Jebakan Malthus : Gegar Penduduk Indonesia


padat penduduk indonesia

padat penduduk indonesia

Artikel di Kompas 16/7/2010 tentang Jebakan Malthus (Malthusian Traps) dan populasi penduduk Indonesia. Berdasarkan sensus BPS tahun 2010, penduduk Indonesia berjumlah 235 juta. Dibandingkan 10 tahun yll 208 juta, angka ini mengalami kenaikan signifikan.

Dihubungkan dengan teori Thomas Robert Malthus tentang kependudukan (An Essay on The Principle of Population, 1798). Bahwa penduduk dunia meningkat berdasarkan deret eksponensial, sementara lahan dan pangan sebagai komoditas kehidupan penduduk akan semakin terbatas. Lahan dan pangan adalah fixed asset yang tidak akan berkembang, tetapi harus mencukupi penduduk yang terus meningkat.

Malthus belum memasukkan unsur teknologi dan kemajuan industri dalam prediksi keterbatasan lahan dan pangan. Tetapi bahkan pada jaman sekarang pun, unsur ini dimasukkan dan lahan serta pangan bertambah, tetap saja lajunya lebih lambat dibandingkan ledakan penduduk. Ada dua kontrol pengendalian: hukum positive, dan pencegahan. Positive  berarti meningkatkan angka kematian  akibat kelaparan, perang, penyakit. Pencegahan berarti mengendalikan angka kelahiran, dengan penundaan kehamilan, hidup selibat, dll.

Ada teori Malthus yang berlawanan dengan teori ekonomi. Bahwa penduduk dengan pendapatan tinggi akan menambah jumlah anak. Ternyata saat ini hal tersebut tidak berlaku. Negara dengan penduduk berpendapatan tinggi seperti negara di Eropa memilih untuk tidak mempunyai anak. Pertumbuhan penduduk mereka nyaris nol. Alasannya macam-macam, mulai dari keberatan untuk menikah karena biaya tinggi, kebebasan, dll. Titik beratnya adalah mereka mempunyai opsi tinggi untuk menentukan uang mereka digunakan untuk apa. Dan mempunyai anak bukan salah satu alternatif.

Berbeda dengan Indonesia, yang dikategorikan negara berkembang dengan penduduk kategori miskin 31 juta jiwa (13% dari total penduduk Indonesia). Mempunyai anak dikategorikan hiburan, entah nanti bisa menghidupi atau tidak. Bahkan anak termasuk sebagai sumber daya manusia yang nanti bisa sebagai pemasok rejeki untuk orangtuanya. Memang anak pasti mempunyai rejeki sendiri-sendiri, tapi tetap orang tua harus memikirkan kesejahteraan hidup anaknya.

Penduduk yang secara kualitas baik, sebenarnya dapat dijadikan aset yang mendorong negara untuk maju. Seperti halnya Cina, dan Amerika. India pun termasuk kategori ini karena SDM mereka mempunyai pengetahuan yang cukup untuk bersaing internasional. Indonesia?

Saya pribadi berdasarkan pengamatan sehari-hari telah merasakan betapa sesaknya hidup di Indonesia. Tidak ada lahan kosong lagi. Dulu saya merasa hidup di kota besar Indonesia yang paling berat adalah di Jakarta karena sesaknya penduduk. Sekarang bahkan di Semarang, betul-betul padat penduduk. Begitu pula di Surabaya.

Keluarga Berencana sepertinya satu-satunya cara untuk menanggulangi masalah ini.  Pertambahan penduduk cukup hanya untuk menggantikan orang yang meninggal. Jadi terjadi zero growth.

Motto Banyak anak banyak rejeki memang lebih baik dilewatkan. Logika anak sedikit lebih banyak rejeki segera disosialisasikan.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Parodi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jebakan Malthus : Gegar Penduduk Indonesia

  1. Pingback: 2010 in review | My Agenda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s