ADI INGIN PULANG SEKOLAH BERSAMA AYAH, IBU, DAN FILTER SAKURA


Adi selalu bangun pagi benar. Saat Subuh dan ayam belum berkokok. Bahkan kadang bulan masih menunjukkan sinarnya. Ibu selalu bangun terlebih dahulu. Sibuk di dapur mempersiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Ayah dan Adi. Setelah itu Ibu mandi bersiap untuk bekerja. Demikian pula ayah. Mereka sekeluarga biasa sarapan bersama, dan pukul 06.30 telah siap berangkat naik mobil. Biasanya Ayah akan mengantarkan Adi dahulu ke sekolah dasar, lalu Ibu ke kantor. Siang hari, Adi pulang naik mobil jemputan. Sesampai di rumah Adi beristirahat dan hampir setiap sore dia kursus. Matematika, musik, dan mengaji. Sesekali dia bermain bola dengan teman-teman sekampung.

Pada suatu pagi di hari Minggu, Ayah membaca blog detik.com dari gawainya dan berkata,

“Sepertinya ada wacana dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa sekolah dasar dan menengah akan diperpanjang menjadi sehari penuh.”

Adi yang sedang membaca buku cerita nampak gembira mendengarnya. Dia langsung menanggapi,

“Berarti aku bisa pulang bersama Ayah dan Ibu dong

Ayah mengangguk, “Tapi bukankah Adi akan sangat capek? Sekolah seharian itu tidak gampang lho.”

“Adi kan sudah biasa kursus di sore hari, Yah. Pasti senang kita bisa pulang bersama seperti saat berangkat di pagi hari.”

Ibu menimpali, ”Kalau begitu mobil kita harus lebih prima, Yah. Dapat dipastikan jalan akan semakin macet dan berpolusi, karena ada tambahan kendaraan untuk menjemput anak-anak sekolah di jam pulang kantor. Ayah harus segera ke bengkel hari ini untuk perawatan mobil.“

“Siap, Komandan,” Ayah memberikan tabik kepada Ibu. Mereka tertawa bersama.

“Lebih baik kucatat apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mobil kita,” kata Ibu membuka catatan dan siap-siap menulis.

“Pertama, Filter AC,” Ayah mulai dengan hal terpenting. “Mengingat pasti polusi udara akan sangat tinggi dengan banyaknya kendaraan di jam pulang kantor. Selain itu Adi juga sering batuk-batuk bila menghirup udara kotor. Filter AC yang baik akan menjaga kualitas udara tetap bersih sehingga kesehatan kita terjaga.”

“Setuju,” kata Ibu. Catatan pertama kelengkapan kendaraan: Filter AC.

“Filter Tranmisi. Mobil kita otomatis sehingga perlu transmisi yang handal, dan torsi yang bagus.”

Ibu mengerutkan kening. Beliau tidak terlalu paham mengenai  mesin mobil seperti Ayah. Tapi Ibu tetap menulis perlengkapan itu.

Ayah memejamkan mata. Memikirkan apa lagi yang diperlukan mobilnya. 

“Ah, filter udara dan filter oli. Filter udara untuk menghindari kontaminasi udara sebelum bercampur dengan bahan bakar di ruang pembakaran. Filter oli untuk menghindari keausan pada bagian piston dan silinder.”

“Oh, baiklah,” Ibu sibuk mencatat. “Tapi apakah Ayah tahu, kalau semua perlengkapan ini adalah filter atau saringan? Apakah tidak ada perlengkapan yang penting lainnya?”

“Filter itu perlengkapan kendaraan yang paling penting, Bu. Karena kelangsungan hidup mesin bergantung pada filter.”

“Lalu merk apa yang bagus, Yah? Semestinya komponen penting harus dari merk terbaik.”

“Ayah pernah dengar dari teman kantor. Dia pakai Filter Sakura. Merk lokal tapi sudah mendunia. Suzuki pun sudah memakainya sebagai komponen original pabrikan. Pokoknya ditanggung kualitas nomer satu. Pasti sehat dan nyaman.”

Ibu tertawa, lalu melirik Adi,” Ayah seperti agen pemasaran Filter Sakura saja ya Di. Mottonya sehat dan nyaman.”  

Adi dan Ayah hanya tersenyum-senyum.

“Sebentar lagi Ayah akan ke bengkel. Adi ikut?” Ayah menawarkan kepada Adi. Adi menggangguk.

Sesampai di bengkel, Ayah dan Adi disambut Pak Leo pemilik bengkel. Ayah dan Pak Leo sudah kenal lama, bahkan sebelum Ayah menikah dengan Ibu. Ayah penggemar modifikasi mobil dan Pak Leo suka membantunya.

“Apa yang bisa kupasang lagi di mobilmu, Wan? Sepertinya mobilmu perlu sentuhanku,” Pak Leo berkelakar kepada Ayah, yang Adi tahu nama kecilnya adalah Wawan.

“Tak banyak, Leo. Hanya filter saja. Kau punya Filter Sakura kan?”

“Tentu. Merk bagus, semua bengkel pasti punya.”

“Aku perlu filter AC, filter tranmisi, filter udara, dan filter oli. Tolong pasangkan semua, Leo. Setelah itu service mesin ya.”

“Baiklah, Wan. Ada keperluan khusus rupanya?”

