SWAKAPITAL:  WUJUD EKONOMI PANCASILA DAN NAWACITA ERA JOKOWI 


Adakah orang yang bercita-cita untuk menjadi kaya, ternyata lebih banyak pengeluaran daripada pendapatan? Saya pikir tidak ada. Mungkin beberapa dari anda menyangkal dengan menciptakan retorika awal mendirikan bisnis. Pasti lebih besar biaya dibandingkan penjualan. Atau pada saat mendapatkan projek baru, banyak biaya yang harus dikeluarkan. Saya setuju. Tapi bila itu berlanjut, sama saja usaha itu bangkrut bukan? Si pengusaha harus memutar otak agar bisnis dapat menarik pendapatan besar. Retorika tersebut dapat terjadi pada suatu negara.

Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2017 telah resmi disusun. Pendapatan negara diproyeksikan berkisar Rp 1.750 triliun, lebih rendah 2,7% dari anggaran 2016 yang telah direvisi (Jakarta Post, 31/10/2016). Sedangkan pembelanjaan berkisar Rp 2.080 triliun, yang berarti defisit berkisar 2,41%. Masih lebih rendah daripada yang diperkirakan yaitu 2,35%.  Menjadi pertanyaan, bahkan pada suatu rancangan anggaran, pemerintah masih belum percaya diri untuk membuat anggaran surplus. Pak Bambang S. Brodjonegoro, yang saat itu masih menjabat sebagai menteri keuangan, menyatakan tidak mudah untuk membuat anggaran negara menjadi surplus (Kompas.com, 23/6/2016).  Dengan kata lain, Indonesia tidak buruk-buruk amat untuk masalah defisit anggaran. Di tahun 2015, Indonesia adalah negara emerging yang mempunyai defisit anggaran terminim (2,52%), dibandingkan dengan Tiongkok (2,74%), India (7,1%), dan Malaysia (3,03%).

Sebagai informasi, bahwa pendapatan negara didapatkan dari penerimaan pajak, dan penerimaan non pajak. Penerimaan pajak adalah pendapatan utama dengan porsi hampir 90% dari pendapatan negara. Sisanya adalah penerimaan dari bermacam sumber seperti pemanfaatan sumber daya alam, pengelolaan kekayaan negara, dll. Sedangkan belanja negara terbagi menjadi dua yaitu belanja pemerintah pusat, dan transfer ke daerah. Jadi bila terjadi defisit, apa penyebabnya?  Bisa sumber pendapatan pajak sebagai pendapatan utama kurang, atau belanja negara terlalu besar. Dalam kasus di Indonesia, kurangnya pendapatan pajak dari target yang menjadi terdakwa. Tahun 2016, target penerimaan pajak adalah Rp 1.355 triliun, dan sampai dengan Oktober 2016 baru mencapai Rp 870,95 triliun atau 64%nya. (Bisnis.tempo.co, 8/11/2016). Tahun 2015, pencapaian penerimaan pajak hanya 84,7% dari targetnya yaitu Rp 1.491,5 triliun dari target Rp 1.761,6 triliun (Kemenkeu.go.id, 5/1/2016).

Penerimaan pajak didapatkan dari geliat aktivitas perekonomian suatu negara. Semakin aktif masyarakat bertransaksi, dan melakukan aktivitas ekonomi, semakin besar pajak yang diterima negara. Sebagai contoh, industri manufaktur akan menimbulkan siklus aktivitas ekonomi, yaitu menyerap tenaga kerja, membeli bahan baku, memproduksi, memasarkan, dan menggunakan kembali laba dari penjualan produk untuk memproduksi kembali. Demikian pula industri lain, seperti jasa, dan perdagangan. Industri-industri ini dikenal sebagai penggerak perekonomian. Tenaga kerja yang diserap akan menghasilkan siklus ekonomi tersendiri, yaitu membeli makanan, bekerja menghasilkan produk, dan menghabiskan upah yang didapat untuk kebutuhannya. Industri dan tenaga kerjanya akan membayar pajak berarti memberikan pendapatan bagi negara.

Hal terpenting bagi industri untuk beraktivitas ekonomi adalah modal. Modal bisa didapatkan dari internal yaitu dari pemilik perusahaan; maupun eksternal yaitu pembiayaan dari bank, menerbitkan surat utang (obligasi), atau menjadi perusahaan terbuka di pasar modal. Bila perusahaan harus memilih pembiayaan dari eksternal antara dari bank atau menerbitkan obligasi, pada umumnya perusahaan akan memilih obligasi. Mengapa? Karena suku bunga yang dibayarkan lebih besar untuk bank daripada obligasi. Per Agustus 2016, suku bunga kredit masih berkisar 10% s.d. 12%, (BI.go.id) dan tren itu masih berlanjut s.d. Oktober 2016, walaupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah berupaya keras untuk menurunkan nilai tersebut menjadi single digit. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor (jangka waktu) kurang dari 10 tahun lebih rendah, yaitu 8%. Imbal hasil obligasi perusahaan berkisar 8% s.d. 10%.

Alternatif lain adalah mendapatkan pendanaan dari pasar modal, yaitu dengan menjadi perusahaan terbuka (IPO-Initial Public Offering) dimana sebagian sahamnya akan menjadi milik publik. Disini apabila kepemilikan publik s.d. 40%, maka perusahaan akan mendapat keringanan pajak 5%.  Sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu berkisar 5%, investasi di Indonesia adalah hal yang sangat menarik. Pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) year to date diatas 17%, melampaui kinerja indeks bursa di negara lain (Infobank, Oktober 2016). Kapitalisasi pasar berkisar Rp 4.800 triliun di awal 2016. Kapitalisasi ini merupakan indikasi jumlah saham dikalikan harganya. Semakin tinggi kapitalisasi, dapat berarti volume saham diperdagangkan semakin tinggi, atau nilai nominalnya semakin tinggi.

Sebagian besar investor pasar modal adalah investor ritel, sebesar 475.112 investor, atau 97% dari total investor (ksei.co.id, 10/8/2016). Meningkat 27% dari posisi di tahun sebelumnya. Hanya patut disayangkan bahwa total aset saham masih didominasi persentase kepemilikan asing sebesar 64%, dimana kepemilikan investor asing naik 9% dari tahun sebelumnya sedangkan lokal naik 8%.

Hal ini berkebalikan dari total aset obligasi korporasi dan sukuk yang didominasi oleh investor lokal yaitu 93% banding 7%. Naik dari tahun lalu yaitu 91% banding 9%. Fenomena yang menarik, mengapa investor lokal masih tertarik untuk memberi utang kepada perusahaan dibandingkan menanam modal ke suatu suatu perusahaan dengan membeli sahamnya

Hal yang patut dicermati dari komposisi kepemilikan saham yang didominasi asing adalah mudahnya para investor asing itu melarikan dananya. Hanya karena alasan sederhana, seperti suku bunga di negara lain lebih tinggi, keamanan investasi di suatu negara tidak dipercaya, atau bahkan keinginan dari manajer investasi bermodal kuat untuk mengacaukan suatu negara seperti yang dilakukan George Soros di tahun 1997. Oleh karena itu perlunya ketersediaan modal untuk penggerak perekonomian yang didapatkan dari dana investor lokal atau dalam negeri. Inilah yang disebut swakapital.

