Natal dan Mortal


Beberapa waktu lalu, saat pulang kerja, saya mampir ke salah satu gedung perkantoran sekedar untuk melihat keramaian yang ada. Saat hendak menuju salah satu stand pakaian, saya dihampiri seorang pemuda berkacamata.

“Maaf, mbak. Saya boleh minta waktunya beberapa saat? Saya tidak sedang minta bantuan”.

Paling juga nawarin asuransi atau kartu kredit nih.

“Silahkan, Mas.”

“Mbak pernah dengar XXX (dia menyebutkan salah satu lembaga internasional dibawah naungan PBB)?”

“Pernah, Mas.”

Singkat kata, dia menjelaskan tentang bahwa badan internasional itu khawatir tentang kesehatan anak-anak Indonesia di pedalaman. Bahwa anak Indonesia kurang mendapatkan akses kesehatan, baik dokter, obat-obatan, informasi tentang gizi, dan gaya hidup sehat. Badan Internasional tersebut intens membantu anak-anak tersebut, tetapi membutuhkan dana yang didapatkan dari public.

“Tahu nggak, mbak. Tidak terasa saya sudah menerangkan kepada Mbak, sekitar 3 menit. Nah selama waktu tersebut sudah ada satu anak Indonesia meninggal di pedalaman karena kurang gizi.”

Sampai disini, saya merasa kurang sreg dengan penjelasannya. Pertama, dia tadi ngomong tidak sedang minta bantuan, tetapi kemudian dikatakan badan internasional butuh dana dari kartu kredit public setiap hari Rp. 5.000,-. Kedua, kalau tiap tiga menit seorang anak meninggal, betapa Indonesia akan minim penduduk dan tidak terjadi ledakan.

Mari berhitung. Bila tiap tiga menit, seorang anak meninggal, berarti tiap hari ada 60 menit / 3 menit x 24 jam = 480 anak meninggal. Tiap bulan 14.400 orang, tiap tahun 172.800 anak meninggal. Tentunya dengan perhitungan seperti itu laju penduduk Indonesia yang per tahun 2012 sebesar  257.516.167 jiwa, tidak akan bertumbuh sepesat itu.

Tetapi ternyata saya lupa menghitung angka kelahiran (Natalitas). Menurut info Menteri Kependudukan (2012), setiap harinya lahir 10.000 anak Indonesia. TIdak adanya program KB turut memperbesar nilai kelahiran tersebut. Jadi walalupun terdapat penghambat mortalitas, ternyata laju penduduk tetap surplus.

Betapa suburnya alam dan orang Indonesia J

Saat ini jumlah penduduk dunia sudah sampai angka 7 milyar. Negara terpadat dan terbesar penduduknya masih diraih CIna, India, dan Amerika yang belum tergoyahkan sejak era 80 an. Indonesia pun belum tergoyahkan sebagai penghasil sumber daya manusia terbesar. Berkuantitas, tapi belum tentu berkualitas.

Kita semua sudah tahu penyelesaiannya, tapi tetap belum teraplikasikan. Sampai kapan kita menjadi buih di lautan?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cluster Keluarga


Tanpa didasari orang mencari pasangan yang ada dalam jangkauannya. Terutama lokasi. jadi tidak heran bila anak Ibu A desa B, kawin dengan anak ibu C desa D yg letaknya tidak jauh dari Desa B. Setelah kawin si istri biasanya ikut suaminya tinggal di rumah mertua. Kejadian tersebut akan berulang sampai seluruh anak dalam keluarga tersebut menikah.

Akhirnya dalam rumah yg sederhana, yang semula hanya dihuni keluarga inti yaitu bapak, ibu dan beberapa anak, berubah menjadi rumah dengan beberapa keluarga. Setelah orang tua meninggal, rumah biasanya diwariskan ke anak anaknya. Bisa dijual kemudian uangnya dibagi. Atau tanah dibagi dibangun rumah masing masing. Atau rumah yang disekat dan dibagi.

Tetangga sebelah rumah memilih untuk membagi tanah ke anak anaknya. Jadilah dulu tanah dengan luas 1000 m2 satu bangunan 500 m2 berganti menjadi tiga bangunan 300 m2. Atau tetangga di pojokan jalan membagi rumah untuk ketiga anaknya. Keluarga anak pertama mendapat bagian rumah dengan pintu menghadap ke barat. Keluarga kedua pintu ke selatan. Keluarga tiga pintu ke utara.

image

Konsep ini yang saya namai Cluster Keluarga. Fenomena Dimana anak berkeluarga, dengan alasan apapun, tetap tinggal di rumah orang tua dan mendapat pembagian ruang dalam rumah. Rumah dapat hanya sekedar terbagi dalam sekat. Atau dirubuhkan dengan dibangun rumah rumah baru diatasnya. Jumlah lebih banyak dengan ukuran lebih kecil.

