2015 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,500 times in 2015. If it were a cable car, it would take about 42 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bahwa Indonesia itu Nusantara


Dirjen Perhubungan Darat, Pak Djoko Suseno, akan mengundurkan diri. Semata bertanggung jawab atas kemacetan yang tidak terantisipasi di beberapa jalan tol Jakarta akibat mudik akhir tahun 2015. Apresiasi tinggi kepada pejabat yang berani bertanggung jawab terhadap ketidaberesan di area kerjanya.

Tetapi bila melihat urgensi nya, sepertinya hal tsb tidak perlu dilakukan. Pemudik, walaupun terkendala macet puluhan jam, masih dapat disalurkan ke jalan tol lainnya. Apalagi bila tujuannya sekedar rekreasi. Jangan salah, saya tidak menyepelekan hal ini, karena saya termasuk salah satu pemudik yg hampir ketinggalan pesawat karena kasus macet tadi. Jarak Setiabudi Jakarta ke Bandara Halim yang hanya 20 menit hari libur biasa, menjadi hampir 3 jam. Dan setelah masuk pesawat yang telah boarding, masih ada penumpang ibu ibu dengan nafas tersengal sengal, menyatakan helm gojek serasa masih dipakai. Idiom bagi pengejar waktu boarding pesawat.

Maksud saya, Indonesia itu bukan hanya sekedar Jakarta. Jelas tenaga dan pemikiran pak Djoko Suseno masih dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia. Apalagi pak Jokowi lagi giat giatnya memancing investasi luar negeri. Pokoknya pertumbuhan ekonomi Indonesia 2016 harus 5.6%. Lebih kencang daripada Amerika, Eropa yg cuma1-2%, apalagi China yg mulai kolaps. Lucu juga bila pengurus utama perhubungan Indonesia, hilang hanya karena sepenggal macet di kota yang memang telah terkenal antrean kendaraan nya.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tanggal 31 Desember 2015, semakin menegaskan bahwa Indonesia bahkan lebih luas daripada teritori saat ini. Sudah mencakup Nusantara jaman Majapahit.  Membentang dari Sumatera sampai Papua.  Bukan berarti kita mau ekspansi jaman Papua Barat, tapi kesepakatan antar negara ASEAN membuat kita dapat meluaskan bisnis ke seluruh wilayah ASEAN. Asyik kan?

Sayangnya (atau untungnya?) semua peserta gamang. Bingung mau ngapain, termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, dan philipina. Lah wong regulasi juga belum jelas. Sertifikasi pekerja ahli belum teraplikasi.

Sebenarnya mumpung masih gamang Indonesia harus gerak cepat. Segera adakan sertifikasi massal seluruh pekerja sesuai bagiannya. Selain itu para pebisnis langsung gerak cepat membuka cabang di luar negeri, termasuk bank di Indonesia yang terhalang regulasi di negara ASEAN. Pasok wilayah jiran dengan SDM yg berlimpah ruah (termasuk para buruh yg minta gaji tinggi dengan pembanding upah di negara tetangga). Pastikan Indonesia kembali berjaya di Nusantara ! 😀

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GOYANG BEETHOVEN


Maitra membuka kotak biolanya. Diletakkannya instrumen gesek itu perlahan ke dalamnya, seakan menyembah. Ini ritualnya setiap malam, setelah memberikan kursus musik kepada beberapa anak didiknya. Sebelumnya digosoknya dahulu biola tua ini sampai mengkilat. Membersihkan sisa-sisa serbuk rosin[1] yang menyebabkan dawainya bersuara melengking tinggi. Tetapi serbuk putih itu harus dibersihkan, karena bila tidak, dia akan mengeras dan lengket di senar. Suara biola akan menjadi buruk.

Tiba-tiba Aruna, kakak laki-lakinya, masuk ke kamarnya. Maitra melotot.

“Apa susahnya sih mengetuk pintu dulu?”

Aruna cengar cengir. “Memangnya kenapa, toh kamu adikku.”

Maitra melempar lap yang digunakannya untuk menggosok ke arah Aruna. Aruna menangkapnya dengan cekatan, tapi tidak seperti biasanya yang akan dilemparnya balik ke Maitra, dia membuang lap itu ke lantai.

“Sorry, aku punya berita yang lebih penting. Wimala akan menikahkan adiknya di desa. Dia minta bantuanmu bikin biola tunggal. Kamu bisa?”

Wimala istri Aruna. Hubungan Maitra dengan Wimala tidak begitu baik, sehingga bila mereka membutuhkan sesuatu yang dipunyai pihak lain, selalu melalui Aruna.

“Maksudmu, aku main konser tunggal di kawinan itu?”

“Hmm..sejenis itu. Bukan konser, tapi orkes. Seperti orkes organ tunggal di kawinan.”