SWAKAPITAL DAN EKONOMI PANCASILA

Tentunya kita sudah sering mendengar istilah swasembada, terutama swasembada pangan. Definisinya adalah kemampuan suatu negara atau masyarakat untuk mencukupi kebutuhan pokoknya, terutama pangan, dari kemampuan sendiri. Contoh Indonesia adalah negara agraris, dimana dengan menanam padi sendiri dapat mencukupi kebutuhan pangan dua ratus juta masyarakat Indonesia. Tanpa impor, atau bantuan pihak asing. Program swasembada ini sebenarnya telah digalakkan sejak jaman orde baru. Tapi entah karena masyarakat Indonesia terlalu banyak sehingga terlalu besar konsumsi yang harus dipenuhi; atau karena keputusan pemerintah untuk menjalin hubungan baik dengan negara lain, maka keran impor untuk bahan pokok pun dibuka.

Asal usul swasembada ini sejalan dengan paham Ekonomi Pancasila, yang dirumuskan oleh Muhammad Hatta, dan dipopulerkan oleh Emil Salim (Kompas, 22/19/2016). Bahwa harus dicari suatu sistem ekonomi yang sesuai dengan kondisi Indonesia sendiri, tidak menganut ekonomi kapitalis maupun sosialis. Ekonomi kapitalis yang menganut sistem pasar, seperti yang kita anut selama ini, tidak sesuai dengan kondisi Indonesia. Kesenjangan modal yang begitu tinggi, ditunjukkan dengan koefisien Gini 0,41 (skala 0-1, dengan 1 adalah skala tertinggi), menunjukkan yang bermodal tinggilah yang menguasai pasar. Seperti kata Pak Emil Salim “Apabila kita ingin mengarahkan kegiatan-kegiatan ekonomi ke arah pembangunan, maka organisasi ekonomi yang terlalu bergantung kepada pasar tidak begitu jitu memenuhi kebutuhan kita” (Nugroho, 2016).

Sementara ekonomi sosialis yang menggantungkan diri kepada peran negara juga tidak terlampau cocok untuk Indonesia. Darimana negara mendapatkan dana? Apakah warga negara kaya mau saja menyumbangkan uangnya untuk kehidupan negara? Tidak mengikuti dunia yang telah mengglobal dengan persekutuan perekonomian dimana-mana?

Ekonomi Pancasila mempunyai corak sebagai berikut: (1) Roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral; (2) Kehendak kuat dari seluruh masyarakat ke arah keadaan kemerataan sosial sesuai asas-asas kemanusiaan; (3) Prioritas kebijakan ekonomi adalah penciptaan perekonomian nasional yang tangguh dan jiwa nasionalisme; (4) Koperasi merupakan soko guru perekonomian; dan (5) Adanya imbangan yang jelas antara perencanaan di tingkat nasional dengan desentralisasi untuk menjamin keadilan ekonomi dan sosial (Nugroho, 2016). Walaupun terlihat seperti di awang-awang, tetapi bila dicermati satu persatu, semua kalimat tersebut mengena kepada kondisi bangsa Indonesia. Contoh, corak pertama yaitu ‘roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral’ yang berarti aktivitas ekonomi yang tidak hanya mementingkan kebutuhan pasar, tetapi juga dampaknya bagi masyarakat.  Corak keempat, yaitu ‘koperasi merupakan soko guru perekonomian’ mencerminkan kegotong royongan masyarakat Indonesia, dimana satu sama lain saling membantu. Atau dengan istilah lain dari anggota untuk anggota koperasi.

Swakapital mendorong Indonesia untuk membiayai kegiatan perekonomiannya dengan kekuatan sendiri. Kekuatan di luar itu dapat membantu selama sifatnya mendukung perkembangan perekonomian Indonesia. Sama dengan sifat kegotong royongan masyarakat Indonesia yang saling membantu anggotanya untuk dapat hidup lebih baik. Sama dengan koperasi yang menjadi tiang perekonomian, dimana koperasi membentuk sistem dimana anggotanya menabung, dan uang tabungan tersebut dipinjamkan kepada anggota lain untuk berusaha. Bila anggota yang berusaha tersebut telah mendapat untung, maka pinjaman tersebut dikembalikan termasuk imbal hasilnya. Maka anggota penabung pun ikut merasakan manfaat dari uang yang ditabungnya.

Swakapital terutama dijalankan di pasar modal. Memacu pertumbuhan investor lokal untuk membeli saham, terutama pada saat IPO perusahaan. Kelebihan dari investor lokal ini adalah modal yang tak mudah lari (hot money) sehingga kestabilan perekonomian tetap terjaga. Secara tidak langsung, pasar modal adalah etalase kestabilan perekonomian suatu negara. Bila komposisi pasar modal terlalu besar di investor asing, dan pada suatu saat bila investasi tersebut ‘lari’ maka pasar yang ditinggalkan akan anjlok nilai gabungan sahamnya, dan mempengaruhi penilaian kinerja perusahaan. Pada umumnya setelah itu nilai rupiah  akan ikut menurun, karena kebanjiran likuiditas akibat penjualan saham. Nilai rupiah yang menurun, secara sistemik akan mempengaruhi banyak hal terutama pada industri-industri yang  masih impor bahan baku. Dan seterusnya dapat direka sendiri mengenai efek nilai rupiah turun.

Selain itu, negara yang memerlukan pendanaan untuk membiayai kegiatannya, dapat menerbitkan surat utang. Surat utang ini dapat dibeli oleh masyarakat perseorangan, atau oleh institusi. Sejak tahun 2006, pemerintah mengeluarkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) secara berkesinambungan dengan imbal hasil sesuai tingkat suku bunga di pasar. Hal ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk dapat mendanai secara langsung aktivitas negara. Selain ORI, diluncurkan pula Sukuk Ritel (SUKRI) yaitu surat utang berbasis syariah dengan basis pembiayaan adalah proyek-proyek pemerintah. Bagi investor ritel dengan modal minimal Rp5 juta, dapat membeli reksadana, agar dapat ikut ‘memiliki’ perusahaan di pasar modal dengan bantuan manajer investasi.  Sedangkan surat utang pemerintah untuk mendapatkan pendanaan dari institusi dinamai Surat Berharga Negara (SBN).

Contoh kegiatan swakapital diatas adalah pengejawantahan Ekonomi Pancasila yang dianut oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia. Ekonomi yang sebenar-benarnya sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia, dan identik dengan prinsip ke-Indonesia-an kita. Bahkan Donald Trump, calon presiden terpilih Amerika Serikat, dapat memenangkan pemilihan umum karena mementingkan kemandirian ekonomi dengan mengurangi kerja sama perekonomian yang merugikan kepentingan masyarakatnya. Indonesia sebagai negara yang telah mempunyai sejarah kemandirian, tentu harus lebih bisa menegakkan kedaulatan keuangan.

SWAKAPITAL DAN NAWACITA

Presiden Joko Widodo (Jokowi), melalui agenda prioritas pemerintahannya Nawacita, telah mewujudkan strategi swakapital. Nawacita ketujuh yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, dimana pemerintah berusaha mewujudkan kedaulatan keuangan. Kedaulatan ini dicapai dengan kebijakan inklusi keuangan mencapai 50% penduduk,  tax ratio terhadap GDP menjadi 16%, pengurangan utang pemerintah, pengaturan ketat penjualan saham bank nasional pada investor asing. Salah satu wujud membiayai perekonomian negara dengan modal dalam negeri termasuk pula dalan agenda prioritas ini. Pengajaran inklusi keuangan, agar penduduk melek sistem perbankan dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, membawa masyarakat ke akses pembiayaan terhadap perekonomian. Baik melalui jalur perbankan yaitu dana tabungan untuk kredit, maupun dana pembelian saham untuk pembiayaan di pasar modal.

