Balada Tukang Parkir


Selama karir menyetir mobil, saya selalu berurusan dengan tukang parkir. Problematika pertama adalah tentang keberadaan si tukang parkir saat akan memarkir mobil. Dia tidak  terlihat batang hidungnya sedikitpun untuk membantu mengarahkan, sehingga saya harus sibuk melirik kaca spion dan menengok ke belakang agar bemper mobil tidak berbenturan dengan pagar pembatas.

Tapi hal ini akan berbeda saat saya bergerak keluar dari area parkir. Si jaket oranye ini akan sigap meniup peluitnya dan menadahkan tangannya, minta kontribusi. Kalau sudah begini biasanya saya sambil cemberut melotot ke dia. Parkir-parkir sendiri, masih disempritin juga. Dia dengan tenang menjawab, klo parkir memang sendiri mbak, lahannya doang yang bayar.

Nah, masalah kontribusi parkir ini juga cukup menyebalkan. Tukang parkir liar (walaupun dia mengenakan jaket oranye, tanda resmi dari pemda) akan mengenakan tarif Rp.2000 sekali parkir. Tanpa pemberian tiket/karcis. Padahal di tiket tertera hanya Rp.1000 atau Rp.1.500.

Saya selalu minta karcis parkir pada saat memberi uang. Ada yang kelabakan mengembalikan uang kelebihan, ada yang memberi tiket dobel (dengan perhitungan satu karcis harga Rp.1000). Ada yang karena kebanyakan ngembat uang parkir tanpa karcis, memberikan saya segepok lembaran karcis. Sambil nantang pula, mbak mau lagi?

Ada juga cerita lucu. Tukang parkir anak-anak umur 5-6 tahun sibuk memberi pengarahan pada saya saat memarkir mobil.

“Teyuuuss..teyuuuss…”

Saya lihat di kaca spion, kok sudah hampir dekat dengan pagar pembatas ya. Tapi si anak masih ngomong “teyus..teyus..”, dan tiba-tiba… bruuukkk..

“hoooooppppp……..”

Gubrak bener deh anak ini. Bemper belakang sudah kena pagar, barulah dia berteriak berhenti (hop=berhenti,*bahasa jawa*).

Tukang parkir favorit saya adalah di area Simpang Lima. Walaupun area parkir di pinggir jalan penuh, dia selalu mampu mencarikan tempat untuk saya. Bahkan di area dilarang stop kendaraan. Saya sibuk menunjuk-nunjuk tanda forbidden itu, tapi dia dengan tenang menyatakan: gak papa mbak, kalo hari minggu boleh kok. Lah, mana ada rambu lalu lintas berlaku workdays gitu?🙂

Tukang parkir ideal adalah dia yang mampu mengarahkan dan membersihkan area pada saat kendaraan akan parkir, dan mengatur agar kendaraan kita bisa keluar. Bekerja sebelum dan sesudah kita parkir. Bahkan untuk itu,saya rela memberi uang lebih untuk karcis dan kerja dia. Ada tidak ya, tukang parkir seperti itu??

Tapi bagaimanapun juga jasa tukang parkir cukup berguna untuk kita, para pemakai kendaraan. Di bawah terik matahari dan asap knalpot, dia masih berjuang untuk selembar dua lembar ribuan. Jadi ya sudah, hargai saja perjuangannya.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Balada Tukang Parkir

  1. sulfikar says:

    Jangankan parkir liar Mbak, saya melihat papan peraturan di Penyedia Jasa Parkir (lupa namanya) Resmi tertulis “segala kehilangan barang-barang dan lain2 menjadi tanggung jawab pemilik kendaraan” (???)…. salam kenal Mbak.

    • avieni says:

      Betul Mas Achmad. Tapi sekarang mau dibuatkan aturan pemda, bahwa kehilangan ditanggung pengelola parkir. Seperti di Jakarta. Semoga terlaksana.

  2. Frista says:

    Sebel juga ya mbak lihat tukang parkir makan gaji buta kayak gitu…. kalo karcisnya hilang/kunci ketinggalan, nggak tanggung2 dendanya bisa nyampe 20rb bahkan 50rb, tapi kalo barang ato motor kita ilang/ motor beset dy g mau tanggung jawab… pernah jg q beli tahu crispy gitu, padahal nggak sejengkal pun q turun dr motor, eh tau2 tukang parkirnya datang minta duit, udah kayak preman aja… Rp 1.000 gt rasanya koq ya sia2 buat dikasih ke orang malas2an kayak gt…
    Tp ga semua jg sih mbak, mc ada yang baik koq, malah q pernah tau ad tukang parkir yang ternyata sambil kuliah juga…punya anak istri pula..kalo udah gitu ngasih Rp 5.000 ga bakal eman…

    • avieni says:

      Iya Frista. Kalau tukang parkirnya ngejalanin tugas baik sih, kita rela aja ngasih. Tapi kalau cuma ngganthung minta duit doang ya enak aja dong.
      Thanks sharingnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s