Privatisasi Bank BUMN


Ternyata ada juga yang sealiran pemikiran dengan saya. Bahwa aset negara sudah terlalu banyak yang dikuasai asing, dan hal ini akan terus menerus terjadi dengan alasan penguatan modal dan penguasaan teknologi. Artikel “Menimbang Privatisasi Bank BUMN” di Kompas 6/10/2010 banyak mengulas hal ini.

Sehubungan dengan right issues 2 bank BUMN di Indonesia yaitu Mandiri dan BNI. Bank Mandiri akan melepas 2,36 miliar lembar  sedangkan Bank BNI melepas 3,3 miliar saham. Nilai yang akan diperoleh dari rights issue Mandiri diperkirakan mencapai Rp12 triliun dan BNI sekitar Rp10 triliun. Penjualan saham ini untuk menambah modal kerja dan mendukung ekspansi kredit.

Sesuai dengan UU Perbankan yang mengizinkan kepemilikan asing s.d. 99%, ternyata banyak pihak asing yang berminat terhadap saham ini. Pemerintah masih punya perhitungan bahwa bila seluruh saham baru BNI sebesar 15% dijual ke publik, pemerintah masih punya porsi kepemilikan sebesar 51% . Sebagai informasi sebelum right issues pemerintah punya kepemilikan di BNI 76,36 % dan Bank Mandiri 66,76 %, selebihnya dipunyai publik.

Asing sangat berminat untuk membeli saham bank di Indonesia. Bertujuan untuk menambah kapasitas ekspansi kredit. Bank di Indonesia yang telah dimiliki asing: Danamon (68,83 persen), Bank Buana (61 persen), UOB Indonesia (100 persen), NISP (72 persen), OCBC Indonesia (100 persen), CIMB Niaga (60,38 persen), BII (55,85 persen), Panin (35 persen), Permata (44,5 persen), dan BTPN (71,6 persen).Indonesia nomer sembilan di seluruh dunia dimana asing menguasai kepemilikan bank. Hampir dapat dipastikan saham BNI dan Mandiri akan dikuasai asing karena dana mereka yang besar.

Bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak lebih baik dikuasai negara. Mengingat bank adalah penggerak motor perekonomian nasional dengan pembiayaan fasilitas kredit, akan  beresiko untuk menyerahkannya kepada pihak asing. Dengan permodalan yang kuat dan teknologi relatif maju, sebuah bank dengan pendanaan asing pasti akan memenangkan persaingan. Itu bila dilihat korporasi per korporasi. Tapi dimana letak nasionalisme kita?

Semoga dalam right issues nanti pembeli adalah murni publik nasional, atau korporasi kuat nasional, dan bukan pihak asing  yang mempunyai tendensi tertentu terhadap negara kita.

Sumber:

http://www.antaranews.com/berita/1285836239/bni-right-issue-awal-desember

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/06/04044088/menimbang.privatisasi.bank

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Bank, My Economic Thinking and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s