Bursa Efek Indonesia (BEI) selama kurun waktu 2009 s.d. saat ini cukup sukses menggiring masyarakat untuk melek pasar modal melalui program inklusi keuangan ini. Saya masih ingat gencarnya pengenalan pasar modal di setiap kantor cabang BEI di daerah-daerah, penyelenggaraan simulasi pasar saham di universitas dengan istilah Pojok Bursa, dan tiap manajer investasi mengundang calon nasabah untuk diajari seluk beluk pasar modal. Hasilnya cukup memuaskan, dengan tren setiap tahunnya investor ritel semakin meningkat. Per posisi Juli 2016, investor ritel meningkat 27% year to date, dari 374.103 menjadi 475.112 investor. Hal ini menandakan meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, sekaligus menggerakan perekonomian negara.

Rekam jejak yang masih hangat dari pemerintahan Jokowi sebagai penggagas Nawacita untuk membangun kedaulatan keuangan negara adalah Program Amnesti Pajak. Amnesti pajak bertujuan mengatasi defisit anggaran. Tujuan berikutnya adalah memperluas basis pajak yaitu data wajib pajak bagi kantor pajak. Amnesti pajak memberikan pengampunan bagi para penunggak, dimana para wajib pajak dapat melaporkan hartanya yang belum terlaporkan, sekaligus membayar denda sesuai kesepakatan. Prosentase denda terendah 2% dari nilai objek pajak yang dilaporkan yaitu dari Juli s.d. September 2016. Tiga persen pelaporan Oktober s.d. Desember 2016, dan 4% dari Januari s.d. Maret 2017. Sasaran utama pemerintah adalah para wajib pajak yang menempatkan hartanya di luar negeri.

Dalam aplikasinya, Amnesti Pajak banyak menimbulkan kericuhan di masyarakat kelas menengah ke bawah. Baru terungkap bahwa banyak pula di antara mereka yang belum melaporkan hartanya. Denda yang dicanangkan dianggap mahal dan merugikan rakyat. Isu kurangnya sosialisasi pun bermunculan. Hal ini menyebabkan jajaran Menkeu dan Ditjen Pajak sempat menahan diri dan mereviu beberapa peraturan agar lebih sesuai di lapangan. Sampai tulisan ini dibuat, program amnesti pajak masih terus berjalan, dan ditengarai cukup sukses. Selain itu adanya kendala dari pemerintahan negara-negara lain dimana dana repatriasi WNI tertanam. Mereka berusaha menahan dana tersebut agar tidak kembali ke Indonesia. Pemerintah harus lebih meningkatkan kerjasama dengan pemerintah negara-negara tersebut, demi suksesnya program Amnesti Pajak.

Diluar isu-isu tersebut, OJK menilai Amnesti Pajak berhasil memberikan sentimen positif dan membangkitkan minat investor terhadap pasar modal Indonesia (Infobank, Oktober 2016). Hal ini terlihat dari akumulasi beli bersih di pasar saham yang tercatat naik sejak Juli 2016 pasca pemberlakuan UU Amnesti Pajak. Sayangnya pihak asing masih mendominasi pembelian ini. Investor membeli Rp11,85 triliun (Juli 2016), dan Rp12,86 triliun (Agustus 2016). Dibandingkan posisi Juni Rp8 triliun, atau posisi jual Mei 2016 sebesar Rp 185 miliar.  Sentimen positif ini menyebabkan pertumbuhan IHSG year to date di atas 17%, transaksi saham diatas Rp 6,4 triliun per hari yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah, dan peningkatan kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.000 triliun, dari Rp 4.872 triliun di akhir 2015 menjadi Rp 5.185 tirliun per 7 Oktober 2016. Ini belum termasuk dana repatriasi yang masuk ke pasar modal, karena diperkirakan dana tersebut masih terlampau minim untuk dihitung masuk ke dalam pasar. Dana-dana yang masuk masih terpikat oleh program Amnesti Pajak, karena program ini menandakan keberanian pemerintah untuk mengundang dengan sopan para wajib pajak untuk lebih ‘santun’ dalam memenuhi kewajibannya. Tidak menyembunyikan hartanya di luar negeri, ataupun bila di dalam negeri tidak melaporkannya.

Dengan masuknya dana repatriasi yang ditargetkan Rp 1.000 triliun sampai berakhirnya masa program Amnesti Pajak di Maret 2017, diharapkan uang tersebut akan menjadi penggerak ekonomi yang nyata di pasar modal. Yang menjadi pekerjaan rumah kita sekarang adalah menggerakkan kesadaran para wajib pajak dengan dana yang masih terparkir di luar negeri untuk dapat menyimpan dananya di Indonesia. Hal ini berdasarkan fakta bahwa penerimaan dana repatriasi masih berkisar Rp 184 triliun per 30 September 2016 yang lalu. Selain itu diharapkan pula harta yang telah terlaporkan berkisar Rp 2.061 triliun dapat memberikan penerimaan pajak yang besar bagi negara sehingga tidak terjadi lagi defisit anggaran. Kesemuanya akan bermuara ke tujuan membentuk kedaulatan keuangan Indonesia.

PENUTUP

Pemerintahan Jokowi dinilai telah cukup cakap untuk membentuk kemandirian ekonomi, atau kedaulatan keuangan dengan gebrakan di bidang fiskal seperti Amnesti Pajak, dan melanjutkan kebijakan ekonomi pendahulunya seperti penerbitan ORI, SUKRI, dan SBN. Beberapa kendala ditemui di masyarakat mengenai aplikasinya, karena kurangnya sosialisasi setiap peluncuran program. Mengingat bahwa kebijakan pemerintah akan mempengaruhi kestabilan masyarakat, ada baiknya untuk melakukan hal-hal dibawah ini sebelum melakukan peluncuran program fiskal baru: (1) Observasi secara mendetil sebelum diluncurkannya program, (2) sosialisasi yang cukup waktunya sebelum program diberlakukan,  dan (3) melakukan stress test dengan memberikan kondisi terburuk yang mungkin terjadi.

Gebrakan berikutnya adalah bekerja sama internasional untuk memaksa agar dana repatriasi dapat masuk ke Indonesia. Diperlukan keberanian tinggi untuk melakukan hal tersebut dengan semangat harga diri suatu bangsa. Saya yakin swakapital akan berhasil dengan semangat Ekonomi Pancasila dan dilaksanakan melalui agenda prioritas pemerintahan Nawacita.

 

                                       – Selesai –

 

Daftar pustaka

 

Infobank, 2016, Manfaatkan momentum Tax Amnesty, November 2016, Jakarta.

Jakarta Post, 2016, How credible is the 2017 State Budget?, 31 Oktober 2016, Jakarta

Kompas.com, 2016, Menkeu: Enggak gampang bikin anggaran surplus, 23 Juni 2016, Jakarta

Kemenkeu.go.id, 2016, APBN-P, 5 Januari 2016, Jakarta

Nugroho, Tarti, 2016, Polemik Ekonomi Pancasila: Pemikiran dan Catatan, 1965-1985, Mubyarto Institute

Putra, Dwitya, 2016, Obat kuat pasar modal, Infobank, November 2016, Jakarta.

