Rupiah, Brexit, dan Tax Amnesty 


Gambar dari Kursrupiah.net

Per 13 Juli 2016, Rupiah sedang kuat-kuatnya. Dari kisaran Rp 13.500 an/USD per Mei 2016 menjadi Rp 13.086 /USD. Faktor pertama yang mempengaruhi dari eksternal yaitu Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Selain itu ditambah pula dengan angka pengangguran di Amerika Serikat yang meningkat. Faktor Internal yang mempengaruhi adalah kebijakan Tax Amnesty yaitu pengampunan bagi para pengemplang pajak,  dengan membayar sejumlah uang tebusan. Diharapkan uang yang selama ini parkir di luar negeri akibat penahanan dana agar tak terkena pajak dapat masuk ke Indonesia, dan menjadi dana segar. Nilainya diperkirakan cukup besar, berkisar Rp 1.000 triliun.

Bagaimana ceritanya dua hal ini dapat mempengaruhi penguatan rupiah terhadap dollar Amerika? Mari sedikit berbicara tentang makroekonomi. Penguatan rupiah dapat terjadi apabila jumlah USD di pasar meningkat. Banjirnya USD ini terjadi,  asumsi karena dana asing masuk ke Indonesia akibat pengampunan pajak (repatriasi). Duit yang semula parkir di luar negeri hasil ngemplang pajak, mulai masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk uang tebusan, maupun proyeksi pajak di tahun depan. Akibatnya likuiditas dan devisa negara dalam bentuk USD meningkat,  dari USD 103 miliar per Juni 2016 akan menjadi USD 110 miliar per Juli 2016.

Gambar dari http://www.sharia.co.id

Isu Brexit terlebih dahulu mengalirkan USD ke Indonesia, karena investor asing mulai kehilangan kepercayaan terhadap Inggris,dan mencari investasi di negara yang lebih menarik. Perekonomian Inggris sebenarnya kuat untuk mandiri, tetapi kehilangan akses kerjasama ekonomi ke UE, bukan sebuah hal yang baik. Perekonomian Inggris jelas didukung UE, termasuk akses bebas masuk ke negara-negara UE, bekerja, ekspor nol tarif, dsb. Brexit juga menyebabkan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat) menunda kenaikan suku bunga,karena bila tetap dilakukan USD akan menguat dan ekspor AS terhambat,yang melemahkan ekonomi AS dan semakin meningkatkan pengangguran.

Makroekonomi itu rumit ya? Banyak keterhubungan antara satu aspek ekonomi dengan yang lain, termasuk negara negara yang saling terkoneksi dalam bentuk kerja sama. Artikel saya sebelumnya yaitu Indonexit = The Indonesia’s Brexit menyarankan harus dicari dulu bentuk model kerja sama yang menguntungkan, terutama untuk Indonesia, agar kita tidak dipermainkan negara lain. 

Ada cerita menarik berkaitan dengan menguatnya rupiah terhadap USD ini. Beberapa korporasi berusaha mengubah pinjaman nominasi rupiahnya menjadi USD. Mengapa hal ini dilakukan? Karena pendapatan dalam USD tentu lebih mudah membayar utang dalam USD pula. Selain itu bunga pinjaman USD cukup rendah berkisar 0,5%,dibandingkan pinjaman Rupiah berkisar 10%. Masalahnya ada aturan BI yang menyatakan tidak diperkenankan untuk berpindah fasilitas sewaktu – waktu, karena khawatir mengganggu cadangan devisa. Tetapi dengan kondisi likuiditas USD yang meningkat seperti ini, perubahan itu akan sangat baik karena menyerap kelebihan likuiditas. 

Perbankan menyatakan siap menerima likuiditas. Banyak cara, seperti menerbitkan obligasi,  atau NCD (Negotiable Certificate Deposit) yaitu deposito jangka pendek yang hanya bisa dibeli pihak asing/korporasi karena pembelian minimum adalah Rp 1 triliun. NCD ini tidak dimasukkan dalam dana pihak ketiga, dan sesuai dengan rasio LFR (Loan to Funding Ratio, rasio kecukupan dana terhadap pinjaman) maksimum 92%. 