Maitra mengernyitkan alisnya. Konser tunggal, dia paham. Maitra biasa menggesek biolanya di beberapa acara perkawinan di gedung-gedung pertemuan besar. Beberapa kali dia menggelar konser tunggal, berkolaborasi dengan beberapa musisi. Atau membawakan beberapa repertoire klasik di kedutaan besar Jerman atau Perancis. Tetapi ini, orkes biola tunggal.. Jangan-jangan..

“Kamu hapal lagu Jablai, kan?” Mata Aruna berbinar.

Maitra mendengus.

“Jangan coba-coba, Kak. Aku tak mau menukar musikku dengan uang.”

Aruna berusaha membujuk. “Ayolah, Mai. Ini bukan hanya sekedar uang. Ini untuk ikatan persaudaraan. Tentu Wimala akan memberimu uang, dan bukan hanya sekedarnya, walau kamu saudara iparnya.”

Biola yang telah masuk kotak, dikeluarkannya lagi. Maitra meletakkannya di bahu, dan digeseknya dawai biola itu perlahan pada awalnya, lalu bersemangat. Violin Concerto E Minor karya Johann Sebastian Bach, musisi klasik Jerman, menghentak, dan menenggelamkan kata-kata Aruna. Sesaat saja Maitra seperti orang dalam keadaan berkonsentrasi tinggi, dan tidak mengacuhkan sekelilingnya. Aruna membiarkannya, dan menunggu sampai musik itu selesai.

“Seorang musisi yang baik tidak akan membatasi musiknya, juga tidak akan membatasi audiensnya,” kata Aruna mengusap kepala adiknya.” Pikirkanlah baik-baik.”

-000-

            Maitra mendapatkan pendidikan musik terbaik di Berlin University of Arts. Ayahnya seorang ilmuwan teknik yang bekerja di suatu lembaga penelitian Jerman, mendorongnya sampai batas tertinggi kemampuan bermusiknya. Sejak umur tiga tahun dia telah mulai dikenalkan kepada alat musik piano, tetapi kecintaannya jatuh pada biola. Beberapa kali disabetnya penghargaan di bidang musik klasik Eropa. Dia tumbuh dengan kecintaan terhadap musik klasik.

Dan kini, Aruna ingin menukarnya dengan musik dangdut. Musik di kalangan rakyat jelata, dengan orang-orang berjoget seperti mabuk. Maitra semakin tertampar. Sama seperti lima tahun yang lalu, saat ayahnya membawanya pulang dari Jerman untuk bertemu dengan calon ibu tirinya dan laki-laki yang dikatakan akan menjadi kakaknya. Maitra bersikeras, Jerman adalah tanah kelahirannya. Benar, kata ayahnya. Tetapi kamu warga negara Indonesia, dan ayah tidak akan meninggalkanmu di Jerman. Maitra berusaha memahami ayahnya, kerinduannya pada Indonesia, dan keluarga yang ditinggalkannya disana. Hingga ia ikut. Tetapi di Indonesia, semuanya berbeda dengan Jerman. Keteraturan Berlin tak akan pernah dijumpai di Jakarta. Dia tak akan pernah bisa naik sepeda lagi, di tengah-tengah kerumunan sepeda motor yang hiruk pikuk, dan polusi asap kendaraan yang menggila. Pernah dia mencoba mengendarai sepeda lipatnya, yang menjadi tunggangan setia di jalan-jalan Berlin. Dan si sepeda keok, mencium ubin trotoar, karena ketidakmampuannya menghindari laju sepeda motor di atas trotoar.

Ditambah dengan permasalahan keluarganya. Ayahnya, walaupun gembira mendapatkan pasangan hidup, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan yang berkompensasi setinggi di luar negeri. Dengan penghasilan terkurangi hampir setengahnya, ayahnya masih dapat menghidupi keluarga kecilnya, tetapi dengan kehidupan sangat sederhana. Maitra tak bisa  leluasa lagi menabur impian meneruskan pendidikannya di bidang musik. Tentu saja ada beasiswa, tetapi itu berarti dia harus bertarung dengan sekian banyak pelamar lainnya. Dia belum terlalu percaya diri untuk melakukannya.

Hanya musik yang bisa menghibur Maitra. Setiap malam, saat dia sendiri selalu digeseknya biola, melantunkan musik-musik klasik yang indah. Dia tahu, dia harus berdiri kembali. Beradaptasi dengan kondisi yang baru. Usianya baru 22 tahun. Masa depannya masih panjang terbentang. Bila ayahnya tak bisa membiayainya, dia yang akan berusaha sendiri. Mulai dibukanya kursus biola untuk anak-anak. Mula-mula hanya satu dua anak yang berminat, lama-lama semakin banyak yang ikut mendaftar. Maitra melamar di beberapa café. Dan seperti kata Aruna, seorang musisi memang tidak boleh membatasi musiknya. Maitra sedikit beradaptasi dengan musik pop dan jazz. Tetapi dangdut ?