Putra, Dwitya, 2016, Pasar Modal perlu Stimulus, Infobank, November 2016, Jakarta.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Nikmatnya Bubur Cakots (Cakalang-Oats)


logo

Saya suka ikan. Gara-gara saat anak-anak, ibu selalu menyuapi saya dengan ikan belanak goreng ditambah nasi hangat dan sambel terasi. Luar biasa sedap. Sampai saat itu, hanya lele penyet yang dapat menumbangkan nikmatnya belanak goreng.

Perkenalan pertama dengan ikan Cakalang terjadi saat saya mulai bekerja di Jakarta. Rumah makan Manado menjamur di Jakarta, dan ikan Cakalang adalah ikan khas Sulawesi. Bahkan saking populernya, makanan ini dipaketkan agar penjual mudah menyajikannya saat antrean konsumen mengular. 

Jadi sepaket makanan berisi seporsi nasi, ikan cakalang yang disuwir, bakwan jagung, dan seporsi sayur. Sayurnya bisa tumis tauge, atau tumis kangkung. Bila ingin seporsi tumis bunga pepaya harus tambah uang lagi, karena harganya lebih mahal daripada tauge atau kangkung. Oh ya, ditambah dengan sesendok sambal dabu-dabu, dan sambal ikan bakar. Sambal dabu-dabu ini terdiri dari irisan kecil-kecil tomat, cabe rawit, bawang merah, dan perasan jeruk limau. Rasanya segar dan menambah selera makan. Sedangkan sambal ikan bakar adalah sambal untuk dimakan dengan ikannya. Rasanya pedas dan mantap. Bakwan jagungnya sangat gurih dan garing, sering dimakan sebagai camilan sebelum mulai makan besar, berlauk ikan cakalang.

crop1

Saya baru tahu kalau ikan cakalang adalah ikan tongkol. Biasanya ikan tongkol hanya digoreng atau dibakar dan dimakan dengan kecap pedas manis. Saya tidak mengenali ikan tongkol ini bila dimasak rica-rica, atau suwir, seperti yang dihidangkan di rumah makan Manado. 

Ternyata selain rasa, gizinya juga mantap. Bentuknya yang padat menyimpan banyak manfaat. Mengandung vitamin A, D, dan E yang masing-masing mendukung kesehatan mata, tulang, dan antioksidan untuk tubuh. Penelitian ahli dari John Hopkins School Of Medicine Age menyatakan bahwa omega-3 ikan cakalang dapat menurunkan risiko penyakit mata akibat penuaan (Age-related Macular Disease).  Tubuh juga terlindung dari pemicu kanker (karsinogen), sekaligus menutrisi otak. Ikan cakalang juga murah dan mudah didapat, dibandingkan ikan-ikan yang memberikan hal sama tetapi jauh lebih mahal seperti tuna, cod, halibut, herring, atau mackerel.

Kembali ke cakalang suwir sebagai makanan paket. Ternyata saya menemukan resep terbaru cakalang secara tidak sengaja. Porsi makanan paket ini biasanya cukup besar, dan saya sering kekenyangan sebelum menghabiskannya. Akibatnya sisa ikan cakalang suwir dan sambal dabu-dabu, saya bungkus. Ditambah dengan pembelian satu lagi bakwan jagung biar tidak malu..haha… 

Kebetulan saya lagi diet, jadi jarang makan malam dengan nasi. Jadi enaknya dengan apa ikan suwir cakalang ini dimakan? Menu yang pas adalah dimakan dengan roti tawar gandum, atau dengan bubur oats. Saya pilih bubur oats agar lebih kenyang. Cakalang suwir dibuat sebagai topping, plus sambal dabu-dabu diatas bubur.

Dan rasanya… bubur ayam paling top pun kalah! Saya sampai terpesona sendiri dengan kenikmatannya. Gurihnya mantap. Sambal dabu-dabu memberikan rasa asam dan pedas yang sesuai. Akhirnya, saya tak perlu lagi menutup hidung untuk makan oats. Sekaligus mendapat banyak manfaat dari ikan cakalang sebagai penumpas karsinogen, dan oats sebagai penurun kolesterol. 

Bubur ini saya beri nama Bubur Cakots, alias cakalang oats. Atau bisa juga berarti bubur yang menggigit, karena cakot artinya gigit dalam bahasa Jawa. Menggigit dalam arti enak bingits! (baca:enak sekali). Akhirnya saya menemukan lagi masakan ikan nikmat selain belanak goreng, dan lele penyet.

Anda tertarik menikmati Bubur Cakots? Silahkan mencoba membuatnya, dan bersiaplah menikmati gurihnya yang sempurna  ;)

Posted in Cerita | Tagged , , , | Leave a comment

Bicycle Barista


Since I promised my self to build an English habits, I was starting read Jakarta Post. It was great at first but then I almost fall asleep. Please try to understand this situation by remember how sleepy you are when watching the movie without knowing the language. 

But suddenly my eyes stucked into an article. It was about coffee sellers on the streets, whose called Bicycle Barista. They ride a bicycle with a lot of sachets containing instant drink hanging around the bike. A pot of hot water and a thermos of ice cubes on the back of bike. A plastic cup of hot coffee is Rp 4.000 or USD 3 cent. An ice coffee is Rp 5.000, more costly with ice cube take a cost. Don’t ask about the safety of the plastic cup,  is it a source of cancer or not? 

Courtesy of mortzer. net

I am living in the neighborhood who loves being enjoyed their lives. Love to spending money by reason work hard play hard. That’s why coffee shop in the malls or exclusive store are comfy place to stay. I can’t compare Rp 5.000 a plastic cup of coffee with Rp 40.000 a tall size cup of coffee at Starbucks. Seems I should use Gini Coefficient to measure the gap between these two cups. Twins but do not similar. 

Whatever you choose the barista, whether bicycle ones or starbucks ones, please choose wisely. Let’s make our own people and local company wealthy. 

Enjoy your coffee! 


Posted in Uncategorized | Leave a comment

ADI INGIN PULANG SEKOLAH BERSAMA AYAH, IBU, DAN FILTER SAKURA


Adi selalu bangun pagi benar. Saat Subuh dan ayam belum berkokok. Bahkan kadang bulan masih menunjukkan sinarnya. Ibu selalu bangun terlebih dahulu. Sibuk di dapur mempersiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Ayah dan Adi. Setelah itu Ibu mandi bersiap untuk bekerja. Demikian pula ayah. Mereka sekeluarga biasa sarapan bersama, dan pukul 06.30 telah siap berangkat naik mobil. Biasanya Ayah akan mengantarkan Adi dahulu ke sekolah dasar, lalu Ibu ke kantor. Siang hari, Adi pulang naik mobil jemputan. Sesampai di rumah Adi beristirahat dan hampir setiap sore dia kursus. Matematika, musik, dan mengaji. Sesekali dia bermain bola dengan teman-teman sekampung.

Pada suatu pagi di hari Minggu, Ayah membaca blog detik.com dari gawainya dan berkata,

“Sepertinya ada wacana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa sekolah dasar dan menengah akan diperpanjang menjadi sehari penuh.”

Adi yang sedang membaca buku cerita nampak gembira mendengarnya. Dia langsung menanggapi,

“Berarti aku bisa pulang bersama Ayah dan Ibu dong

Ayah mengangguk, “Tapi bukankah Adi akan sangat capek? Sekolah seharian itu tidak gampang lho.”

“Adi kan sudah biasa kursus di sore hari, Yah. Pasti senang kita bisa pulang bersama seperti saat berangkat di pagi hari.”

