Lupakan Pembaca !


Adanya aturan standar untuk menulis menyebabkan saya merasa dibatasi. Selang beberapa tulisan dibuat, saya merasa heran. Seharusnya menulis menyebabkan perasaan relieve. Terlepas dari beban, baik beban pikiran ataupun sesuatu yang lebih baik ditulis daripada diingat karena bisa lupa. Tapi kok pada kenyataannya saya malah terbebani.

Pembatasan pertama, saya berusaha menyesuaikan diri dengan pembaca. Bila saya ingin menjelaskan sesuatu, serinci mungkin deskripsi dibuat. Saya akan mengemukakan pendapat dengan selembut dan sehalus mungkin, agar pembaca tidak merasa tersinggung. Bila ada kritikan ya jangan sampai pedas-pedas amat.

Kedua, saya ‘terlarang’ untuk mengekspresikan kejujuran emosi. Sehubungan media penulisan adalah blog, dimana ekspresi akan terbaca oleh khalayak yang sudi membaca. Nah, jadi ketahuan kalau saya suka menangis, lagi marah, nylekit kalo komentar, lagi jatuh cinta, dan sebagainya. Dengan kata lain, saya berusaha membuat pencitraan diri yang indah. Jaga image, kata orang. Hal ini menyangku keprofesionalisme-an. Tidak lucu juga, bila anda sedang mencari kerja dan kebetulan ketahuan curhat di blog. Kan jelas terlihat anda tidak profesional.

Dua hal itulah  yang membuat saya ‘tertahan’ dalam menulis. Oh ya, sebenarnya satu lagi. Saya berusaha untuk tidak senarsis mungkin, dengan banyak menghilangkan kata ‘saya’. Walaupun tulisan di blog kebanyakan memang curhat, tetapi akan lebih baik untuk sedikit memberi pengetahuan dari pendapat pribadi maupun pengalaman. Dan bila kata ‘saya’ dihilangkan, pembaca akan lebih terbawa deskripsi cerita. Setidaknya itu menurut pendapat saya.

Pada akhirnya saya berusaha menulis seformal mungkin. Mengalir tapi tetap saja kaku, ya karena tertahan tadi. Tetapi ternyata pendapat yang banyak diusulkan para pakar itu tidak sepenuhnya benar. Ada buku yang secara bijaksana menjembatani antara kepuasan menulis dengan pedoman standar penulisan. Buku ini berjudul Keep Your Hand Moving karangan Anwar  Holid. Berdasarkan slogan anjuran menulis bebas dari pakar creative writing Natalie Goldberg.

Buku ini menganjurkan, bahwa menulis itu harus memenuhi kepuasan batin pengarangnya. Lupakan sejenak tentang pembaca, bahkan jangan pikirkan bahwa tulisan itu akan dibaca orang. Tumpahkan seluruh keinginanmu. Apapun yang ingin anda tulis, tulislah. Jangan dibatasi, jangan ditahan. Tidak perlu mengedit, tumpahkan semua.

Setelah proses ‘kerasukan’ itu selesai, lihatlah hasil tulisan anda. Bila anda nyaman dengan hasil tulisan tersebut, dalam artian semua ide tertumpah, sistematis, tertata rapi, anda tinggal mengirimkan karya tersebut ke media pembaca. Bisa blog, surat kabar, atau mungkin dalam bentuk buku. Tapi saya yakin, tidak mungkin pada masa trance tulisan bisa sangat bagus dan tertata. Nah, setelah itu baru anda berkompromi dengan diri sendiri dan mungkin pembaca. Aturlah tata bahasa, paragraf yang baik, bahasa yang manis, dan sebagainya.

Semua tergantung motif anda. Bila kondisi kerasukan tidak tertahankan dan anda tidak ingin menyebarkan semuanya ke media dengan pembaca yang tidak terkontrol, cukup tulislah di agenda anda dan simpan. Esok bila ingin mengeditnya, buka, dan kirimkan ke media yang lain.

Selamat menulis, dan tuangkan semua ide anda. Lupakan pembaca !

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in My World and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s