“Keluargaku akan mengarungi polusi udara dan kemacetan jalan saat pulang kantor. Adi akan sekolah seharian jadi pulang bersama aku dan istriku. Jadi kami harus mempersiapkan kendaraan sebaik mungkin.”

“Oh, tapi wacana sekolah seharian itu dibatalkan, Wan. Aku baru saja melihat beritanya di televisi.”

“Hah, cepat sekali. Belum juga diputuskan, kenapa sudah dibatalkan?”

“Banyak yang protes, Wan. Katanya anak sekolah bakal bosan seharian di sekolah.”

Adi cemberut. Bayangan indah pulang bersama orang tuanya tidak akan terlaksana. Dia hampir menangis tetapi langsung dihibur oleh Ayah.

“Sudahlah, Nak. Tidak usah kecewa. Paling tidak kita masih bisa berangkat bersama di pagi hari. Lagi pula kendaraan kita juga akan lebih baik. Kita akan sehat, nyaman, dan aman di jalanan bersama Filter Sakura.”

Adi mengangguk membenarkan kata ayahnya. Lagi pula dia tidak akan kehilangan hobinya bermain sepak bola di lapangan di sore hari bila tidak harus bersekolah seharian. Selalu ada hikmah di setiap peristiwa.

                                        -Selesai – 



Posted in My World | Tagged | Leave a comment

BELI SATU GRATIS AKU


Sebuah cerpen

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen  #Mycupofstory diselenggarakan oleh Giordano dan Nulisbuku.com 



Mira lama benar. Kakiku sampai kesemutan menunggunya di dekat tiang listrik. Mana hari hujan lagi. Takutnya nih, si tiang mengeluarkan setrumnya. Tapi mau menunggu dimana lagi. Tiang listrik ini posisi yang pas untuk mengamati kedai kopi itu. Yang kopinya kuidamkan sejak dulu. 

“Hey, Fitri! ” teriakan di telingaku membuatku berjingkrak kaget. 

” Pelan dikit napa? ” ujarku menutup kuping. 

Mira nyengir kuda. Giginya yang agak tonggos terpampang jelas. Aku agak menyipitkan mata, silau dengan pemandangan itu. 

“Sudah kau bawa kan?” tanyaku menyelidik. 

Mira mengacungkan telepon genggamnya. Tepat di salah satu aplikasi yang memberikan bonus segelas kopi untuk pembelian segelas kopi. Beli satu gratis satu istilahnya. Atau beli satu dapat dua. Atau potongan 100% untuk pembelian kedua. 

Masuklah kami bergandengan ke kedai kopi itu. Ternyata antrean penuh. Semua mengharapkan bonus segelas kopi. Pekat kental, atau berwarna coklat muda menggoda. Merah strawberry  atau hijau green tea. Diwadahi dalam gelas kertas berwarna putih berlambang bunga matahari. Kedai kopi itu bernama Sun Rose

Aku sudah lama mengidamkan kopi Sun Rose.  Tepatnya sejak aku bekerja, dan lingkunganku bergaya kosmo. Para lelaki berkemeja Giordano, berdasi monokrom, dengan satu tangan menyulut rokok, dan tangan lain menggenggam gelas kopi Sun Rose.  Perempuannya berblus putih, berkalung mutiara, berhak tinggi dan lagi-lagi dengan elegan meminum segelas cappuccino Sun Rose.  Aku sebagai junior bertugas membelikan kopi untuk mereka. Kuingat benar harga segelasnya saat kasir menyebut harga. Lima puluh ribu rupiah. Tak lebih tak kurang. Itu berarti sama dengan ongkos makanku dua hari. Berlipat harga dari satu sachet kopi hitam yang kubeli dari abang penarik sepeda setiap pagi. Aku sempat pusing sejenak walau setelah itu kuterima bergelas-gelas kopi bergambar bunga matahari dengan sempurna. 

Semenjak itu aku terkesima. Menatap setiap gerakan para penggila kopi dengan ketakjuban. Meminumnya pasti seperti menghirup wedang jahe dicampur gula merah. Hangat dan bergairah. Saking kepinginnya aku pernah mencuci satu gelas plastik Sun Rose bekas minum seorang senior dan mengisinya dengan kopi instant  merk Kapal Layar. Dan aku menikmati pandangan bersahabat dari teman-teman kerjaku seperti aku bagian dari mereka. Tapi pandangan itu berubah menjadi tatapan heran dan akhirnya senyum ejekan. 

“Namamu Danny?” pertanyaan mengiris begitu melihat nama tertera di gelas kopi. 

Aku terkejut. Lupa menggosok hilang nama di gelas kopi mempermalukanku dengan telak. Apalagi Danny si senior hanya mengangkat bahu. Tapi syukurlah akhirnya dia menyelamatkanku, “Aku yang mentraktirnya.” Setelah itu aku menghambur pergi ke dapur saking malunya. 

Mira kembali berulah. “Menurutku kata Sun Rose  itu seperti La Rose.  Mungkin pemiliknya pengagum novelnya. Aneh sekali masa lambangnya bunga matahari. Harusnya kan Sun Flower“. 