Ibu menimpali, ”Kalau begitu mobil kita harus lebih prima, Yah. Dapat dipastikan jalan akan semakin macet dan berpolusi, karena ada tambahan kendaraan untuk menjemput anak-anak sekolah di jam pulang kantor. Ayah harus segera ke bengkel hari ini untuk perawatan mobil.“

“Siap, Komandan,” Ayah memberikan tabik kepada Ibu. Mereka tertawa bersama.

“Lebih baik kucatat apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mobil kita,” kata Ibu membuka catatan dan siap-siap menulis.

“Pertama, Filter AC,” Ayah mulai dengan hal terpenting. “Mengingat pasti polusi udara akan sangat tinggi dengan banyaknya kendaraan di jam pulang kantor. Selain itu Adi juga sering batuk-batuk bila menghirup udara kotor. Filter AC yang baik akan menjaga kualitas udara tetap bersih sehingga kesehatan kita terjaga.”

“Setuju,” kata Ibu. Catatan pertama kelengkapan kendaraan: Filter AC.

“Filter Tranmisi. Mobil kita otomatis sehingga perlu transmisi yang handal, dan torsi yang bagus.”

Ibu mengerutkan kening. Beliau tidak terlalu paham mengenai  mesin mobil seperti Ayah. Tapi Ibu tetap menulis perlengkapan itu.

Ayah memejamkan mata. Memikirkan apa lagi yang diperlukan mobilnya. 

“Ah, filter udara dan filter oli. Filter udara untuk menghindari kontaminasi udara sebelum bercampur dengan bahan bakar di ruang pembakaran. Filter oli untuk menghindari keausan pada bagian piston dan silinder.”

“Oh, baiklah,” Ibu sibuk mencatat. “Tapi apakah Ayah tahu, kalau semua perlengkapan ini adalah filter atau saringan? Apakah tidak ada perlengkapan yang penting lainnya?”

“Filter itu perlengkapan kendaraan yang paling penting, Bu. Karena kelangsungan hidup mesin bergantung pada filter.”

“Lalu merk apa yang bagus, Yah? Semestinya komponen penting harus dari merk terbaik.”

“Ayah pernah dengar dari teman kantor. Dia pakai Filter Sakura. Merk lokal tapi sudah mendunia. Suzuki pun sudah memakainya sebagai komponen original pabrikan. Pokoknya ditanggung kualitas nomer satu. Pasti sehat dan nyaman.”

Ibu tertawa, lalu melirik Adi,” Ayah seperti agen pemasaran Filter Sakura saja ya Di. Mottonya sehat dan nyaman.”  

Adi dan Ayah hanya tersenyum-senyum.

“Sebentar lagi Ayah akan ke bengkel. Adi ikut?” Ayah menawarkan kepada Adi. Adi menggangguk.

Sesampai di bengkel, Ayah dan Adi disambut Pak Leo pemilik bengkel. Ayah dan Pak Leo sudah kenal lama, bahkan sebelum Ayah menikah dengan Ibu. Ayah penggemar modifikasi mobil dan Pak Leo suka membantunya.

“Apa yang bisa kupasang lagi di mobilmu, Wan? Sepertinya mobilmu perlu sentuhanku,” Pak Leo berkelakar kepada Ayah, yang Adi tahu nama kecilnya adalah Wawan.

“Tak banyak, Leo. Hanya filter saja. Kau punya Filter Sakura kan?”

“Tentu. Merk bagus, semua bengkel pasti punya.”

“Aku perlu filter AC, filter tranmisi, filter udara, dan filter oli. Tolong pasangkan semua, Leo. Setelah itu service mesin ya.”

“Baiklah, Wan. Ada keperluan khusus rupanya?”

“Keluargaku akan mengarungi polusi udara dan kemacetan jalan saat pulang kantor. Adi akan sekolah seharian jadi pulang bersama aku dan istriku. Jadi kami harus mempersiapkan kendaraan sebaik mungkin.”

“Oh, tapi wacana sekolah seharian itu dibatalkan, Wan. Aku baru saja melihat beritanya di televisi.”

“Hah, cepat sekali. Belum juga diputuskan, kenapa sudah dibatalkan?”

“Banyak yang protes, Wan. Katanya anak sekolah bakal bosan seharian di sekolah.”

Adi cemberut. Bayangan indah pulang bersama orang tuanya tidak akan terlaksana. Dia hampir menangis tetapi langsung dihibur oleh Ayah.

“Sudahlah, Nak. Tidak usah kecewa. Paling tidak kita masih bisa berangkat bersama di pagi hari. Lagi pula kendaraan kita juga akan lebih baik. Kita akan sehat, nyaman, dan aman di jalanan bersama Filter Sakura.”

Adi mengangguk membenarkan kata ayahnya. Lagi pula dia tidak akan kehilangan hobinya bermain sepak bola di lapangan di sore hari bila tidak harus bersekolah seharian. Selalu ada hikmah di setiap peristiwa.

                                        -Selesai – 



Posted in My World | Tagged | Leave a comment

BELI SATU GRATIS AKU


Sebuah cerpen

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen  #Mycupofstory diselenggarakan oleh Giordano dan Nulisbuku.com 



Mira lama benar. Kakiku sampai kesemutan menunggunya di dekat tiang listrik. Mana hari hujan lagi. Takutnya nih, si tiang mengeluarkan setrumnya. Tapi mau menunggu dimana lagi. Tiang listrik ini posisi yang pas untuk mengamati kedai kopi itu. Yang kopinya kuidamkan sejak dulu. 

“Hey, Fitri! ” teriakan di telingaku membuatku berjingkrak kaget. 

” Pelan dikit napa? ” ujarku menutup kuping. 

Mira nyengir kuda. Giginya yang agak tonggos terpampang jelas. Aku agak menyipitkan mata, silau dengan pemandangan itu. 

“Sudah kau bawa kan?” tanyaku menyelidik. 

Mira mengacungkan telepon genggamnya. Tepat di salah satu aplikasi yang memberikan bonus segelas kopi untuk pembelian segelas kopi. Beli satu gratis satu istilahnya. Atau beli satu dapat dua. Atau potongan 100% untuk pembelian kedua. 

Masuklah kami bergandengan ke kedai kopi itu. Ternyata antrean penuh. Semua mengharapkan bonus segelas kopi. Pekat kental, atau berwarna coklat muda menggoda. Merah strawberry  atau hijau green tea. Diwadahi dalam gelas kertas berwarna putih berlambang bunga matahari. Kedai kopi itu bernama Sun Rose

Aku sudah lama mengidamkan kopi Sun Rose.  Tepatnya sejak aku bekerja, dan lingkunganku bergaya kosmo. Para lelaki berkemeja Giordano, berdasi monokrom, dengan satu tangan menyulut rokok, dan tangan lain menggenggam gelas kopi Sun Rose.  Perempuannya berblus putih, berkalung mutiara, berhak tinggi dan lagi-lagi dengan elegan meminum segelas cappuccino Sun Rose.  Aku sebagai junior bertugas membelikan kopi untuk mereka. Kuingat benar harga segelasnya saat kasir menyebut harga. Lima puluh ribu rupiah. Tak lebih tak kurang. Itu berarti sama dengan ongkos makanku dua hari. Berlipat harga dari satu sachet kopi hitam yang kubeli dari abang penarik sepeda setiap pagi. Aku sempat pusing sejenak walau setelah itu kuterima bergelas-gelas kopi bergambar bunga matahari dengan sempurna. 