Jadi tunggu apa lagi? Laporkan kewajiban pajak anda sekarang juga.😉

Posted in My Economic Thinking | Tagged , , | Leave a comment

Syariah bersama SUKRI 


Alkisah, ada bapak dua anak bernama Syukri. Syukri berasal dari Padang, dan demi menghidupi keluarganya dengan layak, pergilah dia ke ibu kota. Bekerja apa saja asal halal. Dari pelayan restoran, penyapu jalan, sampai pedagang baju muslim di Tanah Abang. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, usaha terakhirnya yaitu warung bakso berkembang pesat. Pada saat bekerja, dia selalu berusaha bersungguh – sungguh sampai dengan kemampuan maksimumnya. Tak heran warung baksonya berkembang pesat. Semula hanya sebuah kios yang disewa dan dijadikan warung, sekarang berkembang menjadi tiga kios dan semuanya milik sendiri. Setiap bulan, Syukri selalu mengirim uang kepada istrinya, untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

Selaku muslim taat, dia berusaha menjalankan usahanya sesuai syariah. Syukri berusaha untuk tidak berutang dalam mengembangkan usahanya. Prinsipnya selama dia punya harta, baru akan digunakan untuk memperluas usaha. Tapi bila tidak, berarti belum ada kemampuan untuk ekspansi. Sementara untuk menabung, dia memilih bank yang menjalankan prinsip syariah non riba.

Sampai pada suatu saat, dia membaca iklan Sukuk Ritel 008 di koran. Iklan itu berbunyi seperti ini “Bangunlah negeri melalui Sukuk Ritel 008. Investasi berbasis syariah, dengan imbal hasil 8,3%. Jadilah tuan di negeri sendiri.”  Wah, apa ini ?, pikir Syukri. Selama ini dia adalah pembayar pajak yang patuh, karena dia sadar membayar pajak berarti membangun negeri. Tetapi tidak pernah ada yang memberikan imbal hasil sebesar itu saat dia bayar pajak. Ya,  walaupun hasil warung baksonya melebihi prosentase imbal hasil itu, tapi siapa sih yang tak mau investasi yang menguntungkan seperti itu?  Tertarik, dihubunginya nomer telepon di iklan. Si penerima telepon menjawab dengan sopan dan berjanji akan ke rumah Syukri esok hari untuk menjelaskan secara detail.

Pukul sembilan pagi keesokan harinya, seorang tamu datang ke rumah Syukri. Namanya Anwar. Dia adalah seorang agen penjual Sukuk Ritel. “Untuk lebih mudahnya, saya sebut saja produk investasi ini SUKRI, ya pak Syukri.” Syukri mengangguk, “Seperti nama saya ya, Pak Anwar.” Anwar tersenyum mengiyakan.

Syukri menyambung, “Jadi ya begitu, Pak Anwar. Saya masih bingung dengan SUKRI ini. Selama ini, sebagai pengusaha dan warga negara yang baik, saya kan sudah bayar pajak. Tapi kok tidak ada yang memberi imbal hasil seperti yang dijanjikan SUKRI ini.”

“Pak Syukri, SUKRI ini adalah suatu bentuk utang pemerintah terhadap warganya, untuk membiayai proyek pembangunan. Tidak seperti pajak, dimana warga negara berkewajiban membayar sejumlah dana sebagai wujud partisipasi pembangunan negara, SUKRI bukan kewajiban. Dia bersifat suka rela, dan sebagai penarik, pemerintah memberi imbal hasil. ”

” Lalu prinsip syariahnya bagaimana, Pak Anwar? ”

“Dalam SUKRI ini pemerintah berutang terhadap warganya, Pak Syukri. Mekanismenya menggunakan sistem Ijarah, yaitu sewa menyewa aset. Jadi pemerintah punya aset proyek yang akan dibangun, seperti pembangunan infrastruktur jalan, atau pelabuhan. Aset ini yang akan dibiayai oleh investor, sehingga dapat dikatakan pemilik aset adalah investor. Pemerintah sebagai penyewa, akan membayar pendapatan kepada pemilik aset berupa bagi hasil, dan membayar kembali dana setelah jatuh tempo. Paham, Pak Syukri ? ”

” Insya Allah, paham Pak Anwar. Apakah ada fatwa MUI mengenai SUKRI?”

