Lean Six Sigma


Terms kualitas selalu melekat di benak saya. Wajar saja, sebagai konsumen saya selalu mengutamakan kualitas. Baik kualitas produk maupun kualitas servis. Intinya, saya ogah rugi dengan uang yang saya keluarkan untuk mendapatkan suatu produk atau pelayanan.

Saya mengenal tools atau perangkat untuk meningkatkan kualitas pada saat bekerja di manufaktur. Pertama, adalah TQC (Total Quality Control) atau TQM (Total Quality Management). Sederhana saja sih aplikasinya. Para karyawan digiring untuk mempresentasikan satu projek tentang peningkatan kualitas setiap minggunya. Nah, karena dipaksa itulah kami jadi berpikir kira-kira apa ya yang bisa kuperbuat untuk meningkatkan kualitas?

Not so bad. Apalagi ditambah kami bekerja berdasarkan sistem unit bisnis, dimana satu unit bisnis harus bertanggung jawab penuh terhadap produk keluaran. Kalau sampai unit bisnis yang menjadi konsumen  komplain terhadap kualitas produk kami, ya kami harus menyelesaikan cacat yang terjadi. Dan cacat itu jelas harus disembuhkan atau dibuang, yang berarti we spend our money for nothing.

6sigma

Perangkat berikutnya, yang diperkenalkan dengan penuh kemegahan : Lean Six Sigma. Lean = ramping, atau efisien. Six Sigma=tanda statistik yang menandakan hanya 3,4 cacat per juta yang dapat diterima. Arti keseluruhan berarti perangkat kualitas yang mengefisienkan proses sekaligus mengurangi variasi produk. Pada saat presentasi pengantar saja kami disuguhi gambar kijang dikejar macan. Maksud si presenter adalah, di alam rimba raya bisnis, kami (dilambangkan kijang) harus lari kencang agar tidak dimakan kompetitor (si macan tadi). Alamak !

Pelaksanaan LSS ini lumayan konsisten. Ya haruslah, karena butuh investasi cukup tinggi untuk training SDM berupa Black Belt (BB) & Green Belt (GB). Hebat juga para belters ini. Gaji tinggi, pengetahuan tentang kualitas ok, training ke luar negeri, sering dibajak perusahaan lain pula..hehe..Dan yang jelas, tidak usah bekerja keras di lantai pabrik. Tapi itu bayangan kami, ternyata aslinya mereka stress juga. Dikejar-kejar cost saving dan target yang harus dilaporkan tiap minggu.

Projek LSS dipilih oleh manajemen atas. Manajemen mengontrol pelaksanaan projek tiap minggu yang harus dilaporkan para GB. Projek ini biasanya berdasarkan keperluan cost saving, efisiensi, kualitas, permintaan konsumen, yang ujungnya adalah agar tujuan perusahaan tercapai : balik-balik lagi ke profit.

Saya terhitung sudah menyelesaikan 2 projek, satu projek lagi setengah jadi (reason resigned). Atas nama kualitas, cost saving, dan ekologi. Sebetulnya cost saving vs kualitas selalu bertabrakan. Sulit menggabungkan mereka, ya paling tidak negosiasi dimana keduanya tidak terlalu kalah (halah, mbingungi ya).

Sekarang saya berminat untuk membuat penelitian tentang Lean Six Sigma. Pengalaman saya di lantai manufaktur, tapi tentunya bisa untuk aplikasi di industri layanan. Masih berusaha mencari judul yang pas. Gali..dan gali.. Wish me luck.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Quality, Manufacturing and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s