Semarang Pesona Asia


Seorang teman yang belum lama tinggal di Semarang pernah bertanya,

”Minggu depan ada teman dari Surabaya yang berkunjung. Kira-kira dia akan saya bawa kemana ya?”

“Ajak saja ke Kota Lama”, kata saya.

“Ke daerah banjir itu? Mau lihat apa disana?”

“Yaaa..yang bagus sih Gereja Blenduk. Kan antik tuh”

“Wah, kayaknya dilewati sambil naik kendaraan saja deh. Lalu apa yang lainnya?”

“Gimana kalo Kelenteng Sam Poo Kong di Gedung Batu”.

Saya mulai tidak pede.

“Lainnya lagi?”

“Taman Tabanas. Biar bisa lihat Semarang kota bawah waktu malam”

Dia  melengos, dan saya jadi jengkel.

“Sudah, biar dia di kamar hotel dan kamu bawakan saja Lumpia dan Wingko Babat”.

“Lumpia oke lah asli Semarang, tapi Wingko kan dari Babat. Jawa Timur juga”

“Nongkrong saja di Simpang Lima, sambil minum teh poci dan makan pecel”

“Teh poci yang dari Tegal itu ya?”

Diskusi yang tidak akan pernah selesai. Penyebabnya entah teman saya terlanjur apriori, atau saya terlalu bangga sebagai anak daerah. Tidak terima kota kelahirannya dipermalukan, seperti tidak ada yang dibanggakan dari Semarang.

Simpang Lima dan Kota Semarang

Tetapi sebenarnya saya malu, karena apa yang dikatakannya benar. Hikmah dari diskusi diatas adalah: tidak ada ciri khas Semarang. Dan kalaupun ada, tidak terlalu menarik bagi wisatawan karena kondisi tertentu. Tentu saja, tidak semua wisatawan dapat dipukul rata. Gereja Blenduk atau Toko Oen mungkin menarik bagi turis Belanda, berdasarkan memori. Tapi tidak untuk turis lokal karena daerah Kota Lama terlihat kumuh dan hobi kebanjiran.

Tahun berkunjung Jawa Tengah diundur dari 2011 ke 2013. Berkaca dari kegagalan Semarang pada tahun kunjungan 2007.Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo menganggap Semarang sebagai ibukota Jateng belum siap untuk menyambut wisatawan. Adanya slogan Semarang Pesona Asia yang dicanangkan beberapa tahun lalu pun, hanya nampak sebagai slogan ambisius. Apanya yang mempesona? Macet dimana-mana, kekumuhan karena PKL tampak jelas, apalagi kalau membicarakan banjir.

Beberapa waktu lalu digagas Semarang Great Sale. Wisata belanja dengan diskon besar, meniru Surabaya dan Jakarta, atau bahkan Singapura. Apakah ini strategi yang tepat untuk menarik wisatawan? Dalam Program Great Sale, kelas konsumen yang disasar adalah menengah ke atas. Produk yang dijual pun lokal bermerk atau impor. Ini cocok untuk Surabaya dan Jakarta karena dianggap kota metropolitan. Tetapi Semarang adalah kota kelas menengah, dengan konsumen kelas menengah pula. Mungkin malah nantinya turis lokal dari luar kota atau luar negeri tidak datang. Tapi malah penduduk Semarang yang menyerbu mal dan mempertinggi semangat konsumerisme nya.

Menurut saya, untuk menuju Semarang yang mempesona, langkah pertama adalah benahi dulu infrastruktur. Hilangkan banjir rob terutama, dan banjir musim hujan. Ahli perkotaan begitu banyak, masa tidak ada satu pun yang bisa masalah membenahi banjir Semarang.

Kedua, kurangi kepadatan lalu lintas. Hilangkan kemudahan pemberian kredit kendaraan bermotor roda dua. Naikkan pajak kendaraan agar masyarakat beralih ke kendaraan umum. Buat jalur sepeda agar mengurangi polusi dan membuat masyarakat sehat.

Ketiga, bersihkan kota. Benahi PKL dan atur di suatu tempat sehingga mereka tidak memenuhi trotoar dan membuat kotor pemandangan kota.

Setelah infrastruktur beres, tentukan ciri Semarang yang dapat dipromosikan sampai ke luar negeri. Bisa berupa paket wisata kota, atau wisata kuliner. Buat produk ciri khas Semarang untuk menjadi suvenir. Patung Warag Ngendog, misalnya. Saya sering melihat channel Discovery Travel, atau Travel and Living di Indovision, tapi tidak pernah melihat Indonesia dipromosikan segencar Malaysia Truly Asia. Apalagi Semarang Pesona Asia ;(

Apabila turis telah berdatangan karena tertarik promosi, sambut mereka dengan infrastruktur yang ciamik. Kota yang bersih dan lalu lintas yang teratur, akan membuat mereka merasa betah. Suguhi mereka tarian dan lagu Gambang Semarang. Beri mereka suvenir gantungan kunci Warag Ngendog, dan batik Semarang.

Ok, mungkin tidak semudah itu memperbaiki sebuah kota. Tetapi saya ingin bangga sebagai penduduk Semarang. Dan berharap pajak yang saya kontribusikan untuk pembangunan daerah dapat berfungsi dengan baik. Semoga ke depan ada kemajuan yang berarti bagi promosi pariwisata kota ini.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Parodi. Bookmark the permalink.

7 Responses to Semarang Pesona Asia

  1. Fadhly Syofian says:

    kalau ada teman, kerabat, atau orang tua datang ke Semarang, saya paling bingung mau mengajak mereka kemana. Tidak ada yang spesifik di Semarang. Tidak ada pula tempat yang menarik dan digarap dengan baik. Karena itu tag line “Semarang Pesona Asia” itu, bagi jauh jauh panggang dari api. Jangankan Asia, Semarang Pesona Jawa saja saya kira masih dipertanyakan…..

    salam,
    http://fsyofian.wordpress.com

    • avieni says:

      Betul Mas Sofyan. Harus secepatnya dibuat sebuah icon yang menjadi ciri khas semarang. Dan dipromosikan secara serius sampai ke luar negeri. Tapi ya itu tadi, bener kata Pak Bibit, semua infrastruktur harus dibenahi. Kalau tidak, bisa2 wisatawan disuguhi banjir saja.

  2. Rony Setya Siswadi says:

    Memang benar yang disampaikan mbak Avieni, bahwa Semarang perlu banyak pembenahan. [] Berbicara tentang tujuan wisata di Semarang, karena minim sekali objek wisata di tengah kota, sepertinya kita harus menjenguk kawasan sekitarnya seperti Gedong Songo, Rawa Pening, dll.

    • avieni says:

      Betul Mas Rony. Kawasan sekitar Semarang dapat ikut pula menunjang pariwisata Kota Semarang. Dinas Pariwisata dapat lebih berkonsentrasi untuk produk atau servis khas Semarangan.

  3. Pingback: 2010 in review | My Agenda

  4. budi utomo says:

    melihat kondisi kota semarang saat ini memang penuh kesemrawutan, tapi mau tidak mau sebagai warga semarang asli harus tetap bangga dengan kota yang kita miliki ini.. saya yakin suatu saat nanti semarang akan lebih baik dalam segala hal, ntah kapan itu… hehe…

    • avieni says:

      Betul Mas Budi. Sekarang Semarang sudah mulai membaik terutama dari sisi infrastruktur melihat usaha yang sungguh-sungguh dari berwenang, seperti pembersihan sungai dan perapian PKL. Semoga lebih baik di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s