“Tentu, Pak Syukri. SUKRI ini adalah obligasi syariah yang diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 32/DSN-MUI/IX/2002. Obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Panjang ya penjelasannya, Pak Syukri. ”

” Tidak apa,  Pak Anwar. Bila seperti ini, saya mantap terhadap produk investasi syariah. Selain saya membantu pembangunan negara yang sah menurut MUI, juga dapat bagi hasil yang memuaskan. Mengenai mekanismenya seperti apa, Pak? ”

” Bapak bisa membeli unit SUKRI minimum nominal Rp 5 juta rupiah. Investasi ini akan jatuh tempo selama tiga tahun, dan selama kurun waktu tersebut, pemerintah akan membayar setiap bulannya bagi hasil sebesar 8,3% dibagi 12. Kemudian pada saat jatuh tempo, seluruh dana bapak akan dikembalikan.”

” Bagaimana bila saya butuh dana itu mendadak, Pak Anwar? Mungkin saya perlu untuk mengembangkan usaha saya atau biaya darurat lainnya? ”

” Bapak bisa menjual SUKRI ke pasar sekunder, sesuai harga pasar. Agar lebih mudah, bapak bisa hubungi saya saja. Sebagai agen penjual, saya siap membantu menjualkan. ”

” Mengenai risikonya, Pak Anwar? ”

” Setiap produk investasi selalu ada risikonya, Pak Syukri. Tetapi untuk SUKRI ini relatif kecil, karena pemerintah Indonesia sebagai si empunya utang, cukup kredibel dan dapat dipercaya. ”

Syukri mengangguk, ” Baik, Pak. Saya sudah mengerti, dan ingin berinvestasi di SUKRI. Kebetulan ada dana khusus untuk investasi. Akan saya belikan SUKRI.”

“Alhamdulillah. Kebetulan saya sudah siapkan formulir pemesanan, dan akadnya, Pak Syukri. Semoga investasi Bapak barokah dan dapat membantu negara. ”

” Amin. ”

Malamnya, Syukri menelepon istrinya di kampung, memberi tahukan ikhwal investasi syariah yang menguntungkan seperti SUKRI. Istrinya sangat mendukung, dan menyarankan Syukri untuk mencari produk investasi syariah lainnya. Sangat berguna untuk menyimpan dana pendidikan anak, sebelum digunakan nantinya. Syukri berjanji akan menghubungi Anwar kembali untuk menanyakannya.
***

Tulisan diikut sertakan dalam Lomba Blog Puasa, yang diselenggarakan oleh OJK dan blog.detik.com



Posted in Uncategorized | 2 Comments

Renungan Ramadhan 1437H


TUHAN, HAMBA LELAH MEMINTA

Tuhan, hamba lelah meminta.
Bukan karena tak pernah terkabulkan.
Bukan pula karena Engkau selalu ada.
Tetapi karena di setiap doa hanya ada permohonan.

Syukur hanya sebagai pengantar.
Agar setiap pinta Engkau berikan.
Tuhan, aku mencintai-Mu.
Tapi tolong beri semua keinginanku.

Setiap doa selalu dijabah.
Entah sekarang atau nanti.
Memintalah pada-Ku.
Maka niscaya akan Ku-kabulkan doamu.

Tuhan, setelah mendaras beribu permintaan.
Pada akhirnya hanya satu yang sungguh kuharap.
Dekatkanlah aku pada-Mu.
Seperti terkasih dalam rongga hati.

Jakarta, 25 Juni 2016
Untuk Tuhanku

Posted in My World | Leave a comment

Indonexit = the Indonesia’s “Brexit”


Ribut banget nih dunia. Cuma gara gara Inggris mau lepas dari Uni Eropa,  semua kalang kabut. Saham Citibank dan Bank of America berjatuhan, poundsterling melemah terhadap dollar, harga emas meningkat. Semua karena Brexit (British Exit). Inggris dikenal sebagai negara dengan perekonomian terkuat di Eropa, sebanding dengan Jerman. Wajar bila semua negara yang terkoneksi dengan Inggris khawatir bila dengan keputusan ini, perdagangan bilateral dan multilateral terganggu.