“Baik. Jadi lagu apa yang harus kumainkan?”.

Aruna dan Wimala yang sedang duduk santai di teras rumahnya, terkejut dengan kedatangan Maitra. Terutama dengan pertanyaannya. Aruna yang tersadar dengan cepat, segera paham maksud  adiknya. Wimala yang sadar belakangan, tersenyum senang, dan menjawab,”Kalau di kampung mereka suka lagu dangdut goyang pantura, atau Jablai.”

Aruna melirik Wimala, lalu menatap adiknya,” Biola memang bisa dibuat bernada dangdut goyang pantura. Tapi kukira pemainnya belum bisa. Lebih baik kita buat lagu-lagu sendiri yang enak didengar dan bisa buat goyang.”

Maitra menjawab,”Aku bisa beradaptasi dengan musik apapun.”

Aruna memeluk adiknya,” Aku tahu. Aku akan membuatkanmu Orkes Goyang Beethoven yang tak akan pernah kau lupakan.”

-000-

            Aruna menepati janjinya. Dia bekerja sama dengan beberapa teman musisinya, membuatkan beberapa lagu dangdut yang enak didengar dan cukup sopan. Atau mengaransemen lagu pop menjadi bernada dangdut.

“Aku suka lagu ‘Jangan Menyerah’ D’Masiv, Itu bisa diaransemen menjadi lagu dangdut. Oh ya, satu lagi ‘Dan Bernyanyilah’ ciptaan Musikimia. Lagu itu memotivasi. Sudah waktunya lagu dangdut memberikan semangat dan inspirasi. Tidak hanya sekedar patah hati mendayu-dayu.”, kata Maitra.

Aruna mengacungkan jempol.

Di belakang panggung, Maitra luar biasa gemetar. Ini tidak seperti konser tunggalnya di kedutaan besar. Dia harus memainkan lagu yang bukan musiknya. Tapi ini panggungnya dan dia harus bisa. Maitra mulai mendaraskan lagu-lagu dangdut konvensional seperti permintaan penonton. Jablai lagu pertama, Goyang Pantura lagu kedua. Setelah itu lagu Jangan Menyerah versi dangdut. Dan saat penonton mulai menghangat dalam jogetnya, Maitra menggesekkan biolanya menghentak dengan melodi awal Beethoven Symphoni 5. Penonton langsung menghentikan jogetnya, terkesima. Maitra tak perduli, dia terus melengkingkan dawainya. Setelah bagian pertama lagu itu selesai, Maitra segera menyambungnya dengan lagu Dan Bernyanyilah versi pop, dan setelah itu dia langsung melanggamkannya menjadi cengkok dangdut. Wimala yang bersuara indah, langsung menyanyikan liriknya. Penonton yang terkesima bertepuk tangan dan mulai bergoyang.

saat dirimu
terhanyut dalam sedih yang kau rasakan
seperti mendung hitam
cobalah kau sadari
bahwa hidup ini terllau indah untuk ditangisi

dan bernyanyilah
senandungkan suara isi hati
bila kau terluka
dengarkan alunan lagu
yang mampu menyembuhkan lara hati
warnai hidupmyu kembali
menarilah aaah aaah
bernyanyilah aaah aaaah

Penonton pun ikut menyanyi ..aaahh..aaahhh…cengkok dangdut. Tiada nada patah hati, yang ada rasa motivasi setinggi langit. Maitra tahu orkes tunggal Goyang Beethoven-nya sukses besar. Terima kasih untuk Beethoven dan Musikimia, ujarnya dalam hati.

-Selesai-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Dan Bernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia,Nulisbuku.com dan Storial.Co

[1] Produk karet untuk membuat dawai biola bersuara saat digesek

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HELM SLAMET PERKUTUT


Wimala berjalan mengendap-endap. Ditutupnya pintu depan dan dikuncinya, seperlahan mungkin, agar suaranya tak terdengar. Tetapi upayanya sia-sia.

“Ayo Neng. Ojek. Hari sudah siang, nih. Ntar telat lagi.”

Wimala langsung menghentikan aktivitasnya. Dengan santainya, Pak Slamet, si tukang ojek yang mangkal depan kos, men-starter motor dan menghampiri Wimala, tanpa persetujuannya. Wimala masih berupaya membantah,”Mau jalan saja, Pak Slamet. Olah raga.” Tapi bantahan itu hanya dalam hati. Wimala tak tega terhadap para ojekers ini. Dia tahu persis mereka harus berjuang mencari uang untuk keluarganya. Walaupun kadang-kadang ongkos yang dipatok lebih daripada taksi yang berpendingin dan tak berdebu, Wimala lebih memilih naik ojek bila tujuannya tak jauh. Bina lingkungan, katanya.

