut dengan Andrea Hirata yang dapat menterjemahkan sastra berat menjadi ringan dan mudah dibaca. Karya sastra yang indah pasti menangguk pembaca dengan sendirinya. Selebihnya adalah tanggung jawab penulis dalam melakukan instropeksi. Selera masyarakat jelas menentukan. Tetapi penulis dapat menentukan selera masyarakat dan membuat trend tersendiri. Disinilah dibutuhkan skill yang kuat memadukan kepenulisan dengan manajemen pemasaran produk. Bahwa sastra bisa menjadi komoditas.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s