Laba Bank tuh Gede ya?


Awal tahun 2009, masih terasa krisis ekonomi global akibat salah urus kredit mortgage di Amerika Serikat. Industri yang berorientasi ekspor terutama ke Amerika Serikat dan Eropa, sedikit banyak terimbas juga. Demikian pula dengan bank yang banyak berhubungan dengan lembaga keuangan asing, baik langsung maupun tidak langsung melalui debitur.

Sebenarnya kondisi krisis tersebut tidak separah tahun 1997. Tidak terjadi rush (pengambilan dana masyarakat di bank secara terburu-buru). Tetapi tetap saja likuiditas (kesediaan dana) di bank mengering. Banyak penyebabnya, terutama pengambilan dana oleh masyarakat karena takut tabungannya hilang begitu saja. Walaupun tidak terburu-buru, hal ini tetap berlangsung.

Bank dengan dana terbatas, terpaksa menahan laju pemberian fasilitas kredit. Di sisi lain, industri orientasi ekspor yang terpukul krisis membutuhkan dana modal kerja untuk menjalankan bisnisnya. Penawaran kredit terbatas, dan permintaan kredit tinggi menyebabkan suku bunga kredit melonjak.

Sebagai gambaran selintas, suku bunga kredit saat itu berkisar 14% s.d. 15%. Suku bunga deposito 5 s.d. 6%, sehingga terjadi selisih (spread) 8% s.d. 9%. Selisih tersebut dinamakan Net Interest Margin (NIM). Sebenarnya suku bunga kredit ditetapkan dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang nilainya konstan, walaupun pengeluaran bank naik turun. Contoh biaya tetap adalah biaya overhead bank (SDM, operasional cabang, ATM, dll.).

Sedangkan biaya variabel selalu berubah, sesuai dengan suku bunga kredit. Contohnya adalah biaya untuk mendapatkan dana masyarakat, berupa bunga tabungan atau deposito. Termasuk juga Biaya resiko, berupa dana yang harus disisihkan bank bila terjadi gagal bayar para peminjam fasilitas kredit. Bisa disebabkan faktor mata uang, krisis moneter, dsb. Selebihnya adalah laba untuk bank.

Pengamat perbankan pada saat itu mencela bank karena mengambil laba terlalu tinggi. Diilustrasikan dengan suku bunga kredit 15% terdiri dari suku bunga tabungan 5%, biaya overhead 3%, biaya resiko 3%,dan laba bank 4%. Spread bank di Indonesia sekitar 8% s.d. 9% pun dianggap terlalu tinggi di banding bank di ASEAN yang berkisar 4 s.d. 5%. Bahkan saat Bank Indonesia menurunkan suku bunga nya s.d. 6,5%, suku bunga kredit bank tidak ikut menurun serta merta. Saya sampai keki sendiri dikatain di kelas, wow bank memang kebangetan ya, suka ambil laba kegedean. Mengambil kesempatan saat negara kesempitan.

Saya pun menjawab, eh broer dan nyonye-nyonye.. Sebagai organisasi profit, wajar dong bank mengambil untung dari aktivitas bisnisnya. Tetapi harap dilihat prosentase komposisinya. Banyak bank prosentase terbesar pada biaya resiko 4 s.d. 5%, dan bukan laba bank. Hal ini disebabkan bank merasa perlu untuk mencadangkan dana cukup apabila terjadi gagal bayar kredit debitur. Indonesia tergolong sebagai negara peringkat resiko tertinggi di ASEAN, dibandingkan Malaysia atau Singapura. Jadi wajar juga bila spreadnya lebih tinggi. Ditambah kondisi krisis yang dapat menyebabkan debitur berorientasi ekspor untuk gagal bayar.

Jadi sebetulnya, selesai sudah perbantahan itu. Selisih tinggi bukan untuk laba bank, tetapi untuk biaya resiko. Tidak bisa digeneralisasi memang, karena strategi tersebut dijalankan beberapa bank. Yang patut dicermati adalah bagaimana menjaga agar suku bunga kredit tidak meningkat agar perekonomian dapat berkembang. BI sebagai kontrol moneter pun, sulit untuk menyuruh bank menurunkannya. Hal ini harus dari internal bank itu sendiri dan strateginya dalam menghadapi kompetisi. Bank dengan suku bunga kredit tinggi tidak akan laku di pasar.

Pertengahan tahun 2010, bank secara natural telah menurunkan suku bunga kredit berkisar 11% s.d. 13%. Kondisi perekonomian pulih, sehingga semangat berkompetisi bank meningkat. Semoga hal ini akan terus berlanjut dan menopang perekonomian negara.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in All about Bank, My Economic Thinking and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s