Hanya saja bukan masalah uang, atau berdebu, atau kepanasan, yang menjadi kendala Wimala menumpang ojek. Masalah keselamatan yang menjadi isu utama. Tahu dong, bagaimana cara para bapak ojek ini mengendarai tumpangannya. Secepat kilat (dalam arti sesungguhnya, dan bukan kiasan), menyelip diantara mobil-mobil, dan tanpa helm bagi penumpangnya. Pernah Wimala (saking kesalnya) menepuk bahu Pak Ojek, lalu bertanya.

”Kenapa sih Pak, harus ngebut. Toh di depan juga lampu merah. Bapak ngerem mendadak dari ngebut aja sudah harus keluar ongkos perawatan mesin.”

Si Pak Ojek menjawab,” Waktu, Neng, waktu. Jam segini  banyak yang minta dianterin ke kantor. Lumayan kan, nambah penghasilan.”

Gila, tidak cuma wartawan, bahkan tukang ojek pun punya tenggat waktu. Jadi bila kebetulan Wimala dapat jatah antrian dengan si tukang ojek ini, dia akan berupaya menjaga keseimbangan tubuh dengan berpegang pada besi melintang di belakang boncengan. Atau bila dapat jatah tukang ojek lain yang selain hobi ngebut, juga suka menyelip-nyelip diantara mobil-mobil yang macet. Wimala selalu mengalami nasib buruk, yaitu terbentur lutut atau ujung jari kakinya, dengan bodi  mobil yang disalip. Yang dapat dia lakukan hanya berusaha mengepit lututnya ke arah jok motor, membuat ruang selebar mungkin dengan bodi mobil, sehingga tak terantuk. Tukang ojek pun ahli berkendara di trotoar, apabila dia ogah menyeberang jalan untuk menempuh sesuai arah. Lebih baik motornya dinaikkan ke trotoar, dan siap-siap membunyikan klakson untuk mengusir pejalan kaki yang lalu lalang di depan laju kendaraannya.

Aku penumpang yang terlalu baik hati, rutuk Wimala, yang sekarang duduk di belakang Pak Slamet. Tak pernah protes, walaupun keselamatanku diabaikan. Tetapi Pak Slamet, yang menjadi  salah satu tukang ojek idola Wimala, berbeda dengan tukang ojek biasa. Bukan apa-apa, cara mengendaranya luar biasa aman. Kecepatan tak pernah lebih dari 50 km/jam. Tak pernah menyalip-nyalip diantara mobil, setia menunggu giliran. Kalaupun terpaksa harus menyalip, dia akan melakukannya dengan berhati-hati. Mungkin ini juga karena faktor usia, sehingga beliau lebih sabar menghadapi kemacetan Jakarta. Wimala memperkirakan umur Pak Slamet diatas 50 tahun. Tapi sebenarnya alasan ini, tidak sepenuhnya benar. Ada tukang ojek lain yang juga sudah berusia lanjut, dengan laju kecepatan motornya tak pernah kurang dari 80 km/jam. Agak mengerikan memang, karena terkadang beliau kehilangan keseimbangan sehingga laju motornya agak bergoyang.

Hanya satu kelemahan Pak Slamet. Dia tak pernah menawarkan helm untuk dipakai kepada penumpangnya. Bahkan untuk jarak yang relatif jauh sekalipun.

Nggak takut ditilang polisi, pak ?”, tanya Wimala pada suatu waktu. Memberikan pemahaman yang paling sederhana dan mudah dimengerti, bahwa tidak memakai helm itu salah. Bila dia berkata masalah keselamatan, takutnya Pak Slamet tidak terlalu perduli. Wimala sering melihat para pembonceng ojek lebih menghindari polusi dengan menggunakan masker, daripada menggunakan pelindung di kepalanya. Tidak salah, karena Jakarta memang kota yang sangat berpolusi dengan asap kendaraan, tetapi lebih baik lagi bila menggunakan keduanya. Masker dan helm.

“Biasanya cari jalan tikus, Neng. Penumpang jarang yang mau pakai helm. Katanya bau,” ujar Pak Slamet.

“Kan bisa dibersihkan, Pak.”

“Yah, tambah ongkos lagi, Neng.”

“Biar penumpang Bapak ntar tambah banyak. Siapa sih yang nggak mau naik Ojek Slamet. Sudah nyetirnya aman, pakai helm wangi lagi.” Wimala mulai melancarkan bujukan mautnya.