Semenjak itu aku terkesima. Menatap setiap gerakan para penggila kopi dengan ketakjuban. Meminumnya pasti seperti menghirup wedang jahe dicampur gula merah. Hangat dan bergairah. Saking kepinginnya aku pernah mencuci satu gelas plastik Sun Rose bekas minum seorang senior dan mengisinya dengan kopi instant  merk Kapal Layar. Dan aku menikmati pandangan bersahabat dari teman-teman kerjaku seperti aku bagian dari mereka. Tapi pandangan itu berubah menjadi tatapan heran dan akhirnya senyum ejekan. 

“Namamu Danny?” pertanyaan mengiris begitu melihat nama tertera di gelas kopi. 

Aku terkejut. Lupa menggosok hilang nama di gelas kopi mempermalukanku dengan telak. Apalagi Danny si senior hanya mengangkat bahu. Tapi syukurlah akhirnya dia menyelamatkanku, “Aku yang mentraktirnya.” Setelah itu aku menghambur pergi ke dapur saking malunya. 

Mira kembali berulah. “Menurutku kata Sun Rose  itu seperti La Rose.  Mungkin pemiliknya pengagum novelnya. Aneh sekali masa lambangnya bunga matahari. Harusnya kan Sun Flower“. 

“Suka-suka dia lah,” belaku sengit. “Ayo cepat tunjukkan kuponnya ke kasir. ”

Mira menjulurkan lidah. Teman kosku ini sebenarnya baik hati, karena mau memasang aplikasi yang kuinginkan di telepon genggam androidnya. Aplikasi itu rutin memberi bonus seperti ini. Sedangkan aku, jangankan membeli telepon genggam sejenis itu, beli kopi saja susah. Uangku habis untuk hidup sehari-hari, dan sedikit memberi uang ke adik dan orang tua. Bekerja sebagai pegawai bank memang terlihat mentereng. Tapi sebagai pegawai di jenjang paling dasar harus pintar mengelola uang. Ya hampir sama nasibnya dengan pekerja kerah biru yang sibuk demonstrasi di Bundaran HI sana. 

“Memangnya teman-teman kantormu tidak tahu kalau hari ini ada promosi beli satu gratis satu?” tanya Mira kembali usil . 

“Kurasa tidak. Mereka bukan penggemar barang gratisan. Kalaupun ada makanan gratis, mereka pasti memaksa untuk membelinya. Atau paling tidak meninggalkan uang tip dan jumlahnya bisa untuk makan siangku,” jawabku sambil menunjukkan kupon kepada kasir dan mengulurkan sejumlah uang hasil iuran antara aku dan Mira. 

Kasir mengetuk layar telepon beberapa kali,  lalu tersenyum dan mengembalikannya padaku. Sesaat kemudian dua gelas kopi panas dalam wadah putih bergambar bunga matahari tersaji. Aku menghirup aromanya dengan khidmat, dan meneguknya. Jenis Caffè latte

“Jangan banyak-banyak minumnya,” senggol Mira. “Sisakan untuk pergaulan kosmomu.” 

Aku nyengir dan sebelum cengiran itu hilang, gelasku melompat sejauh satu meter dan jatuh terhempas di lantai. Kopi di dalamnya muncrat kemana-mana mengenai orang yang duduk-duduk di kedai. Mereka jelas menggerutu panjang pendek. Aku meminta-minta maaf dengan lirih. Lalu dengan garang kucari siapa yang berani menubrukku dengan brutal. Tapi aku hanya melihat seseorang yang mengangkut karung goni yang nampak berat di belakangku. Wajah dan tubuhnya tak terlihat, sehingga dari depan seperti karung goni berkaki. 

“Heh mas, pak, bang, oom, jalan yang benar ya. Sembarangan aja nubruk orang, ” semburku marah. 

“Iya mbak, bu, mpok, tante, maaf. Saya gak bisa lihat jalan,” suara si karung goni berkaki. 

Selanjutnya seorang pelayan menariknya ke belakang counter dan mereka menghilang di balik pintu console. Setelah itu si manajer kedai meminta maaf kepadaku dan menanyakan apakah mereka bisa mengganti kopiku yang tumpah dengan ukuran lebih besar. Mataku berbinar. 

Sesampai kantor, Danny memanggilku. Dia melirik gelas yang kugenggam, dan memberikan berkas dokumen kerja. 

“Pastikan namamu yang tertulis di gelas itu. Kalau tidak, aku bisa membelikanmu satu wadah minum milik Sun Rose. Kau bisa dapat kopi dengan setengah harga. ”

Aku mengangguk. Malu bahwa dia masih mengingat fakta aku memakai gelas bekas miliknya. 

“Sebenarnya bila kau ingin kopi dengan rasa Sun Rose  dan harga lebih terjangkau, kau bisa datang ke kafe kopi di belakang kantor kita.”

“Yang di pojok lapangan parkir?” 

Aku menyahutinya agar terlihat berminat. Bagiku gelas dengan lambang bunga matahari itu sudah mewakili kopi terhebat mana pun di Jakarta. Danny mengangguk. 

“Bilang saja kau tahu dari aku. Mereka akan beri diskon lebih besar.”

Sorenya setelah menyerahkan pekerjaanku kepada Danny, aku berkemas hendak pulang. Tiba-tiba aku teringat kembali kedai kopi di pojok lapangan parkir. Demi rasa terima kasih pada Danny karena menutupi aibku, pergilah aku kesana. 

Bangunan kedai kopi itu terlihat menonjol dengan dua ujung atap berbentuk lancip seperti tanduk kerbau. Berada satu meter dari tanah, disangga dengan tiang-tiang yang kokoh. Seingatku bentuk bangunan seperti ini khas Toraja, dinamai Tongkonan. Nampak gelap hanya ada lampion besar bertulis Kopi Kalosi, tetapi setelah kubuka pintu gesernya suasana hangat dan temaram seperti menyambutku. Interior di dalamnya luas dengan satu meja mengelilingi barista dengan kursi-kursi tinggi, dan tiga meja kecil serta kursi-kursi rotan. 

“Selamat datang, ” seorang gadis berwajah Indonesia Timur dengan senyum ceria melambaikan tangannya. “Anda mau duduk dimana?”

Aku menghampiri salah satu kursi tinggi, dan melompat duduk. Gadis yang ternyata juga barista itu memperkenalkan diri. 

“Namaku Angela. Anda mau langsung pesan atau menunggu seseorang?”

“Aku sendirian. Danny yang menunjukkan kedai kopi ini.”

“Ah ya,  Danny. Dia rekan bisnisku. Atau lebih tepatnya aku ingin mengelola kedai kopi, dan dia ingin melihat uangnya bermanfaat. Hahaha. .” Angela tergelak riang. Giginya yang putih berderet rapi. Aku jadi teringat Mira yang suka mempertontonkan giginya saat tertawa. 

Angela melanjutkan, “Menu di Kopi Kalosi hanya kopi hitam dan kopi susu saja. Tidak ada jenis minuman seperti kedai kopi modern lainnya. Tapi aku bisa jamin rasanya jauh lebih enak.” 

“Aku pesan kopi susu.”

“Kopi Toraja, Gayo, atau Flores?” 

Oops, apalagi ini. Aku bingung. Angela mengerti kebingunganku. 

“Jenis kopi yang kami jual adalah kopi Arabica yang ditanam di perkebunan Toraja Sulawesi Selatan,  di Gayo Aceh,  dan di Manggarai Flores. Kebetulan aku dari Flores, dan Danny dari Toraja. Jadi kami berbagi tempat untuk menjual kopi daerah masing-masing.” 