Fenomena ini meruak dengan keterbatasan lahan untuk pertumbuhan penduduk meningkat. Selain itu walau pertumbuhan ekonomi diatas 6%, hal ini tidak menjangkau masyarakat kecil. Positifnya, masyarakat indonesia adalah tipe family person. Kumpul gak apa apa asal makan. Haha.

Pola cluster keluarga ini menghemat lahan secara kuantitas. Tetapi kualitas hidup dipertanyakan. Rumah yang biasanya diisi hanya 4 orang dapat berkembang menjadi 4 keluarga dengan masing masing minimum 3 orang sehingga total 12 orang. Selama air dan listrik masih mencukupi tidak masalah. Tetapi bagaimana dengan kakus, sampah, udara bersih, dll

Fenomena di indonesia tsb patut dicermati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Quantitative Easing: Solusi Baru Krisis Eropa?


Eropa berusaha melawan krisis hutang dengan hutang.Empat negara terkuat Eropa yaitu Italia, Jerman, Perancis dan Spanyol baru mengadakan pertemuan untuk menerbitkan obligasi bersama. Mengingat Prancis dan Spanyol telah diturunkan peringkat obligasi nya dan Italia akan menyusul, mereka menggandeng Jerman yang relatif lebih kuat ekonominya. Saat ini semua negara di Eropa memang bergantung kepada Jerman sebagai satu satunya harapan penyelamat Euro. Dengan penerbitan obligasi bersama Jerman atau negara lain di dunia dapat membantu dana dengan membeli obligasi tersebut.

Angela Merkel, kanselir Jerman, tidak berpendapat demikian. Jerman tidak sekuat kelihatannya. Dan mempunyai aturan tersendiri untuk membantu negara eropa lainnya dalam hal pembelian obligasi bersama. Saat ini Jerman pun mulai terkena imbas krisis karena negara euro mulai menghemat dan tidak membeli produk Jerman.

Amerika serikat menghadapi krisis tahun 2007 dengan mencetak dolar amerika lebih banyak untuk membiayai defisit. Kebijakan ini dinamakan Quantitative Easing. Yunani pun bila memilih alternatif untuk keluar dari Euro dan menghadapi krisis sendirian akan memilih opsi QE. Tapi malang mata uang yunani tidak sekuat dolar amerika dan jauh lebih rendah kursnya dibanding euro.

Saya sendiri juga penasaran. Apakah sesederhana itu mencetak uang demi membayar hutang. Logika sederhana dalam rupiah. Kita mencetak rupiah banyak untuk bayar hutang. Rupiah tersebut ditukar dengan dolar karena bayar hutang pasti dengan dolar. Mengingat rupiah yang banyak tersebut dan dolar yang terbatas jumlahnya, nilai dolar akan menguat. Sehingga berapapun rupiah yang dibuat nilai dolar akan terus meningkat. Seperti lingkaran setan.

Dalam skala makro, jumlah rupiah yang meningkat akan menyebabkan inflasi. Selain itu nilai dolar yang meningkat merugikan untuk impor barang yang masih dianggap perlu untuk kebutuhan hidup rakyat banyak termasuk minyak. Pengaruhnya bisa sistemik. Termasuk pasar modal yang anjlok dengan harga saham yang berjatuhan. Padahal pasar modal yang kuat adalah cerminan perekonomian negara yang prima.

Jadi bagaimana menjawab krisis hutang negara eropa? Bila ingin nekat ya ngemplang saja. Berani nggak?

Posted in My Economic Thinking | Tagged , | Leave a comment

Pelit atau Mahal?


 

 

 

 

 

 

Beberapa minggu ini beberapa baju saya mulai robek. Sepertinya badan saya telah mulai membesar di beberapa bagian. Dan payahnya bagian yang robek tersebut cukup sulit untuk dijahit. Alhasil saya harus membeli beberapa baju untuk menggantinya.

Setelah pulang kerja saya masuk ke mal yang cukup besar di Semarang. Dan saya mulai terkaget kaget melihat label harga di kemeja kemeja kerja. Minimum harga adalah seratus ribu rupiah. Itu pun karena dipotong diskon dan bukan dari bahan yang terbaik.