Mengapa Inggris ngotot meninggalkan Uni Eropa? Ini memang pilihan negara untuk berdikari. Sudah lazim bila bergabung dengan komunitas, hati dan pikiran akan dibentuk oleh aturan komunitas. Aturan dibentuk oleh pemimpinnya, yang biasanya adalah yang terkuat, baik dari sisi ekonomi, watak, dan kemampuan. Inggris tidak total bergabung dengan UE ditandai dengan masih menggunakan mata uangnya sendiri. Poundsterling telah lama kuat dibandingkan Euro yang baru datang belakangan. Disamping itu Inggris sudah ogah didikte Jerman mengenai masalah imigran. Jerman membuka lebar negaranya untuk imigran Suriah. Inggris kebalikannya. Jerman sebagai pemimpin UE, selalu membantu negara anggota yang kelimpungan masalah perekonomian seperti Yunani, dan mengharapkan anggota lain juga membantu. Prinsip Inggris kalau membantu, bisa bocor anggaran negara. Maka sekarang terkenal istilah “beLEAVE in Britain” untuk mendukung referendum keluar dari UE tgl 23 Juni 2016. Dukung kedaulatan negara untuk mempunyai pendapat sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Komunitas ekonomi yang diikuti Indonesia pun demikian banyak. Mulai dari ASEAN, AFTA, MEA, kerjasama perdagangan dengan Tiongkok, dan yang paling gress menyebabkan Indonesia galau untuk bergabung yaitu Trans Pacific Partnership. Pada awalnya hanya berupa Kerjasama regional untuk keamanan, budaya, suara ke dunia internasional agar lebih didengar. Tapi berikutnya lebih banyak kepada kepentingan perdagangan liberal. Membebaskan masing-masing negara untuk berjualan di negara lain. Tarif impor barang mendekati 0%. Yang kuat yang menang, dan Indonesia menjadi incaran karena pasar besar dengan konsumen amat sangat konsumtif, tapi dengan kemampuan produksi rendah. Contoh kerjasama dengan Tiongkok merugikan Indonesia, karena ekspor Indonesia ke Tiongkok tidak banyak, sedangkan impor semakin besar. S&P menurunkan peringkat Indonesia sebagai negara yang tidak layak investasi, semata karena Indonesia mengandalkan pendapatan negara dari pajak dan bukan dari ekspor. Ciri khas negara konsumtif.

Apa Indonesia harus seperti Inggris, meninggalkan seluruh kerja sama perekonomian dengan negara lain? Untuk saat ini kita harus memilih kerjasama yang menguntungkan Indonesia dengan penelitian terlebih dahulu. Para akademisi harus mencari  bentuk model kerja sama seperti apa yang menguntungkan, dan dijadikan standar dengan Indonesia yang menawarkan kerja sama ke negara lain. Pasar Indonesia yang besar menjadi modal untuk dapat percaya diri menawarkan model kerja sama. Model yang baik mendukung perekonomian Indonesia, terutama produksi yang menghilangkan defisit anggaran negara.

Selama ini belum dapat dilakukan, mungkin Indonexit harus dilakukan untuk membenahi produksi nasional. Swasembada jauh lebih baik dibandingkan harus terombang ambing bagai buih di gelombang liberalisme kapital.

Jakarta, 18 Juni 2016

Posted in My Economic Thinking | Tagged | Leave a comment

G E G A R


Saya lagi tergegar. Gegar otak dan gegar budaya. Mari kita deskripsikan satu persatu. Gegar sendiri adalah anonim dari guncang. Jadi tergegar adalah terguncang. Gegar otak adalah tipe cedera otak teringan dibandingkan tipe cedera otak lainnya. Gegar budaya adalah ketidaksiapan menerima budaya yang baru pada kehidupan.

Apa pasal? Saya biasa berpikir matematis, analitis, dan merasa argumen saya telah memenuhi logika. Seperti halnya orang-orang yang biasa berpikir dengan otak kiri. Hasil pikiran yang penuh angka dan logika itu, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Untuk mengikat makna, dan agar pikiran itu tidak menguap. Hilang entah kemana. Tulisan akan membentuk grafik, fakta-fakta untuk menguatkan artikel yang mempengaruhi pembaca. Saya berandai-andai menjadi pengisi kolom opini ekonomi di media massa (yang mohon maaf, belum terkabul sampai saat ini..haha..).