Aku mengangguk mengerti. Angela lalu menunjukkan padaku teknik membuat secangkir kopi yang nikmat. 

“Alat ini bernama dripper. Di atas kertas penyaring, kutaruh kurang lebih 10 gram kopi. Lalu kutuangkan air panas membentuk pola spiral dari arah dalam ke luar, lalu dari luar ke dalam. Begitu terus sampai enam kali. Kita tunggu sampai air menetes sempurna ke dalam wadah.”

Setelah semua air kopi tertampung dalam wadah, Angela menuangkannya dalam dua cangkir berwarna putih. Dia menyuruh meminumnya tanpa gula. Seumur hidup aku belum pernah minum teh, kopi, atau coklat tanpa gula. Pasti rasanya pahit. 

“Cita rasa kopi Toraja ini gurih dan segar. Bila ditambah gula, malah akan terasa asam. Susu akan menambah rasa gurihnya. Begini saja, anda coba minum kopi tanpa gula, sedangkan cangkir yang satu kutambah susu dan gula,  sesuai pesanan.”

Aku setuju, dan menghirup kopi Toraja tanpa gula itu dengan ragu-ragu. Bersiap mendapat sentakan rasa pahit di lidah. Tapi hanya ada sergapan rasa gurih dan nikmat menguasai rongga mulutku. Sedikit rasa asam bercampur. Setelah semua hilang ke tenggorokan, baru rasa pahit muncul di pangkal lidah. Dan itu bukan rasa yang membuatku gentar setelah sebelumnya menikmati sensasi yang luar biasa. Aku sampai memejamkan mata dan mendesah nikmat. 

Tiba-tiba terdengar pintu dibuka disambut teriakan Angela, 

“Sudah berulang kali kukatakan. Kalau mengangkut bijih kopi lewat jalan belakang. Kau mengganggu pelanggan kita. ”

Aku menoleh ke arah pintu yang ada di belakangku, dan terkejut. Si karung goni berkaki muncul lagi dengan langkah terhuyung-huyung. Bergegas aku menyingkir sebelum tertabrak olehnya, tapi terlambat. Kursi tinggiku terdorong si karung goni berkaki, dan aku jatuh ke lantai tertindih karung penuh berisi bijih kopi. Semua menjadi gelap. 

Pipiku terasa ditepuk-tepuk, dan aku membuka mata. Kulihat Danny, Angela, dan seorang laki-laki di ruangan itu. 

“Syukurlah dia sudah bangun. Hai Fitri, maafkan adikku yang telah menubrukmu tadi. Dia memang teledor,” kata Angela merasa bersalah. “Alex, cepat minta maaf.” 

Laki-laki itu mendekat lalu memegang tanganku. Wajahnya mirip Angela, dengan perawakan tinggi besar dan senyum menawan. Seperti Ari Sihasale waktu muda. Siapa sangka di balik karung goni itu ada sosok yang mendekati sempurna. 

“Maafkan aku, Nona. Sepertinya aku pernah pula mendorongmu di kedai kopi Sun Rose. Aku memang ceroboh. ”

Aku tersenyum lemah. Separuh karena rasa pusing, selebihnya karena senang tanganku dipegang laki-laki ganteng. Dalam situasi ini, Danny kembali menjadi dewa penolongku. Sejenis cupid  dengan panahnya. 

“Kurasa dalam kasus ini, Angela harus mengadaptasi cara kedai kopi modern menarik pelanggan. Beri dia satu cangkir ekstra setiap datang. Beli satu gratis satu. ”

Angela mengangguk. “Itu cukup adil. Alex, kau yang harus membuatnya untuk Fitri. Untuk menebus kesalahanmu. ”

Alex tersenyum, dan genggaman tangannya semakin erat. Pusingku langsung hilang dalam sekejap. Janji yang indah berupa kopi nikmat harga bersahabat dan berkenalan dengan laki-laki rupawan membuatku bersemangat. 

” Oke Alex,” janjiku dalam hati, “akan kubuat suatu hari nanti kau berbisik padaku: beli satu gratis aku.”


                                         – Selesai – 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rupiah, Brexit, dan Tax Amnesty 


Gambar dari Kursrupiah.net

Per 13 Juli 2016, Rupiah sedang kuat-kuatnya. Dari kisaran Rp 13.500 an/USD per Mei 2016 menjadi Rp 13.086 /USD. Faktor pertama yang mempengaruhi dari eksternal yaitu Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Selain itu ditambah pula dengan angka pengangguran di Amerika Serikat yang meningkat. Faktor Internal yang mempengaruhi adalah kebijakan Tax Amnesty yaitu pengampunan bagi para pengemplang pajak,  dengan membayar sejumlah uang tebusan. Diharapkan uang yang selama ini parkir di luar negeri akibat penahanan dana agar tak terkena pajak dapat masuk ke Indonesia, dan menjadi dana segar. Nilainya diperkirakan cukup besar, berkisar Rp 1.000 triliun.

Bagaimana ceritanya dua hal ini dapat mempengaruhi penguatan rupiah terhadap dollar Amerika? Mari sedikit berbicara tentang makroekonomi. Penguatan rupiah dapat terjadi apabila jumlah USD di pasar meningkat. Banjirnya USD ini terjadi,  asumsi karena dana asing masuk ke Indonesia akibat pengampunan pajak (repatriasi). Duit yang semula parkir di luar negeri hasil ngemplang pajak, mulai masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk uang tebusan, maupun proyeksi pajak di tahun depan. Akibatnya likuiditas dan devisa negara dalam bentuk USD meningkat,  dari USD 103 miliar per Juni 2016 akan menjadi USD 110 miliar per Juli 2016.

Gambar dari http://www.sharia.co.id

Isu Brexit terlebih dahulu mengalirkan USD ke Indonesia, karena investor asing mulai kehilangan kepercayaan terhadap Inggris,dan mencari investasi di negara yang lebih menarik. Perekonomian Inggris sebenarnya kuat untuk mandiri, tetapi kehilangan akses kerjasama ekonomi ke UE, bukan sebuah hal yang baik. Perekonomian Inggris jelas didukung UE, termasuk akses bebas masuk ke negara-negara UE, bekerja, ekspor nol tarif, dsb. Brexit juga menyebabkan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat) menunda kenaikan suku bunga,karena bila tetap dilakukan USD akan menguat dan ekspor AS terhambat,yang melemahkan ekonomi AS dan semakin meningkatkan pengangguran.

Makroekonomi itu rumit ya? Banyak keterhubungan antara satu aspek ekonomi dengan yang lain, termasuk negara negara yang saling terkoneksi dalam bentuk kerja sama. Artikel saya sebelumnya yaitu Indonexit = The Indonesia’s Brexit menyarankan harus dicari dulu bentuk model kerja sama yang menguntungkan, terutama untuk Indonesia, agar kita tidak dipermainkan negara lain. 

Ada cerita menarik berkaitan dengan menguatnya rupiah terhadap USD ini. Beberapa korporasi berusaha mengubah pinjaman nominasi rupiahnya menjadi USD. Mengapa hal ini dilakukan? Karena pendapatan dalam USD tentu lebih mudah membayar utang dalam USD pula. Selain itu bunga pinjaman USD cukup rendah berkisar 0,5%,dibandingkan pinjaman Rupiah berkisar 10%. Masalahnya ada aturan BI yang menyatakan tidak diperkenankan untuk berpindah fasilitas sewaktu – waktu, karena khawatir mengganggu cadangan devisa. Tetapi dengan kondisi likuiditas USD yang meningkat seperti ini, perubahan itu akan sangat baik karena menyerap kelebihan likuiditas. 