Batal beli baju (karena shock liat label harga) saya ke salon. Ceritanya mau potong rambut nih. Tapi lagi lagi setelah lihat papan harga yang dipajang di depan salon, saya mundur lagi. Ayolah ini cuma sekadar potong rambut. Walaupun saya juga menghargai ide dari stylist, tapi 45 ribu untuk just cut your hair it’s ridiculous for me.

Di sisi lain, di depan toko buku Gramedia, ada obral buku. Mulai lima ribu. Saya kembali terhenyak. Tiga minggu yang lalu saya beli buku hasil pemikiran cukup serius dari kurang lebih 12 penulis. Cukup memenuhi kadar inteligensia yang tinggi. Saat saya beli harga 78 ribu. Sekarang cukup dihargai 10 ribu saja.

Bukannya saya menyesal telah beli dengan harga mahal (walaupun diakui ada juga rasa itu). Tapi ini tentang intelektual seseorang.pikiran seseorang yang mungkin menghabiskan waktu bertahun tahun untuk berpikir, menuangkannya dalam bentuk tulisan untuk menyebarkan pengetahuan ke masyarakat. Dan harganya cuma sepuluh ribu rupiah!

Saya tidak mau berpendapat atau menghakimi orang. Buat saya semua orang punya pilihan. Dan kebetulan pilihan itu mendukung gaya hidup hedonisme dibanding intelektual. Konsumtif dibanding produktif. Saya tahu persis harga pokok produksi untuk sepotong baju itu hanya seperempat dari harga yang dipajang. Kalaupun ada diskon 50% ya si produsen tetap untung 100%. Kok ya tega teganya ambil untung gede banget.

Tapi ya sudahlah. Sekali lagi itu masalah pilihan. Bahkan saya juga rela untuk dibilang pelit oleh teman saat saya bertekat untuk menjahit baju sendiri karena sebal lihat label harga yang mahal tadi. He he..

Posted in My Economic Thinking | Leave a comment

Aplikasi Konsep Merkozy


image

Di posting sebelumnya, saya pernah membahas konsep dari kanselir jerman dan presiden perancis yaitu konsep Merkozy. Dimana negara harus hidup sesuai kemampuannya. Bila uang yang ada memang hanya segitu ya tidak usah memaksa diri untuk  meminjam uang. Bila perlu hemat dan menahan diri untuk tidak belanja yang tidak perlu.

Barusan saya ketahuan tidak mempunyai pinjaman pegawai oleh atasan saya. Saya pun di kuliahi panjang lebar. Bahwa pegawai itu andalannya hutang. Harus dimanfaatkan apalagi bunganya rendah. Saya senyum saja karena belum merasa perlu ngutang. Kartu kredit saja barusan punya dan saya merasa tidak ada bedanya dengan pakai kartu debit. Sama sama gesek.

Barusan juga ada debitur yang melunasi hutangnya. Dia juga dikuliahi saudaranya tapi topiknya berbeda bahwa ngutang itu tidak baik. Riba. Tidak berkah.

Tak akan habis pembahasan mengenai hutang. Ada yang positif ada yang negatif.  Positif bila bisa mengangkat harkat manusia. Negatif bila menyengsarakan manusia bahkan dalam konteks lebih luas dapat membangkrutkan negara dan menghancurkan perekonomian. Mana yang dipilih tergantung anda yang meyakini hidup. Berdiri diatas kaki sendiri atau meminta bantuan pihak lain.

Posted in My Economic Thinking, My World | Tagged , | Leave a comment

Konsep Merkozy


Eropa dilanda krisis. Sebenarnya agak aneh mengingat secara historis negara kuat selain di benua amerika adalah di eropa. Kuat dalam arti perekonomian, kesejahteraan, keamanan, kemakmuran, sehingga menjadikan mereka penguasa dunia.

Ternyata dibalik itu semua hutang para pembesar cukup besar. Yunani kabarnya net hutang 200 kali lebih besar daripada penghasilan. Spanyol dan Prancis idem dito.

Situasi ini diperburuk dengan terikat nya  negara negara eropa lain yang sebenarnya tidak kesulitan keuangan seperti jerman. dalam suatu wadah kerjasama yaitu Euro.

Angela Merkel, kanselir Jerman dan Nikolaz Sarkozy presiden Prancis pada saat itu telah merumuskan konsep. Agar seluruh eropa melakukan pengetatan ikat pinggang, terutama negara yang menderita krisis. Belajar untuk hidup dengan kemampuan sendiri alias tidak ngutang. Konsep ini dinamakan konsep Merkozy.

