Man The Player


The child is laughing: The Game is my wisdom and my love

The young is singing: The Love is my wisdom and my game

The old is silent: The Wisdom is my love and my game”

(Lucian Blaga – 3 Faces)

Anak kecil suka bermain itu hal yang jamak. Apa saja buat mereka adalah arena permainan yang mengasyikkan.  Saat saya kecil, saya menganggap sampai dewasa pun boneka adalah sesuatu yang menarik.

Tetapi tahukah anda orang dewasa pun gemar bermain? Mungkin sering di benak anda mengatakan orang dewasa yang hobi main game komputer adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Waktunya hanya dihabiskan di depan komputer tanpa suatu hal produktif yang dihasilkan.

Buku Homo LudensHomo Ludens. Man The Player. Playing Man. Manusia suka bermain. Istilah ini pertama kali diluncurkan oleh Johan Huizinga, seorang sejarawan Belanda, pembelajar budaya, dalam bukunya Homo Ludens.  Bermain lebih tua dari budaya manusia, walau dapat dikatakan aktivitas manusia adalah bermain.  Sebenarnya semua yang mempunyai aturan adalah permainan. Dunia sendiri adalah permainan, dengan kita manusia yang tinggal di dalamnya berperan sebagai pemain.

Bermain harus menyenangkan. Walaupun menggunakan peraturan tetapi pemain harus merasa bebas. Terlepas dari dunia nyata, dan menciptakan dunia sendiri. Tidak mengenal untung rugi. Relaks. Itulah mengapa game komputer online sangat laris. Karena manusia terlibat dalam sesuatu yang menyenangkan, bersama puluhan gamers lainnya. Meninggalkan dunia nyata, menciptakan dunia sendiri. Walaupun tidak sepenuhnya relaks, tetapi hormon serotonin akan meningkat.

Saat saya malas bekerja di hari Senin, Ibu saya selalu bilang “dolan!”. Dalam artian pergilah bermain hari ini. Jangan menganggap pekerjaan adalah siksaan, tetapi suatu permainan. Bila anda harus menghitung angka, bermainlah dengan angka tersebut. Beradalah dalam kondisi trans, sama seperti saat bermain game komputer. Pada saat anda sibuk bekerja, anda bahkan sempat berkomentar kepada teman anda:”I am not working. I am playing” 😉

Bermain bagi anak kecil adalah belajar, karena dia akan mengexplore dunia lebih luas. Hal ini menyenangkan karena sesuatu yang baru menarik untuk diketahui. Manusia dewasa kadang menganggap sebaliknya. Mengetahui atau mempelajari sesuatu yang tidak menarik minat, baginya menakutkan. Hanya karena malu dianggap bodoh akibat ketidaktahuan tersebut.

Kita perlu meniru kanak-kanak dalam bermain. Terlarut dalam permainan menyebabkan hormon serotonin (hormon pembawa rasa senang) meningkat. Hidup akan lebih bergairah. Anak kecil tidak pernah nampak sedih saat bermain, kecuali dia dalam posisi kalah. Tetapi setelah itu dia akan bangkit lagi untuk mengejar ketertinggalannya. Sama kan dengan kehidupan orang dewasa? Bedanya orang dewasa sulit untuk bangkit lagi saat dia mengalami masalah dalam permainan kehidupannya. Bahkan cenderung murung. Depresi. Lari dari kenyataan. Hayo ngaku!?

Yuk, coba bermain dalam kehidupan kita. Bermain dalam arti yang sehat. Paling tidak kita bisa membawa senyuman di wajah kita dan orang sekitar. Bermainlah sepuasnya dalam kehidupan ini.

About avieni

A Simple Lady with a simple attitude
This entry was posted in Parodi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s