Perbankan menyatakan siap menerima likuiditas. Banyak cara, seperti menerbitkan obligasi,  atau NCD (Negotiable Certificate Deposit) yaitu deposito jangka pendek yang hanya bisa dibeli pihak asing/korporasi karena pembelian minimum adalah Rp 1 triliun. NCD ini tidak dimasukkan dalam dana pihak ketiga, dan sesuai dengan rasio LFR (Loan to Funding Ratio, rasio kecukupan dana terhadap pinjaman) maksimum 92%. 

Jadi tunggu apa lagi? Laporkan kewajiban pajak anda sekarang juga.😉

Posted in My Economic Thinking | Tagged , , | Leave a comment

Syariah bersama SUKRI 


Alkisah, ada bapak dua anak bernama Syukri. Syukri berasal dari Padang, dan demi menghidupi keluarganya dengan layak, pergilah dia ke ibu kota. Bekerja apa saja asal halal. Dari pelayan restoran, penyapu jalan, sampai pedagang baju muslim di Tanah Abang. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, usaha terakhirnya yaitu warung bakso berkembang pesat. Pada saat bekerja, dia selalu berusaha bersungguh – sungguh sampai dengan kemampuan maksimumnya. Tak heran warung baksonya berkembang pesat. Semula hanya sebuah kios yang disewa dan dijadikan warung, sekarang berkembang menjadi tiga kios dan semuanya milik sendiri. Setiap bulan, Syukri selalu mengirim uang kepada istrinya, untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

Selaku muslim taat, dia berusaha menjalankan usahanya sesuai syariah. Syukri berusaha untuk tidak berutang dalam mengembangkan usahanya. Prinsipnya selama dia punya harta, baru akan digunakan untuk memperluas usaha. Tapi bila tidak, berarti belum ada kemampuan untuk ekspansi. Sementara untuk menabung, dia memilih bank yang menjalankan prinsip syariah non riba.

Sampai pada suatu saat, dia membaca iklan Sukuk Ritel 008 di koran. Iklan itu berbunyi seperti ini “Bangunlah negeri melalui Sukuk Ritel 008. Investasi berbasis syariah, dengan imbal hasil 8,3%. Jadilah tuan di negeri sendiri.”  Wah, apa ini ?, pikir Syukri. Selama ini dia adalah pembayar pajak yang patuh, karena dia sadar membayar pajak berarti membangun negeri. Tetapi tidak pernah ada yang memberikan imbal hasil sebesar itu saat dia bayar pajak. Ya,  walaupun hasil warung baksonya melebihi prosentase imbal hasil itu, tapi siapa sih yang tak mau investasi yang menguntungkan seperti itu?  Tertarik, dihubunginya nomer telepon di iklan. Si penerima telepon menjawab dengan sopan dan berjanji akan ke rumah Syukri esok hari untuk menjelaskan secara detail.

Pukul sembilan pagi keesokan harinya, seorang tamu datang ke rumah Syukri. Namanya Anwar. Dia adalah seorang agen penjual Sukuk Ritel. “Untuk lebih mudahnya, saya sebut saja produk investasi ini SUKRI, ya pak Syukri.” Syukri mengangguk, “Seperti nama saya ya, Pak Anwar.” Anwar tersenyum mengiyakan.

Syukri menyambung, “Jadi ya begitu, Pak Anwar. Saya masih bingung dengan SUKRI ini. Selama ini, sebagai pengusaha dan warga negara yang baik, saya kan sudah bayar pajak. Tapi kok tidak ada yang memberi imbal hasil seperti yang dijanjikan SUKRI ini.”

“Pak Syukri, SUKRI ini adalah suatu bentuk utang pemerintah terhadap warganya, untuk membiayai proyek pembangunan. Tidak seperti pajak, dimana warga negara berkewajiban membayar sejumlah dana sebagai wujud partisipasi pembangunan negara, SUKRI bukan kewajiban. Dia bersifat suka rela, dan sebagai penarik, pemerintah memberi imbal hasil. ”

” Lalu prinsip syariahnya bagaimana, Pak Anwar? ”

“Dalam SUKRI ini pemerintah berutang terhadap warganya, Pak Syukri. Mekanismenya menggunakan sistem Ijarah, yaitu sewa menyewa aset. Jadi pemerintah punya aset proyek yang akan dibangun, seperti pembangunan infrastruktur jalan, atau pelabuhan. Aset ini yang akan dibiayai oleh investor, sehingga dapat dikatakan pemilik aset adalah investor. Pemerintah sebagai penyewa, akan membayar pendapatan kepada pemilik aset berupa bagi hasil, dan membayar kembali dana setelah jatuh tempo. Paham, Pak Syukri ? ”

” Insya Allah, paham Pak Anwar. Apakah ada fatwa MUI mengenai SUKRI?”

“Tentu, Pak Syukri. SUKRI ini adalah obligasi syariah yang diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 32/DSN-MUI/IX/2002. Obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Panjang ya penjelasannya, Pak Syukri. ”

” Tidak apa,  Pak Anwar. Bila seperti ini, saya mantap terhadap produk investasi syariah. Selain saya membantu pembangunan negara yang sah menurut MUI, juga dapat bagi hasil yang memuaskan. Mengenai mekanismenya seperti apa, Pak? ”

” Bapak bisa membeli unit SUKRI minimum nominal Rp 5 juta rupiah. Investasi ini akan jatuh tempo selama tiga tahun, dan selama kurun waktu tersebut, pemerintah akan membayar setiap bulannya bagi hasil sebesar 8,3% dibagi 12. Kemudian pada saat jatuh tempo, seluruh dana bapak akan dikembalikan.”

” Bagaimana bila saya butuh dana itu mendadak, Pak Anwar? Mungkin saya perlu untuk mengembangkan usaha saya atau biaya darurat lainnya? ”

” Bapak bisa menjual SUKRI ke pasar sekunder, sesuai harga pasar. Agar lebih mudah, bapak bisa hubungi saya saja. Sebagai agen penjual, saya siap membantu menjualkan. ”

” Mengenai risikonya, Pak Anwar? ”

” Setiap produk investasi selalu ada risikonya, Pak Syukri. Tetapi untuk SUKRI ini relatif kecil, karena pemerintah Indonesia sebagai si empunya utang, cukup kredibel dan dapat dipercaya. ”

Syukri mengangguk, ” Baik, Pak. Saya sudah mengerti, dan ingin berinvestasi di SUKRI. Kebetulan ada dana khusus untuk investasi. Akan saya belikan SUKRI.”

“Alhamdulillah. Kebetulan saya sudah siapkan formulir pemesanan, dan akadnya, Pak Syukri. Semoga investasi Bapak barokah dan dapat membantu negara. ”

” Amin. ”

Malamnya, Syukri menelepon istrinya di kampung, memberi tahukan ikhwal investasi syariah yang menguntungkan seperti SUKRI. Istrinya sangat mendukung, dan menyarankan Syukri untuk mencari produk investasi syariah lainnya. Sangat berguna untuk menyimpan dana pendidikan anak, sebelum digunakan nantinya. Syukri berjanji akan menghubungi Anwar kembali untuk menanyakannya.
***

Tulisan diikut sertakan dalam Lomba Blog Puasa, yang diselenggarakan oleh OJK dan blog.detik.com



Posted in Uncategorized | 2 Comments