Apa daya rakyat tidak mau dipersalahkan karena ketidak mampuan para politikus mengatur negaranya.mereka sudah membayar pajak dengan baik. Dengan kata lain mereka tidak mau gajinya dipotong walau dengan alasan menyelamatkan negara dari kebangkrutan

Alhasil situasi tambah kacau balau dengan adanya presiden prancis yang baru , Francois Hollande, yang juga menolak saran penghematan. Jerman sebagai negara kuat perekonomian di eropa pun menolak pembelian obligasi negara negara nyaris bangkrut tersebut.untuk apa saya ikut bertanggung jawab untuk negara negara yang tidak mau menyelamatkan dirinya sendiri.

Alhasil perekonomian dunia ikut tergoncang. Pasarsaham mei turut melorot drastis. Harga emas juga ikut menurun.peringkat hutang negara eropa juga mei menurun.

Apakah drama ini juga akan menjadi krisis ekonomi setelah tahun 2007? Kita lihat saja nanti.

Posted in My Economic Thinking, Uncategorized | Leave a comment

Klan Bubur Ayam, Mie Ayam dan Ojek


Hal yang saya senangi saat bersepeda pagi adalah menikmati alam dan manusia. Suasana pagi jelas menyenangkan: sejuk, damai, dan tenang. Sementara manusia pagi juga menarik, yaitu Tukang Bubur, dan Pedagang Pasar.

Saat sudah agak berkeringat bersepeda, saya sering mampir ke pasar. Membeli gendar pecel. Si ibu penjual kebetulan tetangga saya tetapi beda RT. Enak juga gendar pecel buatan si ibu. Sambil dia membuat, kami pun sibuk ngobrol. Sampai pada suatu ketika meluncurlah pengakuan darinya, bahwa gerobak yang biasa dia gunakan untuk mengangkut bahan jualan dari rumahnya pernah dipinjamkan ke tetangga untuk mengangkut mayat anak si tetangga. Waduh, setelah itu saya jarang balik ke ibu penjual ini dan akhirnya gak pernah nongol lagi.

Lain lagi dengan taktik mbak penjual pisang. Pisang ambon yang dijual relatif bagus, tetapi ditaruh di kranjang bambu yang bawahnya disumpal dengan sabut kelapa. Alasannya biar pisangnya keliatan. Lalu terjadi tawar menawar yang tricky dengan saya:

Saya: “Mbak, pisangnya dijual berapa?”

Mbak: “Dua belas rebu, Non”

Saya: “Mahal amat, sepuluh rebu aja dong”

Mbak:”Nggak dapet, Non. Ini aja tadi ditawar sebelas rebu gak dikasih”.

Perhatikan, dia mulai menggiring saya ke harga sebelas ribu. Karena saya pikir harga tersebut adalah harga damai antara sepuluh dan dua belas ribu, saya tidak ngotot untuk mempertahankan harga sepuluh ribu. Apalagi ego saya sebagai pembeli, masak sebelas ribu aja gak dikasih.

Saya: “ya udah, sebelas ribu aja nih. Sama saya dikasih dong”.

Pisang pun berpindah tangan.

Lain hari, saat gowes ketemu tukang bubur, karena pengen langsung saya stop. Beli tiga bungkus, ditambah chit chat pagi hari. Iseng-iseng saya nanya area jualannya dimana saja, apa nyampe rumah saya? Si Bapak menjelaskan bahwa adiknya yang berjualan bubur ayam di area rumah saya. Nah, ternyata ada adik iparnya  juga jualan mie ayam sekaligus tukang ojek yang biasa ngantar saya pulang kantor. Kakak iparnya juga tukang ojek yang juga saya kenal. Nah mantu si kakak ipar ini juga jualan nasi goreng dan mi goreng jawa yang sering saya beli.

Weleh, hebat juga nih sekeluarga jadi klan pedagang alias pengusaha. Ternyata orang cari rezeki halal itu dari mana saja. Jauh lebih bagus daripada banyak di sekitar kita yang penganggur tetapi ogah berusaha dan merasa punya harga diri terlalu tinggi untuk bekerja keras.

Saya pulang ke rumah dengan rasa syukur dan motivasi yang tinggi. Bila tipikal orang Indonesia adalah pekerja keras seperti klan tukang Bubur Ayam, Mie Ayam, dan Ojek, tentu saya termasuk didalamnya kan?

 

 

Posted in Parodi | Leave a comment