Tapi saya tergegar dalam waktu dua hari. Gegar otak sekaligus gegar budaya. Saat mengikuti Workshop Cerpen Kompas 2016 di Gedung Kompas Gramedia tgl 30 – 31 Mei 2016. Saya datang dengan persepsi, ah fiksi, pastilah harus aneh dan tak tertangkap maknanya. Semakin aneh, akan semakin disukai pembacanya. Beda dong dengan non fiksi. Semua harus berdasarkan fakta. Persepsi itu “diputar balikkan” oleh dua mentor saya. Mbak Linda Christanty hanya tersenyum saat saya menyatakan susah betul memahami cerpen di Kompas Minggu. Beliau berkata, cerpen yang sulit dipahami dapat berarti dua hal. Sangat baik, atau justru buruk. Cerita sastra yang baik dapat membuat kita merenung berhari-hari, mengingat karakter yang kuat di dalamnya, dan berusaha mencari makna yang berlapis-lapis. Cerita sastra bukan berarti ruwet, karena keruwetan berarti penulisnya malah gagal menyampaikan maksudnya dalam bentuk tulisan.

Mas Agus Noor mendeskripsikan ketidak logikaan cerpen dalam bentuk lain. Cerpen tidak harus sesuai dengan fakta yang ada saat ini, tetapi kemampuan penulis berargumen lah yang harus mampu meyakinkan pembaca bahwa alur cerita itu masuk akal. Contoh, matahari terbit dari barat. Logika umum menyatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi, dan bila terjadi maka kiamat sudah dekat. Maka dapat dituliskan sebagai berikut:

“Matahari terbit dari barat, karena bosan. Dia ingin melihat kehidupan manusia dari lintang yang berlawanan dengan timur. Tak terjadi apa-apa, bahkan bumi bergoncang pun tidak. Maka para orang suci sibuk merevisi kriteria akhir dunia.”

Putu Fajar Arcana, atau Bli Can, sama dengan Mbak Linda Christanty, memberikan saran agar cerpen saya yang berjudul “Genta Gelas Neira” dibuat dalam bentuk novel, karena mempunyai tema yang besar yaitu Banda Neira. Karakter-karakter yang ada di dalamnya dapat diperluas, seperti menambahkan rahasia pada tokoh Stefani yang seorang ilmuwan. Mengapa rahasia? Karena semua orang suka mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu. Agak-agak kepo maksudnya ;))

IMG_20160604_163751

Di workshop ini saya bertemu teman-teman baru beratmosfer sama, yaitu penulis. Ada Mbak Esther yang ibu rumah tangga, ada Mas Victor yang guru SMA, ada mbak Farrah yang mahasiswa, ada mas Wisnu yang pengusaha, mas Harris yang wartawan, dan teman-teman lain yang tak dapat disebut satu persatu. Atmosfer ini semakin terasa, saat di akhir sesi kami berkesempatan untuk mengunjungi redaksi Harian Kompas. Berusaha mengetahui seperti apa sih kerja wartawan, para penulis berita? Sayangnya, ruangan nampak kosong, karena para wartawan belum pulang dari liputan. Konon kabarnya, jam kerja para wartawan ini tak tentu. Asalkan mereka siap menghadapi deadline pada pukul 12 malam.

Tetapi tak apa, karena ada kejutan lain. Di tengah visitasi ini, kami bertemu rombongan cerpenis pilihan Kompas 2015, yang akan menghadiri Malam Jamuan “Cerpen” Kompas 2015 di Bentara Budaya Jakarta. Pak Ahmad Tohari, dan Pak Triyanto Triwikromo, dengan ramahnya, berjabat tangan dengan semua peserta workshop. Saya sempat berbincang dengan Pak Ahmad Tohari, dan bilang saya ingin curi ilmu bapak. Pak Ahmad Tohari tertawa-tawa, katanya cerpen langsung tulis saja, gak perlu pakai ilmu-ilmuan. Lah, kalau senior bisa saja bilang begitu saking ahlinya..haha..