“Suka-suka dia lah,” belaku sengit. “Ayo cepat tunjukkan kuponnya ke kasir. ”

Mira menjulurkan lidah. Teman kosku ini sebenarnya baik hati, karena mau memasang aplikasi yang kuinginkan di telepon genggam androidnya. Aplikasi itu rutin memberi bonus seperti ini. Sedangkan aku, jangankan membeli telepon genggam sejenis itu, beli kopi saja susah. Uangku habis untuk hidup sehari-hari, dan sedikit memberi uang ke adik dan orang tua. Bekerja sebagai pegawai bank memang terlihat mentereng. Tapi sebagai pegawai di jenjang paling dasar harus pintar mengelola uang. Ya hampir sama nasibnya dengan pekerja kerah biru yang sibuk demonstrasi di Bundaran HI sana. 

“Memangnya teman-teman kantormu tidak tahu kalau hari ini ada promosi beli satu gratis satu?” tanya Mira kembali usil . 

“Kurasa tidak. Mereka bukan penggemar barang gratisan. Kalaupun ada makanan gratis, mereka pasti memaksa untuk membelinya. Atau paling tidak meninggalkan uang tip dan jumlahnya bisa untuk makan siangku,” jawabku sambil menunjukkan kupon kepada kasir dan mengulurkan sejumlah uang hasil iuran antara aku dan Mira. 

Kasir mengetuk layar telepon beberapa kali,  lalu tersenyum dan mengembalikannya padaku. Sesaat kemudian dua gelas kopi panas dalam wadah putih bergambar bunga matahari tersaji. Aku menghirup aromanya dengan khidmat, dan meneguknya. Jenis Caffè latte

“Jangan banyak-banyak minumnya,” senggol Mira. “Sisakan untuk pergaulan kosmomu.” 

Aku nyengir dan sebelum cengiran itu hilang, gelasku melompat sejauh satu meter dan jatuh terhempas di lantai. Kopi di dalamnya muncrat kemana-mana mengenai orang yang duduk-duduk di kedai. Mereka jelas menggerutu panjang pendek. Aku meminta-minta maaf dengan lirih. Lalu dengan garang kucari siapa yang berani menubrukku dengan brutal. Tapi aku hanya melihat seseorang yang mengangkut karung goni yang nampak berat di belakangku. Wajah dan tubuhnya tak terlihat, sehingga dari depan seperti karung goni berkaki. 

“Heh mas, pak, bang, oom, jalan yang benar ya. Sembarangan aja nubruk orang, ” semburku marah. 

“Iya mbak, bu, mpok, tante, maaf. Saya gak bisa lihat jalan,” suara si karung goni berkaki. 

Selanjutnya seorang pelayan menariknya ke belakang counter dan mereka menghilang di balik pintu console. Setelah itu si manajer kedai meminta maaf kepadaku dan menanyakan apakah mereka bisa mengganti kopiku yang tumpah dengan ukuran lebih besar. Mataku berbinar. 

Sesampai kantor, Danny memanggilku. Dia melirik gelas yang kugenggam, dan memberikan berkas dokumen kerja. 

“Pastikan namamu yang tertulis di gelas itu. Kalau tidak, aku bisa membelikanmu satu wadah minum milik Sun Rose. Kau bisa dapat kopi dengan setengah harga. ”

Aku mengangguk. Malu bahwa dia masih mengingat fakta aku memakai gelas bekas miliknya. 

“Sebenarnya bila kau ingin kopi dengan rasa Sun Rose  dan harga lebih terjangkau, kau bisa datang ke kafe kopi di belakang kantor kita.”

“Yang di pojok lapangan parkir?” 

Aku menyahutinya agar terlihat berminat. Bagiku gelas dengan lambang bunga matahari itu sudah mewakili kopi terhebat mana pun di Jakarta. Danny mengangguk. 

“Bilang saja kau tahu dari aku. Mereka akan beri diskon lebih besar.”

Sorenya setelah menyerahkan pekerjaanku kepada Danny, aku berkemas hendak pulang. Tiba-tiba aku teringat kembali kedai kopi di pojok lapangan parkir. Demi rasa terima kasih pada Danny karena menutupi aibku, pergilah aku kesana. 

Bangunan kedai kopi itu terlihat menonjol dengan dua ujung atap berbentuk lancip seperti tanduk kerbau. Berada satu meter dari tanah, disangga dengan tiang-tiang yang kokoh. Seingatku bentuk bangunan seperti ini khas Toraja, dinamai Tongkonan. Nampak gelap hanya ada lampion besar bertulis Kopi Kalosi, tetapi setelah kubuka pintu gesernya suasana hangat dan temaram seperti menyambutku. Interior di dalamnya luas dengan satu meja mengelilingi barista dengan kursi-kursi tinggi, dan tiga meja kecil serta kursi-kursi rotan. 

“Selamat datang, ” seorang gadis berwajah Indonesia Timur dengan senyum ceria melambaikan tangannya. “Anda mau duduk dimana?”

Aku menghampiri salah satu kursi tinggi, dan melompat duduk. Gadis yang ternyata juga barista itu memperkenalkan diri. 

“Namaku Angela. Anda mau langsung pesan atau menunggu seseorang?”

“Aku sendirian. Danny yang menunjukkan kedai kopi ini.”

“Ah ya,  Danny. Dia rekan bisnisku. Atau lebih tepatnya aku ingin mengelola kedai kopi, dan dia ingin melihat uangnya bermanfaat. Hahaha. .” Angela tergelak riang. Giginya yang putih berderet rapi. Aku jadi teringat Mira yang suka mempertontonkan giginya saat tertawa. 