“Anggap saja uang buat beli helm dan ongkos bikin wanginya, adalah dana promosi,” ujar Wimala lagi.

“Ah, Neng bisa aja. Ya deh, nanti kalau saya menang lomba perkutut, saya beli helm.”

“Lho, Bapak hobi perkutut?”

“Sebenarnya bukan perkutut saya, Neng. Punya tetangga. Biasanya saya yang ngikutkan lomba.”

“Oh ya, bagus deh, Pak Slamet. Saya doakan, Bapak menang nanti.”

“Amin. Makasih, ya Neng.”

Selang dua minggu kemudian, si Pak Slamet menyodorkan helm barunya. Helm  SNI warna biru metalik. Wimala tertawa senang dan mengacungkan jempolnya.

“Nih, Neng. Eneng yang pertama pakai helm ini. Saya janji tiap tiga hari sekali, saya akan cuci.”

“Nah, gitu dong, Pak. Jadi saya pakai helm hasil lomba perkutut ya. Gimana, bagus nggak, perkututnya manggung?”

 “Keren banget, dah, Neng. Juara satu. Dia manggung gak putus-putus. Begitu sangkarnya naik, dia langsung nyanyi. Nggak pakai ditepokin dulu.”

“Dia ngerti tuh, Pak. Kalau menang, dia bakal bawa keselamatan penumpang majikannya. Makanya dia kerja keras. Bapak harus gitu juga. Biar penumpang aman, selamat, dan nyaman, naik motor Bapak.”

“Iya, Neng. Biar jadi amalan Bapak, klo dah di akhirat ntar.”

“Amiiiinnn… Jadi helmnya ntar dikasih stiker ya, Pak. Helm Slamet Perkutut.”

“Ah, Neng. Bisa aja.”

Wimala tersenyum senang. Paling tidak saat ini dia sudah mengupayakan satu tindakan kecil yang dapat membawa keselamatan banyak orang. Dia masih punya tanggung jawab lainnya mengenai keamanan berkendara, yaitu membujuk pak ojek pengebut dan penyalip agar tidak melakukannya. Wimala akan memikirkan caranya nanti.

-000-

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Late Post: MENYEMBUHKAN INFLASI YANG MERADANG DI BULAN RAMADHAN


Pada Bulan Ramadhan tahun 2015 ini, Bank Indonesia telah bersiap-siap untuk mengendalikan inflasi. Betapa tidak, bulan Mei 2015 inflasi di Indonesia mencapai 0,5% dengan inflasi tahunan 7,15%. Sangat jauh dari target inflasi tahunan 2015 s.d. 2016 yang berkisar 3 s.d. 5 %. Bulan April 2015, dua bulan menjelang puasa, inflasi bulanan masih mencapai 0,39% dengan inflasi tahunan 6,79%.  Sebenarnya inflasi di bulan Ramadhan tahun 2015 ini relatif kecil dibandingkan tahun 2014 yaitu di bulan Juli sebesar 0,93% dan tahun 2013 di bulan Agustus sebesar 1,12%. Angka inflasi bulanan dibawah 0,5% dianggap sebagai laju inflasi yang tidak terlalu kencang. Tetapi sekecil apapun nilai inflasi juga, bila berbicara masalah target, tentu harus ditekan.

Inflasi dan Bulan Ramadhan

Apa itu inflasi? Inflasi adalah peningkatan peredaran uang di masyarakat. Hal ini disebabkan banyak hal, yaitu peningkatan permintaan terhadap produk tertentu, peningkatan tarif produk yang menjadi hajat hidup orang banyak seperti listrik atau bahan bakar minyak, dan pasokan uang dari bank sentral ke pasar akibat meningkatnya permintaan seperti peningkatan konsumsi atau pembayaran Tunjangan Hari Raya. Dampak buruk dari inflasi adalah menurunnya nilai mata uang negara tersebut terhadap mata uang asing, atau terdepresiasi. Gampangnya sebagai contoh, bila beras di pasar mudah didapatkan karena musim panen, maka nilai beras tersebut akan turun yang ditandai dengan harganya menjadi lebih murah. Mulai dari akhir tahun 2014 sampai saat ini, Rupiah terus menurun nilainya dibandingkan Dollar Amerika, dengan kurs terakhir per 19 Juni 2015 adalah Rp 13.391 per satu USD. Hal ini disebabkan oleh The Fed, atau Bank Sentral Amerika, berencana untuk meningkatkan tarif bunga karena perekonomian Amerika Serikat telah membaik. Akibatnya, banyak investor berniat menanamkan uangnya di bank-bank Amerika Serikat yang akan menyalurkannya untuk kegiatan investasi pemacu kegiatan perekonomian, sehingga terjadi arus keluar mata uang USD dari negara-negara lain ke Amerika Serikat. Kelangkaan mata uang USD tersebut di luar Amerika Serikat akan  menyebabkan nilainya menguat dibandingkan mata ulang lain. Walaupun pada akhirnya Janet Yellen, Gubernur The Fed, menunda kenaikan tarif tersebut sampai dengan Januari 2016, tetapi isu kenaikan tarif bunga ini telah membuat nilai Rupiah terombang ambing dan terus menurun nilainya.

