Giro Wajib Minimum: Senjata “Baru” Bank Indonesia


Baru tapi lama. Itulah kebijakan Bank Indonesia per 1 November 2010 untuk mengendalikan inflasi yaitu meningkatkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer perbankan dari 5% menjadi 8 % dari dana pihak ketiga yang disimpan. GWM adalah cadangan berupa uang tunai (primer) atau surat berharga (sekunder) perbankan yang harus disimpan di BI untuk berjaga-jaga bila terjadi masalah likuiditas di bank tersebut.

Secara teori ada 3 (tiga) instrumen yang digunakan Bank Sentral untuk mengendalikan jumlah uang beredar di masyarakat:

1. Suku bunga . Bank Sentral menerapkan suku bunga pinjaman kepada perbankan bila mereka ingin mendapatkan sejumlah dana dari bank sentral. Inilah yang disebut Suku Bunga Bank Indonesia (BI rates) yang saat ini berkisar 6,5%. Semakin besar suku bunga ini semakin besar dana yang dapat ditarik dari masyarakat, karena suku bunga simpanan akan mengikuti BI rates ini.

2. Obligasi Pemerintah, akan diperjual belikan oleh bank sentral. Bila ingin menarik uang beredar di masyarakat, bank sentral akan menjual obligasi ke masyarakat , demikian pula sebaliknya.

3. Persyaratan Pencadangan (Reserve Requirement) atau Giro Wajib Minimum Perbankan. Bila ingin mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat, cukup meningkatkan persyaratan GWM.

Senjata yang selama ini dipakai BI untuk mengendalikan inflasi, adalah turun naik bunga.  Bila ingin inflasi rendah, suku bunga simpanan dinaikkan sehingga menarik minat masyarakat untuk menyimpan uang di bank. Cara ini beresiko meningkatknya suku bunga pinjaman sehingga ekspansi kredit menurun.

Cara kedua yaitu jual beli obligasi pemerintah pun telah sering dilakukan. Yang populer adalah Obligasi Ritel Indonesia dengan menarik dana segar dari masyarakat  nilai nominasi yang kecil.

Cara ketiga, nah ini yang jarang bahkan baru dilakukan BI yaitu mengatur cadangan keuangan perbankan, atau Giro Wajib Minimum. Sebenarnya kebijakan ini lumrah dilakukan oleh bank sentral, asalkan tidak diikuti oleh kebijakan lainnya.

Per 1 Maret 2011, bank yang tidak memenuhi persyaratan Loan Deposito Ratio atau Rasio besarnya pemberian kredit dibandingkan tabungan dana pihak ketiga sebesar 72-100% dari DPK, akan dikenai penalty tambahan sebesar 1% kenaikan GWM per deviasi 10% LDR. Alasannya untuk ekspansi kredit demi pertumbuhan ekonomi negara.

Hal inilah yang dikatakan senjata lama tapi baru BI. Lama untuk pengendalian inflasi, tapi baru bila kebijakan ini untuk memacu pula ekspansi kredit.

Banyak bank yang merasa tidak sanggup memenuhi persyaratan 72-100% LDR lebih baik membayar penalty, daripada memacu ekspansi kredit tetapi dengan resiko adanya kredit macet. Sebagai contoh BCA, LDR per Agustus 2010 adalah 54 %, lebih baik membayar penalti tambahan (72-54%)/10% x 1 % =1,8% tambahan GWM.

Akan efektifkan senjata baru BI ini untuk ekspansi kredit perbankan?

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Credit Loan, My Economic Thinking. Bookmark the permalink.

3 Responses to Giro Wajib Minimum: Senjata “Baru” Bank Indonesia

  1. sophiyanto says:

    good job mom!

  2. Pingback: 2010 in review | My Agenda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s