Angela melanjutkan, “Menu di Kopi Kalosi hanya kopi hitam dan kopi susu saja. Tidak ada jenis minuman seperti kedai kopi modern lainnya. Tapi aku bisa jamin rasanya jauh lebih enak.” 

“Aku pesan kopi susu.”

“Kopi Toraja, Gayo, atau Flores?” 

Oops, apalagi ini. Aku bingung. Angela mengerti kebingunganku. 

“Jenis kopi yang kami jual adalah kopi Arabica yang ditanam di perkebunan Toraja Sulawesi Selatan,  di Gayo Aceh,  dan di Manggarai Flores. Kebetulan aku dari Flores, dan Danny dari Toraja. Jadi kami berbagi tempat untuk menjual kopi daerah masing-masing.” 

Aku mengangguk mengerti. Angela lalu menunjukkan padaku teknik membuat secangkir kopi yang nikmat. 

“Alat ini bernama dripper. Di atas kertas penyaring, kutaruh kurang lebih 10 gram kopi. Lalu kutuangkan air panas membentuk pola spiral dari arah dalam ke luar, lalu dari luar ke dalam. Begitu terus sampai enam kali. Kita tunggu sampai air menetes sempurna ke dalam wadah.”

Setelah semua air kopi tertampung dalam wadah, Angela menuangkannya dalam dua cangkir berwarna putih. Dia menyuruh meminumnya tanpa gula. Seumur hidup aku belum pernah minum teh, kopi, atau coklat tanpa gula. Pasti rasanya pahit. 

“Cita rasa kopi Toraja ini gurih dan segar. Bila ditambah gula, malah akan terasa asam. Susu akan menambah rasa gurihnya. Begini saja, anda coba minum kopi tanpa gula, sedangkan cangkir yang satu kutambah susu dan gula,  sesuai pesanan.”

Aku setuju, dan menghirup kopi Toraja tanpa gula itu dengan ragu-ragu. Bersiap mendapat sentakan rasa pahit di lidah. Tapi hanya ada sergapan rasa gurih dan nikmat menguasai rongga mulutku. Sedikit rasa asam bercampur. Setelah semua hilang ke tenggorokan, baru rasa pahit muncul di pangkal lidah. Dan itu bukan rasa yang membuatku gentar setelah sebelumnya menikmati sensasi yang luar biasa. Aku sampai memejamkan mata dan mendesah nikmat. 

Tiba-tiba terdengar pintu dibuka disambut teriakan Angela, 

“Sudah berulang kali kukatakan. Kalau mengangkut bijih kopi lewat jalan belakang. Kau mengganggu pelanggan kita. ”

Aku menoleh ke arah pintu yang ada di belakangku, dan terkejut. Si karung goni berkaki muncul lagi dengan langkah terhuyung-huyung. Bergegas aku menyingkir sebelum tertabrak olehnya, tapi terlambat. Kursi tinggiku terdorong si karung goni berkaki, dan aku jatuh ke lantai tertindih karung penuh berisi bijih kopi. Semua menjadi gelap. 

Pipiku terasa ditepuk-tepuk, dan aku membuka mata. Kulihat Danny, Angela, dan seorang laki-laki di ruangan itu. 

“Syukurlah dia sudah bangun. Hai Fitri, maafkan adikku yang telah menubrukmu tadi. Dia memang teledor,” kata Angela merasa bersalah. “Alex, cepat minta maaf.” 

Laki-laki itu mendekat lalu memegang tanganku. Wajahnya mirip Angela, dengan perawakan tinggi besar dan senyum menawan. Seperti Ari Sihasale waktu muda. Siapa sangka di balik karung goni itu ada sosok yang mendekati sempurna. 

“Maafkan aku, Nona. Sepertinya aku pernah pula mendorongmu di kedai kopi Sun Rose. Aku memang ceroboh. ”

Aku tersenyum lemah. Separuh karena rasa pusing, selebihnya karena senang tanganku dipegang laki-laki ganteng. Dalam situasi ini, Danny kembali menjadi dewa penolongku. Sejenis cupid  dengan panahnya. 

“Kurasa dalam kasus ini, Angela harus mengadaptasi cara kedai kopi modern menarik pelanggan. Beri dia satu cangkir ekstra setiap datang. Beli satu gratis satu. ”

Angela mengangguk. “Itu cukup adil. Alex, kau yang harus membuatnya untuk Fitri. Untuk menebus kesalahanmu. ”

Alex tersenyum, dan genggaman tangannya semakin erat. Pusingku langsung hilang dalam sekejap. Janji yang indah berupa kopi nikmat harga bersahabat dan berkenalan dengan laki-laki rupawan membuatku bersemangat. 

” Oke Alex,” janjiku dalam hati, “akan kubuat suatu hari nanti kau berbisik padaku: beli satu gratis aku.”


                                         – Selesai – 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rupiah, Brexit, dan Tax Amnesty 


Gambar dari Kursrupiah.net

Per 13 Juli 2016, Rupiah sedang kuat-kuatnya. Dari kisaran Rp 13.500 an/USD per Mei 2016 menjadi Rp 13.086 /USD. Faktor pertama yang mempengaruhi dari eksternal yaitu Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Selain itu ditambah pula dengan angka pengangguran di Amerika Serikat yang meningkat. Faktor Internal yang mempengaruhi adalah kebijakan Tax Amnesty yaitu pengampunan bagi para pengemplang pajak,  dengan membayar sejumlah uang tebusan. Diharapkan uang yang selama ini parkir di luar negeri akibat penahanan dana agar tak terkena pajak dapat masuk ke Indonesia, dan menjadi dana segar. Nilainya diperkirakan cukup besar, berkisar Rp 1.000 triliun.