Inflasi di Indonesia pada bulan Ramadhan disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan, akibat meningkatnya konsumsi masyarakat. Harga bahan makanan per Mei 2015 rata-rata naik 1,39% dengan penyumbang utama adalah cabai merah yang naik sebesar 22,2% dan menyumbang inflasi sebesar 0,1% (BPS, Mei 2015).

Tabel kenaikan rata-rata bahan makanan di bulan Mei 2015 (Sumber BPS, Mei 2015)

Bahan Makanan Kenaikan rata-rata
Cabai Merah 22,2%
Daging ayam ras 5,09%
Bawang merah 6,19%
Telur ayam ras 6,13%
Ikan segar 0,58%
Beras -0,88%
Sumber BPS, Mei 2015

Patut menjadi sorotan, mengapa di bulan Ramadhan dengan kegiatan puasa yang bertujuan untuk menahan diri dari makan dan minum, malah terjadi peningkatan konsumsi. Mari kita lihat, begitu banyak pedagang makanan dan minuman kecil menjelang waktu berbuka puasa. Saya sebagai salah seorang muslim yang berniat untuk tidak berlebihan pada saat sahur dan buka puasa, bahkan begitu ngilernya melihat aneka ragam takjil tersebut. Berkeinginan untuk menekan frekuensi makan, dari tiga kali waktu makan menjadi cukup dua kali saja, tetapi dengan banyaknya godaan penjual, dan tagline berbuka puasa dengan yang manis (mungkin bermula dari promosi suatu merk minuman), akhirnya tidak dapat mengendalikan diri dan membeli demi selera. Pengendalian diri sesiang penuh menghilang menjelang berbuka puasa dan tekat mengurangi makan pun gagal, malah menambah dengan porsi makanan manis.

Sebenarnya apa penyebab dari tingginya tingkat konsumsi di Bulan Puasa? Pertama, tingkat pengendalian diri yang kurang dari pelaksana puasa. Merasa bahwa telah berpuasa seharian penuh, maka terdapat rasa ingin mengonsumsi semua makanan pada saat berbuka. Atau istilah kerennya, “lapar mata” dan “balas dendam”, apalagi pengaruh tagline “berbuka dengan yang manis”, yang sebenarnya tidak ada dalam anjuran agama (kurma tidak dapat disamakan atau digantikan begitu saja dengan makanan manis), dapat memacu pembelian impulsif takjil. Hal ini menyebabkan tingginya permintaan kebutuhan akan pangan, terutama pada keluarga. Besarnya penduduk muslim di Indonesia turut mempengaruhi kenaikan konsumsi tersebut. Kedua, hasrat untuk membeli bahan pangan persiapan hari raya Idul Fitri, dan kecenderungan untuk memborong karena adanya anggaran tunjangan hari raya. Bahkan bila memungkinkan pembelian dilakukan sedini mungkin bagi bahan makanan yang awet, untuk menghindari kenaikan harga menjelang hari-H. Ketiga, tingginya penawaran dari pasar, seperti pedagang musiman makanan berbuka; atau program acara belanja yang menawarkan konsumerisme seperti pasar murah, Pekan Raya Jakarta, dan Jakarta Great Sale. Pedagang musiman bahkan disinyalir menjadi penyebab inflasi paling utama, karena dari merekalah permintaan bahan makanan melonjak drastis. Di Bandung, penjual kolang kaling yang biasa menjual satu drum tiap hari, di bulan puasa bisa menjual dua sampai tiga drum per hari karena permintaan dari ibu-ibu rumah tangga yang tiba-tiba menjadi penjual sop buah untuk buka puasa. Pasar murah biasanya diadakan agar masyarakat dapat terbantu untuk membeli bahan pangan seperti beras, minyak, dan gula,  menjelang hari raya dengan harga jauh lebih murah dari harga normal, bahkan  nyaris gratis. Hanya hal ini dapat memacu masyarakat untuk membeli lebih banyak, bahkan yang tidak dibutuhkan sekalipun tetap dibeli karena harganya murah. Acara Pekan Raya Jakarta dan Jakarta Great Sale, merupakan acara belanja murah yang diadakan pemerintah daerah DKI Jakarta untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi diselenggarakan dalam waktu yang tidak terlalu tepat sehingga menambah laju inflasi pada bulan puasa.

