P e m u l u n g


Tiap hari pemulung itu melewati rumahku. Berhenti di bak sampah, membuka tutupnya dan mulai mengais-ngais. Botol plastik masuk ke dalam karung yang tadi dipanggulnya.Satu dus kertas pembungkus makanan, kantong plastik Alfamart, gelas aqua, menyusul. Kemudian dengan mata berbinar, dilihatnya ceret logam karatan yang dibuang ibuku tadi pagi. Pengaitnya beraksi, dan si ceret masuk ke dalam karung, menyusul kawan-kawannya.

Yang paling kubenci dari aktivitas pemulung tadi adalah dia tidak pernah merasa berkepentingan untuk membereskan kembali apa yang telah diperbuatnya. Ya, paling tidak membersihkan sampah yang porak poranda setelah dikais. Kemudian menutup kembali bak sampah. Cuma dua hal itu yang perlu dilakukannya. Tapi sayang tidak pernah.

Aku berusaha mendekatinya. Satu dua kali dia kuberi makan dan minum. Setelah itu sambil lalu kuperintahkan agar menutup bak sampah setelah dia mengambil barang kebutuhannya. Dia menurut. Tapi setelah beberapa hari, dia tidak kuberi makan minum, kembalilah ia ke tabiat semula.

Strategi berikutnya: kupisahkan sampah plastik dengan sampah daun, supaya dia lebih mudah mengambilnya. Terutama supaya dia tidak perlu membongkar seluruh tong sampah hanya untuk mengais plastik bekas idamannya. Tapi tahu apa yang dilakukannya? Seluruh sampah plastik yang kupisahkan diambil sesuai rencana, tetapi ternyata dia tetap membongkar tong sampah daun. Di kemudian hari pernah kutanyakan mengapa ia melakukan itu. Katanya, takut kalau aku berbohong. Hmm..

Ibu menasehatiku. Katanya, biarkan saja. Mungkin dia tidak paham maksudmu. Namanya saja juga pemulung, pasti dia berpendidikan rendah sehingga tidak mengerti apa maumu. Pernah pada suatu waktu karena sudah sebal atas perbuatannya, aku memarahinya. Saat lewat kupanggil dia, dan dia mendekat.

“Pak, Bapak kan sudah kenal saya. Hubungan kita baik. Mbok ya tolong, tiap kali habis ngaduk aduk sampah itu dikembalikan lagi semua ketempatnya. Kan kalau bersih, saya juga ikhlas ngasih sampah saya ke Bapak”.

Dengan air muka tenang, dia menjawab:

“Bu, saya jadi pemulung itu biar tidak ada yang bisa nyuruh saya. Saya ngerti maksud ibu selama ini, nyuruh saya mbersihkan sampah dan nutup lagi baknya. Tapi kalo saya nurut ibu, apa bedanya saya dengan pembantu?”

Aku mengadukan ini kepada sahabatku. Seorang profesional cendikia berlebihan materi.

“Ha..ha.. pemulung kok dilawan”

“Dia keras kepala”

Tiba-tiba dia bertanya, “Apa kalau aku seperti pemulung, kamu masih tetap menyayangiku? Tidak punya harta, pendidikan rendah,keringatan. Tapi bebas berpikir dan bertindak”.

Aku diam. Pilihan yang sulit, apalagi terhadap pemulung yang keras kepala.

“Selama ini aku mengagumimu. Pintar ya, tapi bukan materi”.

“Pikirkan lagi”.

Dan selanjutnya, aku kehilangan dua orang yang bertabiat sama: pemulung dan sahabatku.

Semarang,13 Juni 2010

NB: Lagi belajar nulis flash cerpen. Cerpen yang secepat kilat itu lho..

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Cerita. Bookmark the permalink.

2 Responses to P e m u l u n g

  1. rina D says:

    Kalo yang sering datang ke rumahku adalah orang minta2…dibilan pengemis juga bukan *pengemis identik dengan dekil*, yang datang ini adalah ibu2 dengan baju bersih dan rapi, kadang datangg bersama anaknya, aku sering menasehati…”Bu, ibu kan masih muda, gimana kalau kerja saja, daripada minta2 hasil ga seberapa..” Lalu dia jawab “iya bu”
    Beberapa kali dia datang, aku nasehati dengan kata2 yang sama dan dia jawab dengan kata2 yang sama pula
    Kurang lebih 2 bulan, dia kembali lagi dan lagi2 aku menasehati dengan kata2 yang sama, kemudian dia jawab…”Bu..saya sudah cari kerja ke rumah2, tapi tidak ada yang mau menerima saya karena mereka tidak percaya sama saya”
    Hmmmm…apa mau dikata…suli memang untuk memberikan kepercayaan kepada orang yang baru kenal…tapi kasihan juga ibu itu….
    Jadi kita harus bagaimana?

  2. avieni says:

    Lah coba suruh kerja di tempatmu aja Rin. Kan kamu percaya sama dia? siapa tahu kepercayaanmu bisa memicu ibu2 yang lain untuk percaya sama dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s