Bagaimana ceritanya dua hal ini dapat mempengaruhi penguatan rupiah terhadap dollar Amerika? Mari sedikit berbicara tentang makroekonomi. Penguatan rupiah dapat terjadi apabila jumlah USD di pasar meningkat. Banjirnya USD ini terjadi,  asumsi karena dana asing masuk ke Indonesia akibat pengampunan pajak (repatriasi). Duit yang semula parkir di luar negeri hasil ngemplang pajak, mulai masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk uang tebusan, maupun proyeksi pajak di tahun depan. Akibatnya likuiditas dan devisa negara dalam bentuk USD meningkat,  dari USD 103 miliar per Juni 2016 akan menjadi USD 110 miliar per Juli 2016.

Gambar dari http://www.sharia.co.id

Isu Brexit terlebih dahulu mengalirkan USD ke Indonesia, karena investor asing mulai kehilangan kepercayaan terhadap Inggris,dan mencari investasi di negara yang lebih menarik. Perekonomian Inggris sebenarnya kuat untuk mandiri, tetapi kehilangan akses kerjasama ekonomi ke UE, bukan sebuah hal yang baik. Perekonomian Inggris jelas didukung UE, termasuk akses bebas masuk ke negara-negara UE, bekerja, ekspor nol tarif, dsb. Brexit juga menyebabkan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat) menunda kenaikan suku bunga,karena bila tetap dilakukan USD akan menguat dan ekspor AS terhambat,yang melemahkan ekonomi AS dan semakin meningkatkan pengangguran.

Makroekonomi itu rumit ya? Banyak keterhubungan antara satu aspek ekonomi dengan yang lain, termasuk negara negara yang saling terkoneksi dalam bentuk kerja sama. Artikel saya sebelumnya yaitu Indonexit = The Indonesia’s Brexit menyarankan harus dicari dulu bentuk model kerja sama yang menguntungkan, terutama untuk Indonesia, agar kita tidak dipermainkan negara lain. 

Ada cerita menarik berkaitan dengan menguatnya rupiah terhadap USD ini. Beberapa korporasi berusaha mengubah pinjaman nominasi rupiahnya menjadi USD. Mengapa hal ini dilakukan? Karena pendapatan dalam USD tentu lebih mudah membayar utang dalam USD pula. Selain itu bunga pinjaman USD cukup rendah berkisar 0,5%,dibandingkan pinjaman Rupiah berkisar 10%. Masalahnya ada aturan BI yang menyatakan tidak diperkenankan untuk berpindah fasilitas sewaktu – waktu, karena khawatir mengganggu cadangan devisa. Tetapi dengan kondisi likuiditas USD yang meningkat seperti ini, perubahan itu akan sangat baik karena menyerap kelebihan likuiditas. 

Perbankan menyatakan siap menerima likuiditas. Banyak cara, seperti menerbitkan obligasi,  atau NCD (Negotiable Certificate Deposit) yaitu deposito jangka pendek yang hanya bisa dibeli pihak asing/korporasi karena pembelian minimum adalah Rp 1 triliun. NCD ini tidak dimasukkan dalam dana pihak ketiga, dan sesuai dengan rasio LFR (Loan to Funding Ratio, rasio kecukupan dana terhadap pinjaman) maksimum 92%. 

Jadi tunggu apa lagi? Laporkan kewajiban pajak anda sekarang juga.😉

Posted in My Economic Thinking | Tagged , , | Leave a comment

Syariah bersama SUKRI 


Alkisah, ada bapak dua anak bernama Syukri. Syukri berasal dari Padang, dan demi menghidupi keluarganya dengan layak, pergilah dia ke ibu kota. Bekerja apa saja asal halal. Dari pelayan restoran, penyapu jalan, sampai pedagang baju muslim di Tanah Abang. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, usaha terakhirnya yaitu warung bakso berkembang pesat. Pada saat bekerja, dia selalu berusaha bersungguh – sungguh sampai dengan kemampuan maksimumnya. Tak heran warung baksonya berkembang pesat. Semula hanya sebuah kios yang disewa dan dijadikan warung, sekarang berkembang menjadi tiga kios dan semuanya milik sendiri. Setiap bulan, Syukri selalu mengirim uang kepada istrinya, untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

Selaku muslim taat, dia berusaha menjalankan usahanya sesuai syariah. Syukri berusaha untuk tidak berutang dalam mengembangkan usahanya. Prinsipnya selama dia punya harta, baru akan digunakan untuk memperluas usaha. Tapi bila tidak, berarti belum ada kemampuan untuk ekspansi. Sementara untuk menabung, dia memilih bank yang menjalankan prinsip syariah non riba.

