“Jebakan Investasi” – Pedoman bagi Kreditur


Ada artikel menarik di Kompas (6/7) berjudul Jebakan Investasi. Artikel ini menguraikan target dan kondisi investasi di Indonesia. Pertama, diuraikan target pemerintah tentang investasi tahun 2010 s.d. 2014 sebesar Rp.2.000 triliun per tahun. Kebutuhan minimum untuk mencapai perekonomian 7% tiap tahun.

Kedua, tentang komposisi investasi. Bahwa 10 tahun terakhir 91,23% investasi berada di Pulau Jawa, 6,79% di Sumatera, sisanya di daerah lain Indonesia. 68% PMA, 32% PMDN. Investasi sektor sekunder 78,15%, tersier 13,21%, dan 8,61% sektor primer. Artinya kegiatan investasi lebih banyak diberikan kepada para pedagang/distributor (sekunder), daripada pengolahnya (primer).

Saya tercenung dengan fakta tersebut. Mengingat saya bekerja pada lembaga pembiayaan atau kredit untuk investasi maupun modal kerja. Dan seingat saya, komposisi prosentase pemberian kredit didominasi oleh pengolahan (hampir 75%) dan bukan perdagangan. Tetapi mengapa secara nasional investasi masih didominasi oleh sektor sekunder?

Baiklah, terlepas dari itu semua, kita tidak dapat mengingkari bahwa aktivitas ekonomi Indonesia berpusat di Jawa. Tempat berkumpulnya manusia di seluruh Indonesia karena dulu terkenal kesuburannya. Seluruh infrastruktur dibangun disini. Wajar, bila investasi berkembang biak dengan pesat.

Investasi PMA. Dapat terlihat dari kepemilikan bank nasional yang berubah menjadi bank asing. Komitmen Indonesia terhadap WTO yang mengizinkan kepemilikan asing s.d. 99% saham, memperlancar penjualan aset nasional kepada pihak asing. Yang penting bagi pemerintah adalah mendapatkan cukup banyak kucuran dana dari investasi tersebut. Syukur-syukur bisa membuka lapangan kerja.

Nampaknya investasi di Indonesia memang perlu dibenahi. Pemerataan pembangunan sebagai pemacu investasi harus ditingkatkan. Salah besar untuk memberikan sumber daya ekonomi kita kepada pihak selain negara. Sebelum kita punya kekuatan penuh untuk mengatur jalannya kerjasama dengan pihak asing (modal yang kuat), berhentilah menerima tawaran investasi yang akan mengambil seluruh aset nasional. Dan yang terakhir, mari berproduksi dan jangan hanya sekedar menjualūüėČ

Lembaga pembiayaan juga harus mencermati pemberian kreditnya. Prioritas diberikan kepada industri manufakturing, dan pengolahan luar jawa. Masalahnya sekarang adalah sangat sedikit industri tersebut di luar Jawa. Dibutuhkan kerjasama menyeluruh antara departemen perindustrian, pemerintahan, dan bank untuk mulai mendirikian Kawasan Industri seperti halnya di Batam.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Credit Loan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s