Domestic job is a feminine side


Suatu hari, saat saya lagi bengong di angkot, ada tiga wanita ngobrol dengan penuh emosi. Disebut emosi karena mereka ngomongnya keras-keras. Saya ikut mencuri dengar pembicaraan mereka. Sebenarnya sih kata ‘mencuri’ tidak terlalu tepat. Wong mereka ngomong tepat di kuping saya.

Jadi ceritanya begini: para wanita ini adalah pekerja di pabrik garmen. Mereka mengeluhkan beratnya kerja fisik sebagai buruh. Ibaratnya badan sudah ambrol saat tiba di rumah. Satu wanita yang masih berstatus single tiba di rumah, makan, terus tidur. Begitu terus tiap hari. Wanita yang lain, yang telah bersuami, menyatakan tidak punya kekuatan lagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan untuk sekedar menyetrika seragam kerjanya dia tidak sempat. Jadi ya cuci langsung pakai.

Wanita ketiga berbagi tugas dengan suaminya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Nah, yang ini lumayan, gumam saya dalam hati. Si Suami kebagian tugas mencuci sementara si wanita menyeterika. Padahal aku gak suka menyeterika, keluhnya. Terus suamiku bilang, apa kamu mau yang mencuci? Enggak, aku juga gak senang mencuci. Si suami menjawab, lho, kamu tuh gimana, wong pekerjaan perempuan saja aku yang laki-laki mau mengerjakan, masak kamu yang perempuan enggak mau??


Hmm.. satu sistem lagi yang terciptakan dari sononya : Domestic job is a feminine side. Jadi kerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab perempuan. Nah, kalau begitu kerjaan cari duit tanggung jawab siapa dong?

Saya yang masih jomblo saja juga merasakan. Setelah berpeluh ria bekerja mencari uang, di rumah masih berasa beban tanggung jawab untuk ikut membereskan rumah. Paling tidak seminggu sekali nyapu,ngepel, sikat-sikat kamar mandi, dan menyeterika pakaian sendiri.

Pernah suatu saat saya ditinggal sendiri di rumah. Berhubung sendirian, saya males juga bersihkan rumah. Lah wong yang menikmati juga cuma saya sendiri kok. Selang dua minggu kemudian ortu saya pulang. Si Babe marah-marah, itu kamar mandi kok berdaki amat. Kagak pernah disikat ya !

Nah, klo ini terjadi pada kakak saya laki-laki yang telah berumah tangga lain lagi ceritanya. Nada permakluman lebih besar, walaupun dia tidak pernah pegang sapu sedikitpun. Kan dia kalau pulang kerja sudah capek, mana sempat mikir urusan rumah tangga. Ada istrinya yang ngurus ini.

Gubrak.. Wanita memang dituntut lebih super power. Sekarang pun banyak suami yang ‘mengharuskan’ istrinya untuk bekerja di luar rumah. Bukan apa-apa, supaya beban tanggung jawab menafkahi keluarga terkurangi. Tapi mbok ya o, si suami ini juga ikut ngurus rumah tangga dan anak tentunya. Bukan hanya setelah bekerja lenggang kangkung enjoy dengan teman-temannya. Alasannya penat bekerja.

Hehe..bukan maksud saya ‘mengeluhkan’ sistem yang diciptakan sudah dari sononya itu. Itu sebenarnya hanya masalah pembagian tanggung jawab saja. Bahkan pembantu saja, saya yakin apabila bisa memilih, dia juga tidak mau pekerjaan domestik yang membutuhkan kerja fisik.

Saya pribadi sih senang-senang saja dengan pekerjaan domestik. Wong saya jadi bisa olah raga, mengurangi lemak, melatih pikiran untuk bisa fokus (nyetrika tuh kudu konsentrasi lho, kalau tidak bisa gak halus hasilnya). Selain itu kerja domestik merupakan obat yang baik untuk patah hati. Biar gak kepikiran maksudnya.

Kesimpulannya: pekerjaan domestik adalah tanggung jawab siapapun yang mau mengerjakannya. Jadi..yuk ngepel !

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World, Parodi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s