BP, Bakrie, dan Bangkrut


Tumpahan minyak BP di Teluk Meksiko

Tumpahan minyak BP di Teluk Meksiko

Tanggal 20 April 2010, terjadi ledakan pipa BP (Beyond Petroleum) di rig Deepwater Horizon Teluk Meksiko, USA, mengakibatkan kebocoran pipa dan tewasnya 11 (sebelas) pekerja. Jutaan liter minyak tertumpah ke perairan Teluk Meksiko, dan mulai merambah ke Laut Atlantik (Bisnis Indonesia, 17 Juni 2010). BP telah mengeluarkan dana hampir USD 37 miliar untuk membersihkan polusi lingkungan dan membayar klaim pihak yang dirugikan. Dana  klaim sebesar USD 20 miliar telah disetujui dibayarkan. Tetapi timbul opini bahwa BP dapat mengajukan permohonan bangkrut atau pailit sehingga terbebaskan dari kewajiban untuk membayar klaim. Walaupun dengan resiko tercemar nama baik.

Kecelakaan ini disebabkan kecerobohan  pemasangan pipa untuk menggali sumur pompa. BP telah berusaha untuk menutup kebocoran dengan menurunkan kubah seberat 100 ton, dan menyuntikkan semen ke lubang tersebut. Tetapi belum terlihat nyata hasilnya. Di sisi lain pemerintahan Obama berusaha untuk menghentikan eksplorasi oleh perusahaan minyak di Amerika, untuk mencegah kecelakaan berulang kembali. Tetapi hal ini diprotes para pengusaha, dan dibatalkan oleh pengadilan.

Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo

Bakrie dengan Lapindo Brantas nya, pada Mei 2006, melakukan kesalahan yang hampir sama. Pada saat pengeboran eksplorasi (exploration drilling) di sumur Banjar Panji I, Sidoarjo untuk mendapatkan minyak mentah, terjadi kesalahan pengeboran pada jalur lumpur sehingga terjadi semburan lumpur (blow out). Hal ini biasa terjadi pada eksplorasi, tapi pada kasus ini tidak cepat ditanggapi sehingga menyebabkan semburan lumpur yang hebat (mud volcano) dan sulit ditanggulangi.

Para ahli dari luar dan dalam negeri telah memberikan solusi  tepat yaitu relief well. Atau pengeboran miring. Sayang, tindakan ini dihentikan karena membutuhkan dana besar Rp. 12 triliun. Lapindo Brantas memberikan dana kepada pihak yang dirugikan Rp.5 triliun. Tetapi potensi merugi  tetap berjalan. Jawa Timur merugi Rp.50 miliar perhari, dan kehilangan 10% dari PDB (Energindo, Juni 2010).

Dari dua peristiwa ini, dapat dilihat bentuk tanggung jawab perusahaan (CSR- corporate social responsibility)terhadap lingkungannya. Terutama terhadap dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan.  Keduanya menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan, bahkan musnahnya komunitas yang tinggal di lingkungan tersebut. BP dengan komunitas laut di Teluk Meksiko, Bakrie dengan komunitas penduduk yang tinggal di Sidoarjo.

Yang berbeda adalah BP terancam bangkrut karena terus mengeluarkan dana yang besar untuk menanggulangi masalah, sedangkan Bakrie masih melenggang. Direktur eksekutif BP, Tony Hayward, mundur karena tidak dapat memenuhi tugasnya. Sementara Vice President Relation Lapindo Brantas, Yuniwati Teriyana, mengajukan diri menjadi bupati Sidoarjo (walaupun dengan cita-cita mulia akan ‘menangani masalah sosial dampak lumpur’) . Aburizal Bakrie terus berjaya menjadi pengusaha maupun  ketua umum Golkar, partai terdekat pemerintahan. BP terus berusaha menghentikan pencemaran lingkungan, Bakrie menghentikan usahanya dengan berlindung di balik retorika ‘bencana alam’.

Etika mundur dan hukum bangkrut sepertinya tidak ada di Indonesia. Apakah ada perbedaan tingkat tanggungjawab  perusahaan lokal dan multinasional? Sepertinya demo penduduk lokal lebih mudah ditanggulangi, daripada protes perusahaan negara tetangga yang kuat pembiayaan.

Saya tidak berusaha menonjolkan fakta bahwa BP lebih baik dalam menanggulangi masalah daripada Bakrie. Toh pada akhirnya, keduanya sama saja merusak lingkungan. Tetapi harus disadari bahwa aktivitas sekecil apapun selalu membawa dampak lingkungan. Yang perlu disorot adalah bentuk tanggung jawab untuk mengatasi masalah tersebut.

Perusahaan dengan aktivitas bisnisnya memberikan keuntungan material bagi negara dan masyarakat. Dukungan terhadap aktivitas bisnis penggerak perekonomian ini harus kuat. Tetapi jangan sampai menutup mata terhadap kesalahan dan etika berbisnis. Bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan harus diutamakan. Semoga di masa depan bumi akan lebih baik karena etika terpuji penghuninya menjaga dan melestarikan lingkungan.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Parodi. Bookmark the permalink.

7 Responses to BP, Bakrie, dan Bangkrut

  1. kanca dhewe says:

    sebangun dalam dunia sepak-bola Indonesia. Ketika tim ayam jantan Prancis gagal total di Piala DUnia 2010 ini para juragan FFF (PSSI-nya Perancis; Fersatuan Fepakbola Francis) mundur. Para pemain-pelatih tidak dibayar. Presiden Sarkozy sampai memanggil T. Henry untuk menjelaskan duduk permasalahan. Suami Carla Bruni itu marah karena citra Prancis juga terbangun dari citra sepakbolanya.
    Lha di NKRI… sepakbola tidak kunjung berprestasi bahkan makin terpuruk. Sementara ketuanya melenggang kangkung. Bahkan mau dolan ke Afsel (studi banding…. mau mbandingkan apanya????). Presiden melalui menterinya berusaha menyentil melalui musyawarah di Malang. Namun sang patih Sengkuni PSSI tetap merasa berhasil mengelola persepakbolaan Indonesia.
    Kesimpulan dari Lapindo dan PSSI: Indonesia negara paling ndableg sedunia wakkakak… hidup ndableg…

  2. konco dewe juga says:

    ternyata pajak yang kita bayar untuk menanggung lapindo, sang pemilik lenggang kangkung…

    • Nini says:

      Bukannya sudah biasa, Pak Dewo? Pajak kita untuk membayar keinginan2 pembesar? termasuk rencana dana aspirasi

  3. rina D says:

    Gendeng tenan kok negoro iki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s