Cacing vs Katak : Falsafah Timur vs Barat


Membaca judul diatas, sepertinya saya doyan sekali dengan binatang yang melata dan melompat . Bukan itu. Ini hanya ilustrasi tentang dua buku motivasi dengan perlambang binatang. Ping Perjalanan Seekor Katak mencari Kolam Baru karangan Stuart Avery Gold, dan Cacing dengan Kotoran Kesayangannya karangan Ajahn Bram. Yang satu berisi motivasi untuk menggapai impian, yang lainnya berisi bagaimana cara untuk tidak mempunyai keinginan apapun.

Ping, perjalanan seekor katak mencari kolam baru

Ping, perjalanan seekor katak mencari kolam baru

Saya akan menceritakan sekilas mengenai buku-buku ini. Ping, salah satu idola saya, adalah seekor katak hijau yang sangat merindukan kolam baru. Mengapa? Pertama, karena kolam lama telah dangkal. Kedua, dia merasa punya talenta kaki kuat untuk melompat. Sayang, bila disia-siakan untuk tetap diam di kolam lama. Ping berguru Burung Hantu, berusaha keras menemukan kolam indah kerajaan yang dicita-citakan. Ping berhasil menemukannya dan (kelihatannya) bahagia. Tetapi dengan pengorbanan cukup besar: si Guru mati dicaplok elang, dan dia hanyut terbawa arus yang menyebabkannya hampir mati.

Buku kedua berjudul Cacing dan Kotoran kesayangannya, berkisah mengenai manusia yang sibuk mengejar duniawi. Manusia dilambangkan cacing, kebutuhan duniawi dilambangkan kotoran.Dua biksu yang karena karmanya, satu menjadi dewa di surga, yang satunya menjadi cacing di kotoran busuk. Si Dewa berjuang untuk menarik si cacing dari kotoran, tetapi cacing tidak mau. Menurutnya kotoran itu adalah yang terbaik dalam hidupnya, sehingga dia tidak mau melepasnya. Hal ini melambangkan manusia dengan keinginannya tidak mau melepas hal keduniawian.

Si Cacing dan Kotoran kesayangannya

Si Cacing dan Kotoran kesayangannya

Bila ditilik inti dari kedua buku tersebut adalah masalah keinginan. Ping, jelas mengidolakan keinginannya terwujud. Segala macam cara ditempuh agar mendapatkan apa yang diinginkan. Dia bebas untuk berkeinginan. Sedangkan buku Cacing menyatakan sebaliknya, manusia harus bebas dari berkeinginan. Tidak akan ada yang cukup di dunia, bila manusia terus mengejar keinginannya. Yang harus dicapai adalah kebahagiaan saat ini, bukan nanti saat keinginan itu tercapai.

Kedua buku ini secara cermat membidik apa yang terjadi di dunia barat dan dunia timur. Tidak dapat digeneralisasi memang, tetapi secara kasat mata dapat dikatakan demikian. Dunia barat dilambangkan sangat duniawi, tergesa mencapai keinginannya. Modern, maju, sibuk berkompetisi mendapatkan apa yang diinginkan. Dunia timur melepaskan keduniawian, berkonsentrasi terhadap akhirat. Pelan-pelan asal selamat, takkan lari gunung dikejar. Hidup Cuma sekali, untuk apa lari-lari?

Falsafah barat dan timur tidak akan pernah bertemu. Kecuali kita sendiri yang mengambil jalan tengah. Sesuatu yang keterlaluan memang tidak baik (sesuai falsafah Islam). Keinginan perlu untuk memajukan kehidupan pribadi dan orang lain. Tetapi dalam proses mengejar tetap harus ada kebahagiaan di dalamnya. Bila kita sudah merasa tidak mampu, untuk apa harus mencecar diri sendiri tetap melakukannya. Tentukan sendiri batas kemampuan mengejar keinginan dan waktunya menghadapi kenyataan. Hidup akan terus berjalan, suka atau tidak suka kita menjalaninya.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Cerita and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s