Acara dilanjutkan dengan menghadiri Malam Jamuan “Cerpen” Kompas 2015. Banyak bertemu tokoh penting di dunia sastra. Faisal Oddang, cerpenis muda kelahiran 90-an, atau Pak Putu Wijaya, yang kabarnya ahli banget dalam membuat tek-tok tulisan. Dan yang paling memukau, saya banyak bertemu tutup kepala disini. Mulai topi baret Pak Putu Wijaya, dan Pak Ahmad Tohari, iket Bli Can, sampai blangkon pak Menteri Anies Baswedan. Bahkan topi bertuliskan Kompas yang dipakai Mbak Esther, teman peserta, juga ikut mejeng di foto halaman depan Harian Kompas Rabu 1 Juni 2016. Selamat untuk Pak Ahmad Tohari yang memenangi cerpen terbaik dengan judul “Anak ini mau mengencingi Jakarta?”

Pengalaman yang berkesan, sekaligus semakin memacu andrenalin dan endorfin saya untuk terus menulis, dengan target menghasilkan buku dan tulisan di media massa tahun 2016. Amin.

Jakarta, 4 Juni 2016

Image | Posted on by | Leave a comment

2015 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,500 times in 2015. If it were a cable car, it would take about 42 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bahwa Indonesia itu Nusantara


Dirjen Perhubungan Darat, Pak Djoko Suseno, akan mengundurkan diri. Semata bertanggung jawab atas kemacetan yang tidak terantisipasi di beberapa jalan tol Jakarta akibat mudik akhir tahun 2015. Apresiasi tinggi kepada pejabat yang berani bertanggung jawab terhadap ketidaberesan di area kerjanya.

Tetapi bila melihat urgensi nya, sepertinya hal tsb tidak perlu dilakukan. Pemudik, walaupun terkendala macet puluhan jam, masih dapat disalurkan ke jalan tol lainnya. Apalagi bila tujuannya sekedar rekreasi. Jangan salah, saya tidak menyepelekan hal ini, karena saya termasuk salah satu pemudik yg hampir ketinggalan pesawat karena kasus macet tadi. Jarak Setiabudi Jakarta ke Bandara Halim yang hanya 20 menit hari libur biasa, menjadi hampir 3 jam. Dan setelah masuk pesawat yang telah boarding, masih ada penumpang ibu ibu dengan nafas tersengal sengal, menyatakan helm gojek serasa masih dipakai. Idiom bagi pengejar waktu boarding pesawat.

Maksud saya, Indonesia itu bukan hanya sekedar Jakarta. Jelas tenaga dan pemikiran pak Djoko Suseno masih dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia. Apalagi pak Jokowi lagi giat giatnya memancing investasi luar negeri. Pokoknya pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 harus 5.6%. Lebih kencang daripada Amerika, Eropa yg cuma1-2%, apalagi China yg mulai kolaps. Lucu juga bila pengurus utama perhubungan Indonesia, hilang hanya karena sepenggal macet di kota yang memang telah terkenal antrean kendaraan nya.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tanggal 31 Desember 2015, semakin menegaskan bahwa Indonesia bahkan lebih luas daripada teritori saat ini. Sudah mencakup Nusantara jaman Majapahit.  Membentang dari Sumatera sampai Papua.  Bukan berarti kita mau ekspansi jaman Papua Barat, tapi kesepakatan antar negara ASEAN membuat kita dapat meluaskan bisnis ke seluruh wilayah ASEAN. Asyik kan?

Sayangnya (atau untungnya?) semua peserta gamang. Bingung mau ngapain, termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, dan philipina. Lah wong regulasi juga belum jelas. Sertifikasi pekerja ahli belum teraplikasi.

Sebenarnya mumpung masih gamang Indonesia harus gerak cepat. Segera adakan sertifikasi massal seluruh pekerja sesuai bagiannya. Selain itu para pebisnis langsung gerak cepat membuka cabang di luar negeri, termasuk bank di Indonesia yang terhalang regulasi di negara ASEAN. Pasok wilayah jiran dengan SDM yg berlimpah ruah (termasuk para buruh yg minta gaji tinggi dengan pembanding upah di negara tetangga). Pastikan Indonesia kembali berjaya di Nusantara ! 😀

Posted in Uncategorized | Leave a comment