Tingginya permintaan konsumsi bahan pangan di Bulan Ramadhan tersebut menyebabkan inflasi, karena dengan suplai dan persediaan yang relatif sama, maka pedagang akan meningkatkan harga. Akibatnya harga-harga di pasar mulai meroket tinggi, yang berlaku juga untuk masyarakat umum non muslim, dan memacu peredaran uang di masyarakat untuk mendapatkan produk dengan harga tinggi.

Penyembuh Inflasi yang Meradang di Bulan Ramadhan

Bagaimana cara menyembuhkan inflasi yang meradang di Bulan Ramadhan  disebabkan tingginya tingkat konsumsi pangan tersebut? Pertama, kembali pada kesadaran diri sendiri, bahwa puasa adalah salah satu bentuk pengendalian diri. Tidak berlebihan dalam hal apapun, termasuk konsumsi. Hal ini harus dibudayakan pada masyarakat, tidak saja di dalam bulan menjelang hari raya, tetapi juga di bulan-bulan biasa, karena membentuk budaya tidak dapat hanya dalam waktu pendek. Mengapa harus berbuka puasa sampai perut kekenyangan dan sulit bernafas, padahal siangnya dia dapat bertahan terhadap godaan makanan. Pemerintah Daerah Kepulauan Riau telah mengambil tindakan baik dengan mempersiapkan penceramah pengajian, yang akan menebarkan pesan untuk mengingatkan masalah pengendalian diri ini. Kedua,  pemerintah harus mempersiapkan pasokan bahan makanan agar tetap stabil selama Bulan Ramadhan s.d. beberapa hari setelah Idul Fitri. Hal ini dapat mencegah masyarakat memborong bahan makanan karena takut harga akan terus meningkat. Saat ini pemerintah telah menyikapi dengan mempersiapkan persediaan sejak tiga bulan sebelum Ramadhan. Hal ini cukup berpengaruh terhadap tingkat inflasi, dimana bulan Ramadhan tahun 2014 yaitu inflasi bulan Juli sebesar 0,93% menurun dari tahun 2013 inflasi bulan Agustus 1,12% yang masih mempersiapkan persediaan tiga bulan sebelum Idul Fitri.

Ketiga, mengkoordinir pedagang makanan buka puasa musiman, agar dapat mengontrol kebutuhan tambahan bahan makanan yang ditimbulkan oleh para pedagang ini. Koordinasi ini dilakukan oleh pemerintah daerah setempat, yang sekaligus mengatur lokasi perdagangan dan menarik retribusi daerah. Sudah bukan rahasia lagi, para pedagang musiman ini berjualan di sembarang tempat terutama di pinggir jalan yang ramai kendaraan, sehingga menimbulkan kemacetan dan membahayakan diri mereka sendiri. Pemberian lokasi tertentu dapat mengurai kemacetan karena pedagang musiman, dan retribusi daerah dapat mengontrol jumlah serta transaksi yang dilakukan. Selainitu, pemerintah dan pihak swasta diharapkan tidak mengadakan acara yang mengundang konsumerisme pada bulan puasa, karena harus menghormati dilaksanakannya bulan suci Ramadhan yang didalamnya terdapat perintah untuk mengendalikan diri terhadap nafsu, termasuk nafsu berbelanja. Bila pada siang hari, warung, restoran, dan tempat makanan ditutup, mengapa hal ini tak dapat dilakukan pula untuk acara-acara belanja? Keempat, menanamkan rasa cinta kepada tanah air dan Rupiah. Dengan tidak berbelanja berlebihan akan membantu tingkat inflasi tahunan dalam kisaran 3 s.d. 5 %. Menyebabkan nilai Rupiah stabil dan menguat, kegiatan perekonomian meningkat, dan tidak dikendalikan oleh pengaruh asing.

Siapkah anda mengendalikan diri?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Natal dan Mortal


Beberapa waktu lalu, saat pulang kerja, saya mampir ke salah satu gedung perkantoran sekedar untuk melihat keramaian yang ada. Saat hendak menuju salah satu stand pakaian, saya dihampiri seorang pemuda berkacamata.

“Maaf, mbak. Saya boleh minta waktunya beberapa saat? Saya tidak sedang minta bantuan”.

Paling juga nawarin asuransi atau kartu kredit nih.

“Silahkan, Mas.”

“Mbak pernah dengar XXX (dia menyebutkan salah satu lembaga internasional dibawah naungan PBB)?”

“Pernah, Mas.”

Singkat kata, dia menjelaskan tentang bahwa badan internasional itu khawatir tentang kesehatan anak-anak Indonesia di pedalaman. Bahwa anak Indonesia kurang mendapatkan akses kesehatan, baik dokter, obat-obatan, informasi tentang gizi, dan gaya hidup sehat. Badan Internasional tersebut intens membantu anak-anak tersebut, tetapi membutuhkan dana yang didapatkan dari public.