Sampai pada suatu saat, dia membaca iklan Sukuk Ritel 008 di koran. Iklan itu berbunyi seperti ini “Bangunlah negeri melalui Sukuk Ritel 008. Investasi berbasis syariah, dengan imbal hasil 8,3%. Jadilah tuan di negeri sendiri.”  Wah, apa ini ?, pikir Syukri. Selama ini dia adalah pembayar pajak yang patuh, karena dia sadar membayar pajak berarti membangun negeri. Tetapi tidak pernah ada yang memberikan imbal hasil sebesar itu saat dia bayar pajak. Ya,  walaupun hasil warung baksonya melebihi prosentase imbal hasil itu, tapi siapa sih yang tak mau investasi yang menguntungkan seperti itu?  Tertarik, dihubunginya nomer telepon di iklan. Si penerima telepon menjawab dengan sopan dan berjanji akan ke rumah Syukri esok hari untuk menjelaskan secara detail.

Pukul sembilan pagi keesokan harinya, seorang tamu datang ke rumah Syukri. Namanya Anwar. Dia adalah seorang agen penjual Sukuk Ritel. “Untuk lebih mudahnya, saya sebut saja produk investasi ini SUKRI, ya pak Syukri.” Syukri mengangguk, “Seperti nama saya ya, Pak Anwar.” Anwar tersenyum mengiyakan.

Syukri menyambung, “Jadi ya begitu, Pak Anwar. Saya masih bingung dengan SUKRI ini. Selama ini, sebagai pengusaha dan warga negara yang baik, saya kan sudah bayar pajak. Tapi kok tidak ada yang memberi imbal hasil seperti yang dijanjikan SUKRI ini.”

“Pak Syukri, SUKRI ini adalah suatu bentuk utang pemerintah terhadap warganya, untuk membiayai proyek pembangunan. Tidak seperti pajak, dimana warga negara berkewajiban membayar sejumlah dana sebagai wujud partisipasi pembangunan negara, SUKRI bukan kewajiban. Dia bersifat suka rela, dan sebagai penarik, pemerintah memberi imbal hasil. ”

” Lalu prinsip syariahnya bagaimana, Pak Anwar? ”

“Dalam SUKRI ini pemerintah berutang terhadap warganya, Pak Syukri. Mekanismenya menggunakan sistem Ijarah, yaitu sewa menyewa aset. Jadi pemerintah punya aset proyek yang akan dibangun, seperti pembangunan infrastruktur jalan, atau pelabuhan. Aset ini yang akan dibiayai oleh investor, sehingga dapat dikatakan pemilik aset adalah investor. Pemerintah sebagai penyewa, akan membayar pendapatan kepada pemilik aset berupa bagi hasil, dan membayar kembali dana setelah jatuh tempo. Paham, Pak Syukri ? ”

” Insya Allah, paham Pak Anwar. Apakah ada fatwa MUI mengenai SUKRI?”

“Tentu, Pak Syukri. SUKRI ini adalah obligasi syariah yang diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 32/DSN-MUI/IX/2002. Obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Panjang ya penjelasannya, Pak Syukri. ”

” Tidak apa,  Pak Anwar. Bila seperti ini, saya mantap terhadap produk investasi syariah. Selain saya membantu pembangunan negara yang sah menurut MUI, juga dapat bagi hasil yang memuaskan. Mengenai mekanismenya seperti apa, Pak? ”

” Bapak bisa membeli unit SUKRI minimum nominal Rp 5 juta rupiah. Investasi ini akan jatuh tempo selama tiga tahun, dan selama kurun waktu tersebut, pemerintah akan membayar setiap bulannya bagi hasil sebesar 8,3% dibagi 12. Kemudian pada saat jatuh tempo, seluruh dana bapak akan dikembalikan.”

” Bagaimana bila saya butuh dana itu mendadak, Pak Anwar? Mungkin saya perlu untuk mengembangkan usaha saya atau biaya darurat lainnya? ”

” Bapak bisa menjual SUKRI ke pasar sekunder, sesuai harga pasar. Agar lebih mudah, bapak bisa hubungi saya saja. Sebagai agen penjual, saya siap membantu menjualkan. ”

” Mengenai risikonya, Pak Anwar? ”

” Setiap produk investasi selalu ada risikonya, Pak Syukri. Tetapi untuk SUKRI ini relatif kecil, karena pemerintah Indonesia sebagai si empunya utang, cukup kredibel dan dapat dipercaya. ”

Syukri mengangguk, ” Baik, Pak. Saya sudah mengerti, dan ingin berinvestasi di SUKRI. Kebetulan ada dana khusus untuk investasi. Akan saya belikan SUKRI.”

“Alhamdulillah. Kebetulan saya sudah siapkan formulir pemesanan, dan akadnya, Pak Syukri. Semoga investasi Bapak barokah dan dapat membantu negara. ”

” Amin. ”

Malamnya, Syukri menelepon istrinya di kampung, memberi tahukan ikhwal investasi syariah yang menguntungkan seperti SUKRI. Istrinya sangat mendukung, dan menyarankan Syukri untuk mencari produk investasi syariah lainnya. Sangat berguna untuk menyimpan dana pendidikan anak, sebelum digunakan nantinya. Syukri berjanji akan menghubungi Anwar kembali untuk menanyakannya.
***

Tulisan diikut sertakan dalam Lomba Blog Puasa, yang diselenggarakan oleh OJK dan blog.detik.com



Posted in Uncategorized | 2 Comments

Renungan Ramadhan 1437H


TUHAN, HAMBA LELAH MEMINTA

Tuhan, hamba lelah meminta.
Bukan karena tak pernah terkabulkan.
Bukan pula karena Engkau selalu ada.
Tetapi karena di setiap doa hanya ada permohonan.

Syukur hanya sebagai pengantar.
Agar setiap pinta Engkau berikan.
Tuhan, aku mencintai-Mu.
Tapi tolong beri semua keinginanku.

Setiap doa selalu dijabah.
Entah sekarang atau nanti.
Memintalah pada-Ku.
Maka niscaya akan Ku-kabulkan doamu.

Tuhan, setelah mendaras beribu permintaan.
Pada akhirnya hanya satu yang sungguh kuharap.
Dekatkanlah aku pada-Mu.
Seperti terkasih dalam rongga hati.

Jakarta, 25 Juni 2016
Untuk Tuhanku

Posted in My World | Leave a comment

Indonexit = the Indonesia’s “Brexit”


Ribut banget nih dunia. Cuma gara gara Inggris mau lepas dari Uni Eropa,  semua kalang kabut. Saham Citibank dan Bank of America berjatuhan, poundsterling melemah terhadap dollar, harga emas meningkat. Semua karena Brexit (British Exit). Inggris dikenal sebagai negara dengan perekonomian terkuat di Eropa, sebanding dengan Jerman. Wajar bila semua negara yang terkoneksi dengan Inggris khawatir bila dengan keputusan ini, perdagangan bilateral dan multilateral terganggu.

Mengapa Inggris ngotot meninggalkan Uni Eropa? Ini memang pilihan negara untuk berdikari. Sudah lazim bila bergabung dengan komunitas, hati dan pikiran akan dibentuk oleh aturan komunitas. Aturan dibentuk oleh pemimpinnya, yang biasanya adalah yang terkuat, baik dari sisi ekonomi, watak, dan kemampuan. Inggris tidak total bergabung dengan UE ditandai dengan masih menggunakan mata uangnya sendiri. Poundsterling telah lama kuat dibandingkan Euro yang baru datang belakangan. Disamping itu Inggris sudah ogah didikte Jerman mengenai masalah imigran. Jerman membuka lebar negaranya untuk imigran Suriah. Inggris kebalikannya. Jerman sebagai pemimpin UE, selalu membantu negara anggota yang kelimpungan masalah perekonomian seperti Yunani, dan mengharapkan anggota lain juga membantu. Prinsip Inggris kalau membantu, bisa bocor anggaran negara. Maka sekarang terkenal istilah “beLEAVE in Britain” untuk mendukung referendum keluar dari UE tgl 23 Juni 2016. Dukung kedaulatan negara untuk mempunyai pendapat sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Komunitas ekonomi yang diikuti Indonesia pun demikian banyak. Mulai dari ASEAN, AFTA, MEA, kerjasama perdagangan dengan Tiongkok, dan yang paling gress menyebabkan Indonesia galau untuk bergabung yaitu Trans Pacific Partnership. Pada awalnya hanya berupa Kerjasama regional untuk keamanan, budaya, suara ke dunia internasional agar lebih didengar. Tapi berikutnya lebih banyak kepada kepentingan perdagangan liberal. Membebaskan masing-masing negara untuk berjualan di negara lain. Tarif impor barang mendekati 0%. Yang kuat yang menang, dan Indonesia menjadi incaran karena pasar besar dengan konsumen amat sangat konsumtif, tapi dengan kemampuan produksi rendah. Contoh kerjasama dengan Tiongkok merugikan Indonesia, karena ekspor Indonesia ke Tiongkok tidak banyak, sedangkan impor semakin besar. S&P menurunkan peringkat Indonesia sebagai negara yang tidak layak investasi, semata karena Indonesia mengandalkan pendapatan negara dari pajak dan bukan dari ekspor. Ciri khas negara konsumtif.

Apa Indonesia harus seperti Inggris, meninggalkan seluruh kerja sama perekonomian dengan negara lain? Untuk saat ini kita harus memilih kerjasama yang menguntungkan Indonesia dengan penelitian terlebih dahulu. Para akademisi harus mencari  bentuk model kerja sama seperti apa yang menguntungkan, dan dijadikan standar dengan Indonesia yang menawarkan kerja sama ke negara lain. Pasar Indonesia yang besar menjadi modal untuk dapat percaya diri menawarkan model kerja sama. Model yang baik mendukung perekonomian Indonesia, terutama produksi yang menghilangkan defisit anggaran negara.

Selama ini belum dapat dilakukan, mungkin Indonexit harus dilakukan untuk membenahi produksi nasional. Swasembada jauh lebih baik dibandingkan harus terombang ambing bagai buih di gelombang liberalisme kapital.

Jakarta, 18 Juni 2016

Posted in My Economic Thinking | Tagged | Leave a comment

G E G A R


Saya lagi tergegar. Gegar otak dan gegar budaya. Mari kita deskripsikan satu persatu. Gegar sendiri adalah anonim dari guncang. Jadi tergegar adalah terguncang. Gegar otak adalah tipe cedera otak teringan dibandingkan tipe cedera otak lainnya. Gegar budaya adalah ketidaksiapan menerima budaya yang baru pada kehidupan.

Apa pasal? Saya biasa berpikir matematis, analitis, dan merasa argumen saya telah memenuhi logika. Seperti halnya orang-orang yang biasa berpikir dengan otak kiri. Hasil pikiran yang penuh angka dan logika itu, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Untuk mengikat makna, dan agar pikiran itu tidak menguap. Hilang entah kemana. Tulisan akan membentuk grafik, fakta-fakta untuk menguatkan artikel yang mempengaruhi pembaca. Saya berandai-andai menjadi pengisi kolom opini ekonomi di media massa (yang mohon maaf, belum terkabul sampai saat ini..haha..).

Tapi saya tergegar dalam waktu dua hari. Gegar otak sekaligus gegar budaya. Saat mengikuti Workshop Cerpen Kompas 2016 di Gedung Kompas Gramedia tgl 30 – 31 Mei 2016. Saya datang dengan persepsi, ah fiksi, pastilah harus aneh dan tak tertangkap maknanya. Semakin aneh, akan semakin disukai pembacanya. Beda dong dengan non fiksi. Semua harus berdasarkan fakta. Persepsi itu “diputar balikkan” oleh dua mentor saya. Mbak Linda Christanty hanya tersenyum saat saya menyatakan susah betul memahami cerpen di Kompas Minggu. Beliau berkata, cerpen yang sulit dipahami dapat berarti dua hal. Sangat baik, atau justru buruk. Cerita sastra yang baik dapat membuat kita merenung berhari-hari, mengingat karakter yang kuat di dalamnya, dan berusaha mencari makna yang berlapis-lapis. Cerita sastra bukan berarti ruwet, karena keruwetan berarti penulisnya malah gagal menyampaikan maksudnya dalam bentuk tulisan.

Mas Agus Noor mendeskripsikan ketidak logikaan cerpen dalam bentuk lain. Cerpen tidak harus sesuai dengan fakta yang ada saat ini, tetapi kemampuan penulis berargumen lah yang harus mampu meyakinkan pembaca bahwa alur cerita itu masuk akal. Contoh, matahari terbit dari barat. Logika umum menyatakan bahwa itu tidak mungkin terjadi, dan bila terjadi maka kiamat sudah dekat. Maka dapat dituliskan sebagai berikut:

“Matahari terbit dari barat, karena bosan. Dia ingin melihat kehidupan manusia dari lintang yang berlawanan dengan timur. Tak terjadi apa-apa, bahkan bumi bergoncang pun tidak. Maka para orang suci sibuk merevisi kriteria akhir dunia.”

Putu Fajar Arcana, atau Bli Can, sama dengan Mbak Linda Christanty, memberikan saran agar cerpen saya yang berjudul “Genta Gelas Neira” dibuat dalam bentuk novel, karena mempunyai tema yang besar yaitu Banda Neira. Karakter-karakter yang ada di dalamnya dapat diperluas, seperti menambahkan rahasia pada tokoh Stefani yang seorang ilmuwan. Mengapa rahasia? Karena semua orang suka mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu. Agak-agak kepo maksudnya ;))

IMG_20160604_163751

Di workshop ini saya bertemu teman-teman baru beratmosfer sama, yaitu penulis. Ada Mbak Esther yang ibu rumah tangga, ada Mas Victor yang guru SMA, ada mbak Farrah yang mahasiswa, ada mas Wisnu yang pengusaha, mas Harris yang wartawan, dan teman-teman lain yang tak dapat disebut satu persatu. Atmosfer ini semakin terasa, saat di akhir sesi kami berkesempatan untuk mengunjungi redaksi Harian Kompas. Berusaha mengetahui seperti apa sih kerja wartawan, para penulis berita? Sayangnya, ruangan nampak kosong, karena para wartawan belum pulang dari liputan. Konon kabarnya, jam kerja para wartawan ini tak tentu. Asalkan mereka siap menghadapi deadline pada pukul 12 malam.

Tetapi tak apa, karena ada kejutan lain. Di tengah visitasi ini, kami bertemu rombongan cerpenis pilihan Kompas 2015, yang akan menghadiri Malam Jamuan “Cerpen” Kompas 2015 di Bentara Budaya Jakarta. Pak Ahmad Tohari, dan Pak Triyanto Triwikromo, dengan ramahnya, berjabat tangan dengan semua peserta workshop. Saya sempat berbincang dengan Pak Ahmad Tohari, dan bilang saya ingin curi ilmu bapak. Pak Ahmad Tohari tertawa-tawa, katanya cerpen langsung tulis saja, gak perlu pakai ilmu-ilmuan. Lah, kalau senior bisa saja bilang begitu saking ahlinya..haha..

Acara dilanjutkan dengan menghadiri Malam Jamuan “Cerpen” Kompas 2015. Banyak bertemu tokoh penting di dunia sastra. Faisal Oddang, cerpenis muda kelahiran 90-an, atau Pak Putu Wijaya, yang kabarnya ahli banget dalam membuat tek-tok tulisan. Dan yang paling memukau, saya banyak bertemu tutup kepala disini. Mulai topi baret Pak Putu Wijaya, dan Pak Ahmad Tohari, iket Bli Can, sampai blangkon pak Menteri Anies Baswedan. Bahkan topi bertuliskan Kompas yang dipakai Mbak Esther, teman peserta, juga ikut mejeng di foto halaman depan Harian Kompas Rabu 1 Juni 2016. Selamat untuk Pak Ahmad Tohari yang memenangi cerpen terbaik dengan judul “Anak ini mau mengencingi Jakarta?”

Pengalaman yang berkesan, sekaligus semakin memacu andrenalin dan endorfin saya untuk terus menulis, dengan target menghasilkan buku dan tulisan di media massa tahun 2016. Amin.

Jakarta, 4 Juni 2016

Image | Posted on by | Leave a comment