Edukasi Ekonomi Kredit


Banyak keluhan masyarakat tentang  kesulitan mengakses fasilitas kredit dari bank, terutama kredit produktif. Prosedurnya dinilai sulit.Tidak seperti kredit konsumen (KPR, kartu kredit, dll) yang relatif sederhana, kredit pembiayaan usaha perlu proses verifikasi yang kompleks. Mulai dari dokumen legalitas, keuangan, jaminan, bahkan karakter  pemilik usaha harus ditelisik tuntas oleh bank.

Pihak bank mempunyai prosedur kredit yang ketat. Berawal dari aturan Bank Indonesia sebagai otoritas kebijakan moneter, kemudian dikembangkan secara internal oleh masing-masing bank. Tidak sederhana, karena menyangkut tanggung jawab bank sebagai lembaga keuangan intermediasi.

Pemerintah selama ini berkutat dengan tingginya kredit macet perbankan. Sedikit aneh bahwa hal ini banyak terjadi di segmen kredit korporasi dan bukan di kredit kecil menengah. Masalah pengetahuan teknis tidak lagi menjadi persoalan, tetapi lebih banyak menyangkut tentang karakter pelaku bisnis, selain kondisi makroekonomi.

Perjanjian kredit adalah perjanjian kerja bisnis pada umumnya, yang menganut asumsi bahwa kepentingan pihak sendiri harus diutamakan, berdasar rasa saling tidak percaya, dan pikiran rasional. Asumsi ini menyebabkan kedua pihak mencari tahu jalan pikiran lawan mainnya agar dapat bekerja sama.

Saya ingat seorang pengarang Indonesia yang merasa berkepentingan untuk menulis buku prosedur kredit dari dua sisi pandang, yaitu bank dan masyarakat. Bagi account officer diberikan pengetahuan praktis prosedur analisa kredit, disertai istilah keuangan. Bagi masyarakat diajarkan cara membuat proposal permintaan kredit, dan kewajiban yang harus dipenuhi.

Ilmu ekonomi terus berkembang tanpa batasan yang pasti sesuai kebutuhan masyarakat dewasa ini. Saat ini kredit adalah salah satu alat terpenting untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga wajar diperlukan pendidikan formal untuk mengedukasi masyarakat.

Edukasi Ekonomi Kredit

Selama ini kita mengetahui cabang ilmu ekonomi terapan seperti Makroekonomi, Mikroekonomi, Ekonometrika, Ekonomi Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Perusahaan, dsb. Ilmu tersebut muncul karena  kondisi masyarakat pada saat itu.

Terlalu naif untuk mengajarkan pengetahuan dasar mengenai neraca dan rugi laba kepada pelaku usaha, mengingat hal tersebut adalah dasar bisnis. Tetapi kita berasumsi bahwa edukasi diberikan kepada calon pelaku bisnis yang perlu pengetahuan dasar ekonomi berupa perhitungan keuntungan perusahaan dalam bentuk neraca dan rugi laba.

Mari kita mengikuti kelas virtual. Bayangkan diri anda, mahasiswa semester I – fakultas apapun – universitas apapun,  memasuki kelas dengan tangan di kanan memegang buku teks mata kuliah berjudul “Dasar-Dasar Ekonomi Kredit” (karena tidak menutup kemungkinan ada judul “Ekonomi Kredit I”, “Ekonomi Kredit II, dst.). Anda duduk di deretan kursi bagian depan. Dosen siap memberikan presentasinya.

Penjelasan awal mengenai kredit secara umum, jenis kredit, dan diberikan contoh sederhana perbandingan konsep aliran dana dari kantung sendiri dengan dana pinjaman dari pihak lain. Penjelasan tentang bagian neraca dan rugi laba, terutama  piutang dan persediaan, untuk menjelaskan apakah dana modal kerja memang dipergunakan sesuai peruntukannya.

Dilanjutkan pelajaran aliran kas (cash flow) yaitu perputaran uang perusahaan.  Perlu kecermatan untuk memproyeksikan kemampuan perusahaan dalam pembayaran kewajiban disesuaikan dana tersedia. Sebagai contoh, apakah penjualan perusahaan dapat mencukupi kewajiban pembayaran kepada suplier, membayar gaji pegawai, dan melunasi bunga bank?

Pelaku usaha harus memberikan jaminan yang cukup kepada bank sebagai garansi bila ada gagal bayar. Jaminan berupa benda bernilai dan dapat diuangkan segera. Contohnya rumah, pabrik, mesin, kendaraan, persediaan dan piutang. Nilai jaminan diatur melebihi nilai fasilitas kredit yang diminta.

Pengetahuan regulasi pemerintah harus diketahui, dalam hal ini Bank Indonesia (BI). BI sering memperbarui peraturan kredit di situsnya yaitu www.bi.go.id. Pihak bank akan menterjemahkan peraturan tersebut sesuai kebijakan internal.

Pelajaran terakhir dari keseluruhan mata kuliah adalah etika berbisnis. Bank dan pelaku bisnis adalah partner kerja yang saling menghormati berdasar kepercayaan. Aturan dibuat berdasarkan kontrak yang dilandasi ketidakpercayaan kepada pihak lain (agency theory). Menurut saya, aturan dibuat berdasar kepercayaan berlogika, dengan batasan tertentu yang harus dipatuhi untuk menjaga pihak lain tidak melanggar kepercayaan yang diberikan. Kredit macet akibat etika bisnis dilanggar, dan akhirnya menjadi karakter pelaku usaha.

Tibalah saatnya untuk praktek. Dosen tamu seorang account officer akan menilai kepiawaian anda dalam mengajukan permintaan fasilitas kredit. Menguji kesiapan anda saat verifikasi laporan keuangan usaha, dan sejauh mana pengetahuan tentang aliran dana perusahaan, serta regulasi kredit.

Selesailah kelas virtual kita. Topik ini dirancang untuk satu semester. Edukasi sangat baik bila dimulai pada kelas VII SMP, tetapi dapat pula sebagai mata kuliah tingkat strata 1. Kekhawatiran konsumerisme generasi muda dengan kemudahan mendapat kredit diminimalisasi dengan bimbingan pengajar bahwa fasilitas ini mendorong kewirausahaan, yang menjadi penggerak perekonomian negara.

Belajar prosedur kredit tidak sesederhana membaca buku tentang pengkreditan. Diperlukan kearifan untuk mengkajinya sehingga terbentuk penghayatan. Penghayatan terbentuk dari pengetahuan menyeluruh yang berawal dari pendidikan. Kiranya terjawab sudah pertanyaan pada judul diatas, bahwa perlu adanya pendidikan formal untuk mengedukasi masyarakat mengenai prosedur kredit.

Note: Tulisan pernah dikirim ke Bisnis Indonesia Online, tapi kagak dimuat. Daripada sia-sia, mending buat file ajah..hehe..

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Credit Loan, My Economic Thinking and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s