“Tahu nggak, mbak. Tidak terasa saya sudah menerangkan kepada Mbak, sekitar 3 menit. Nah selama waktu tersebut sudah ada satu anak Indonesia meninggal di pedalaman karena kurang gizi.”

Sampai disini, saya merasa kurang sreg dengan penjelasannya. Pertama, dia tadi ngomong tidak sedang minta bantuan, tetapi kemudian dikatakan badan internasional butuh dana dari kartu kredit public setiap hari Rp. 5.000,-. Kedua, kalau tiap tiga menit seorang anak meninggal, betapa Indonesia akan minim penduduk dan tidak terjadi ledakan.

Mari berhitung. Bila tiap tiga menit, seorang anak meninggal, berarti tiap hari ada 60 menit / 3 menit x 24 jam = 480 anak meninggal. Tiap bulan 14.400 orang, tiap tahun 172.800 anak meninggal. Tentunya dengan perhitungan seperti itu laju penduduk Indonesia yang per tahun 2012 sebesar  257.516.167 jiwa, tidak akan bertumbuh sepesat itu.

Tetapi ternyata saya lupa menghitung angka kelahiran (Natalitas). Menurut info Menteri Kependudukan (2012), setiap harinya lahir 10.000 anak Indonesia. TIdak adanya program KB turut memperbesar nilai kelahiran tersebut. Jadi walalupun terdapat penghambat mortalitas, ternyata laju penduduk tetap surplus.

Betapa suburnya alam dan orang Indonesia J

Saat ini jumlah penduduk dunia sudah sampai angka 7 milyar. Negara terpadat dan terbesar penduduknya masih diraih CIna, India, dan Amerika yang belum tergoyahkan sejak era 80 an. Indonesia pun belum tergoyahkan sebagai penghasil sumber daya manusia terbesar. Berkuantitas, tapi belum tentu berkualitas.

Kita semua sudah tahu penyelesaiannya, tapi tetap belum teraplikasikan. Sampai kapan kita menjadi buih di lautan?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cluster Keluarga


Tanpa didasari orang mencari pasangan yang ada dalam jangkauannya. Terutama lokasi. jadi tidak heran bila anak Ibu A desa B, kawin dengan anak ibu C desa D yg letaknya tidak jauh dari Desa B. Setelah kawin si istri biasanya ikut suaminya tinggal di rumah mertua. Kejadian tersebut akan berulang sampai seluruh anak dalam keluarga tersebut menikah.

Akhirnya dalam rumah yg sederhana, yang semula hanya dihuni keluarga inti yaitu bapak, ibu dan beberapa anak, berubah menjadi rumah dengan beberapa keluarga. Setelah orang tua meninggal, rumah biasanya diwariskan ke anak anaknya. Bisa dijual kemudian uangnya dibagi. Atau tanah dibagi dibangun rumah masing masing. Atau rumah yang disekat dan dibagi.

Tetangga sebelah rumah memilih untuk membagi tanah ke anak anaknya. Jadilah dulu tanah dengan luas 1000 m2 satu bangunan 500 m2 berganti menjadi tiga bangunan 300 m2. Atau tetangga di pojokan jalan membagi rumah untuk ketiga anaknya. Keluarga anak pertama mendapat bagian rumah dengan pintu menghadap ke barat. Keluarga kedua pintu ke selatan. Keluarga tiga pintu ke utara.

image

Konsep ini yang saya namai Cluster Keluarga. Fenomena Dimana anak berkeluarga, dengan alasan apapun, tetap tinggal di rumah orang tua dan mendapat pembagian ruang dalam rumah. Rumah dapat hanya sekedar terbagi dalam sekat. Atau dirubuhkan dengan dibangun rumah rumah baru diatasnya. Jumlah lebih banyak dengan ukuran lebih kecil.

Fenomena ini meruak dengan keterbatasan lahan untuk pertumbuhan penduduk meningkat. Selain itu walau pertumbuhan ekonomi diatas 6%, hal ini tidak menjangkau masyarakat kecil. Positifnya, masyarakat indonesia adalah tipe family person. Kumpul gak apa apa asal makan. Haha.

Pola cluster keluarga ini menghemat lahan secara kuantitas. Tetapi kualitas hidup dipertanyakan. Rumah yang biasanya diisi hanya 4 orang dapat berkembang menjadi 4 keluarga dengan masing masing minimum 3 orang sehingga total 12 orang. Selama air dan listrik masih mencukupi tidak masalah. Tetapi bagaimana dengan kakus, sampah, udara bersih, dll

Fenomena di indonesia tsb patut dicermati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment